Stalin dan Revoulsi Rusia

Pria kelahiran 21 desembe1879 ini memiliki nama lengkap Joseph Vissarionovic Stalin(Djugashvili). Lahir di kota Gori, Provinsi Tiflis.[2] Stalin dilahirkan dari kalangan petani, Ayahnya, Vissarion Ivanovic Djugashvili, merupakan seorang buruh tani berkebangsaan Georgia, sedangkan Ibunya lahir dari seorang buruh tani bernama Geladze di desa Bambareuli.

Stalin juga di besarkan oleh seorang wanita yang taat agama dan selalu memimpikan anakanya kelak akan menjadi seorang pendeta. Memang, riwayat pendidikan Stalin pada kala itu juga berada pada lingkungan yang religius. Stalin bersekolah di sekolah Kependetaan di Gori pada tahun 1888. Kalau ibunya seorang yang taat agama, tidak demikian halnya dengan Ayahnya yang seorang pemabuk dan kerap melakukan tindakan kekerasan pada keluarga. Hal itu ia ingat sampai ia dewasa.

Masa kecil Stalin tidak hanya suram pada saat dirumah, di sekolah pun ia meraskan hal yang sama. Akibat kemiskinan yang ia alami, ia sering dihina oleh teman-temannya karena bajunya yang jelek. Namun, Tuhan Maha Adil, biarpun ia dilahirkan dari kalangan orang miskin, ternyata tidak mempengaruhi anugrah Tuhan kepadanya yakni kejeniusan. Karena kejeniusannya itu, Stalin mendapatkan beasiswa di Seminari Teologi Ortodoks Tbisili.

Dalam perkembangan pendidikannya, Stalin justru semakin tidak berminat belajar agama. Justru sebaliknya, Stalin lebih tetarik pada bacaan-bacaan propaganda terlarang kaum revolusioner social. Kala itu Marxisme secara luas tersebar kesuluruh penjuru Rusia bersamaan dengan perkembangan kapitalisme industry dan pertumbuhan kelas pekerja.[3]

Pada saat itu juga muncul Liga Pejuangan Kelas Pekerja St. Petersburg yang didirikan oleh Lenin.[4] Liga tersebut memberikan dorongan kuat terhadap perkembangan gerakan Sosial-Demokratik keseluruh negeri. Gelombang gerakan buruh menyapu hingga Transkaukasia, dimana kapitalisme telah mendapatkan tempat bepijak, beban tekanan nasional dan kolonial sudah semakin berat. Pada seperempat bagian terkahir dari abad kesembilan belas, kapitalisme mulai berkembang dengan pesat di Transkaukasia, dengan kejam mengeksploitasi pekerja, buruh tani, dan menjadikan penindasan nasional dan kolonial semakin parah.[5]

Propaganda yang dijalankan oleh kaum Marxis di mulai dari Transkaukasia dan khusunya di Seminari Teologi Ortodoks Tblisi merupakan pusat di mana pikiran-pikiran senua jenis penganut kebebasan menyebar  di antara pemuda, mulai dari para nasionalis Narodisme hingga para internasionalis Marxisme. Hal itu diselaraskan dengan kelompok-kelompok rahasia dari berbagai macam golongan orang.

Pada tahun 1896 dan 1897, Stalin memimpin lingkaran studi kaum Marxis di Seminari itu, dan pada bulan agustus1898 secara formal dia direkrut sebagai anggota organisasi Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia di Tiflis[6] dan agenda tersebut di jalankan secara rahasia. Stalin semakin larut dalam pemikiran Marxis dan kian menjadi atheis. Stalin sadar gerak geriknya tersebut telah di ketahui oleh pihak seminari dan dampak yang akan ia terima ialah dikeluarkan dari sekolah itu. Stalin pun akhirnya di vonis, setelah tak kurang dari beberapa kali mendapat hukuman, akhirnya ia di pecat.[7]

Dengan dikeluarkannya ia dari sekolah tersebut bukan berarti membautnya jerah atau kapok untuk meneruskan niatnya, justru setelah ia keluar malah menjadi pemantik buat Stalin untuk menjadi seorang Marxis sejati. Stalin berusaha keras untuk memperdalam dan memantapkan pengetahuannya tentang Marxis. Karya-karya Marx dan Engels dilahap dengan baik dan tak ketinggalan karya Lenin juga di baca.

