Mutiara hitam


Memang tidak enak rasanya bila dilahirkan berbeda bahkan amat sangat berbeda dari yang lain(saudara)kandungnya. Ini juga yang dirasakan oleh seorang anak yang bernama Rochim, anak kelima dari enam bersaudara. Lahir pada kelurga yang terbilang sederhana. Ayahnya bernama Gunarto dan ibunya bernama Fatimah. Rochim menjadi ciri khas tersendiri bagi keluarga tersebut, sebuah keluarga yang hidup pada lingkungan yang dikelilingi oleh rumah-rumah pencakar langit. Pada awalnya lingkungan sekitar masih asri dan hijau, namun semenjak industrialisasi melanda kampung tersebut semua berubah. Yang dulunya mengirup udara segar hijaunya alam sekarang menghirup udara kotor dari polusi lingkungan. Disinilah “Si Hitam”, panggilan akrab Rochim dikampungnya. Benar, ia dilahirkan berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Ia dilahirkan dengan ras negroid, sedangkan lima saudaranya yang lain dari ras kaukasoid, bisa dibilang demikian. Dilahirkan berbeda membuat ia minder untuk ikut bergabung dengan saudara-saudaranya yang lain. Walaupun keluarganmya tidak begitu mempermasalahkan begitu juga dengan masyarakat, ya walaupun terkadang disindir-sindir(bergurau=bercanda), namun baginya hal itu adalah sebuah tamparan hebat di wajahnya, apalagi kalau sampai membandingkan dirinya dengan adiknya yakni Ivan. Ivan anak terkahir, sudah jelas ia sedikit lebih dimanja. Selain itu Ivan juga lebih dalam segala bidang bila dibandingkan dengan Rochim “Si Hitam”. Dari segi fisik sampai keahlian, Ivan lebih unggul,apalagi soal wanita, Ivan pakarnya, inilah yang membuat Rochim merasa semua gurauan menjadi ejekan karena semua kenyataan. Rochim hanya bisa bersabar, didikan oleh orang tuanya ia pegang erat-erat, apalagi soal ibadah. Hal ini yang juga membedakan Ivan dengan Rochim, Rochim memang lemah dalam hal apapun kecuali soal ibadah. Lingkuangan dan pergaulaun menentukan itu semua, Ivan yang lebih senang untuk main-main walaupun positif(terkadang)namun ia melupakan hal utama yakni ibadah. Begitupun dengan saudara-saudaranya yang lain, kecuali Damar, anak keempat. Ia memiliki karakter yang sama dengan Rochim dalam hal ibadah dan juga ia jauh lebih baik ketimbang Ivan(dalam keahlian), makanya Damar dengan jerih payahnya mampu untuk bersekolah keluar negeri. Sedangkan ketiga saudaranya yang lain juga memilki kehalian masing-masing yang bisa digunakan untuk membanggakan dirinya dan keluarga. Hanya Rochim yang tidak bisa apa-apa. Di saat ia memikirkan itu semua terlintaslah dibenaknya bahwa “Tuhan itu tidak adil, Tuhan itu berat sebelah, Tuhan itu pilih kasih, ibadah yang aku jalani selama ini sia-sia”tuuturnya dalam hatinya. Ia mulai berfikir untuk tidak melakukan ibadah pun bisa sukses. Karena melihat para saudaranya yang lain kecuali Damar, tanpa dekat dengan Tuhan, hanya melakukan kerja saja bisa sukses. Inilah fikiran sempit yang dialami Rochim, ia tidak lebih dewasa untuk