Stalin melakukan  perjuangannya melalui berbagai hal, mulai dari menulis selebaran-selebaran dan mengatur permogokan. Apalagi setelah kemuculan Iskra(salah satu karya lenin), Stalin benar-benar menyamakan dirinya dengan kebijakan yang ada di dalam karya itu. Stalin menganggap bahwa Lenin merupakan seorang tokoh yang menjadi peletak dasar Partai Maxis yang sesungguhnya, seorang pemimpin sejati dan sekaligus guru,khususnya bagi Stalin.

Selama menjadi aktivis Partai Buruh, Stalin sangat seering turun ke jalan memimpin pemogokan-pemogokan buruh. Ia pun menjadi sasaran penangkapan polisi rahasia Tsar(Raja Rusia). Akan tetapi, ia juga sering kali berhasil meloloskan diri. Selama pengasingan pun, Stalin tidak pernah memutuskan hubungan dengan kegiatan revolusiober seraya rencana Lenin untuk membangun Partai Bolshevic. Pada saat gelombang gerakan revolusioner (Marxis) memperoleh kemenangn atas “Ekonomisme”, para oportinis lama yang dihantam oleh partai, digantikan oleh jenis oportunis baru, kelompok Menshevic. Maka di mulailah peperangan baru antara kelompok Bolshevic dengan Menshevic.

Stalin secara terus-menerus bekerja sesuai dengan arahan Lenin untuk membela dan mengembangkan pikiran Bolshevic di depan masa dan mengorganisasi perjuangan  untuk melangsungkan pertemuan Kongres Partai Ketiga. Stalin lah yang meminpin kelompok Bolshevic Kaukasia dalam pertempuran politis dan ideologis melawan kelompok Menshevic, kelompok Sosial-Revolusioner, kelompok nasionalis dan anarkais pada masa awal Revolusi Rusia. Dalam petempuran itu, senjata paling efektif kelompok Bolshevic adalah literature partai mereka; dan praktid semua penerbitan Bolshevic yang muncul di Kaukasus mendapatkan naskah aslinya atas usaha inisitif Stalin, dimana kaum Bolshevic harus berterima ksih pada Stalin karena atsa usahanya maka produksi buku-buku illegal, surat kabar, pemflet dn selebaran mencapai ukuran yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejrah pendukung Raja Rusia.[8]

Suatu peran yang meyakinkan dalam mempertahankan prinsip-prinsip Bolshevisme di Kaukasia dan dalam propaganda-propaganda dan pengembangan pikiran-pikiran Lenin dimainkan oleh surat kabar Proletariat Brdzola, yang dipimpin Stalin. Banyak artikel yang ditulis oleh Stalin dan isinya merupakan symbol dari tokoh controversial yang berbalat, penulis dan teoritikus Partai yang ulung, pemimpin proletariat dan pengikut setia Lenin. Ia juga menulis sejumlah masalah teoritis dan politik serta pikiran idologis yang keliru dari para pengikut anti-Bolshevic termasuk juga sifat para oportunis dan pengkhianat yang mereka miliki.

Stalin juga merupakan pengikut sekaligus teman Lenin yang paling setia dan secara konsisten memperjuangkan pikiran-pikiran Lenin. Stalin memainkan peranan penting dalam mempermalukan ideology Menshevisme di Kaukasia dan dalam mempertahankan prinsip-prinsip ideologis, organisatoris dan taktik partai Marxis. Karya-karya Stalin pada masa itu merupakan contoh kemantapan dalam pembelaan terhadap pandangan-pandangan Lenin dan tekenal dengan penyusupan teoritis dan perlawanan tak kenal kompromi pada oportunis.[9]

Dalam pertempuran melawan bermacm-macam lawan dari Partai Bolshevic dan kelas pekerja, secara kosisten Stalin membela dan secara panjang lebar menguraikan teori revolusi Lenin dan rencana takstisnya. Manfaat tertinnggi dari rencana taktis Lenin adalah bahwa rencana itu dengan sangat hebat diterapkan dalam realitas situasi di Rusia, bahwa rencana itu menimbulkan rapat umum massa rakyat sangat banyak untuk melakukan perlawanan. Rencana itu juga mengilhami rasa pecaya diri pada rakyat untuk  meraih kemenangan  dan mempercepat revolusi.[10]

Rencana itu di mulai dengan tebitnya selebaran-selebaran yang di buat Stalin pada tahun 1905 sebagai upaya propaganda pikiran kaum Bolshevic serta pemogokan umum pada tahun yang sama. Hal itu memperlihatkan kekuatan dan tenaga gerakan kelompok proletariat dan memaksa raja yang sedang menuju kematiannya untuk mengeluarkan Manifesto 17 Oktober 1905. Manifesto tersebut mengumbar janji untuk memberikan kemerdekaan pada rakyat, namun, janji itu hanya isapan jempol belaka yang dilakukan demi mengamankan posisi raja. Stalin tahu akan hal tersebut, bahwa manifesto tersebut adalah sebuah jebakan. Hal tersebut membuat perlawanan terhadap pemerintah lebih kuat dan serius lagi, di tandai dengan perlawan yang sebelumnya hanya menggunakan media masa, menjadi menggunakan senjata dalam skala nasional.

Demi mendapatkan senjata untuk kaum Bolshevic pimpinan Lenin, ia pimpin kelompok-kelompok gerilya, melemparkan bom, menyerang polisi, merampok bank, kantor pos, dan gudang-gudang senjata. Stalin dituduh membunuh ribuan korban pada terror-teror itu, dan ia tanggapi tuduhan itu dengan berkata bahwa, “ Kau tidak dapat menciptakan revolusi dengan bersikap lemah lembut.”[11]

Pada bulan Desember 1905, Stalin berkunjung ke Tammerfors (Finlandia) untuk menghadiri Konferensi Bolshevic seluruh Rusia yang pertama sebagi delegasi dari kelompok Bolshevic Transkaukasia. Di tempat itulah  Lenin dan Stalin pertama kali bertemu. Stalin bekerja bersama Lenin dalam komite (pembuat draft) politik dari konferensi itu, di mana Stalin tepilih sebagai satu pemimpin terkemuka dari patai. Bersamaan dengan kekalahan pemberontakan bersenjata di bulan Desember, gelombang revolusi secara bertahap mulai surut. Perselisihan kelompok Bolshevic dan Menshevic berkembang lagi pada saat saat diadakan perisapan untuk Kongres Keempat R.S.D.L.P. Muncul unsure-unsur sindat anarkis dan secara khusus melakukan keributan di Tiflis. Stalin terus memimpin perjuangan melawan semua gerakan anti proletariat di Transkaukasia.[12]

Revolusi Rusia terjadi dua kali dengan  kekalahan pada revolusi yang pertama pada tahun 1907. Selang diantara dua revolusi tersebut sepuluh tahun dan selang tersebut di manfaatkan oleh kelompok Bolshevic untuk secara tekun dan tak kena lelah terus bekerja dengan semangat jiwa kepahlawanan dan pengorbanan diri untuk mengorganisasi massa, menumbuhkan semangat revolusioner kepada diri mereka. Dan yang pasti mempersiapkan landasan untuk meraih kemenangan revolusi itu.

Bagi Lenin dan Stalin, masa itu merupakan tahun-tahun perjuangan yang keras untuk memlihara dan mengonsolidasikan Partai Revolusioner bawah tanah, untuk menerapkan kondisi baru bagi barisan kelompok Bolshevic. Masa itu merupakan tahun-tahun yang dipenuhi usaha-usaha sangat sibuk untuk mengatur dan mendidik massa dari kelompok kelas pekerja dan perjuangan gigih melawan kerajaan.


[2] G.F. Alexandrov, Joseph Stalin; A Short Biography, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007 , Hal: 1

[3] Arifin Surya Negara, “10 Kisah Genosida”, Kebengisan Rezim Stalin di Ukraina 1932-1933. Yogyakarta:  Bio Pustaka, 2008 , Hal: 15

[4] Lenin, nama lengkapnya Vladimir Illich Lenin, dan memiliki nama asli Vladimir Ilyich Ulyanov. Nama lenin sendiri diambil dari nama sungai di Siberia yakni Lena. Ia juga seorang revolusioner komunis Rusia, pemimpin partai Bolshevic, perdana menteri pertama Uni Soviet.

[5] Opcit,,,G.F Alexandrov, Hal: 2

[6] Ibid,, Alexandrov, Hal: 4

[7] Opcit,,, Arifin Surya Nugraha, Hal: 16

[8] Opcit,,,G.F Alexandrov, Hal:17

[9] Ibid,, Hal: 19

[10] Ibid,,Hal: 26-27

[11] Opcit,,, Arifn Suyra Nugraha, Hal: 16

[12] Opcit,,G.F Alexandrov, Hal:29-30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s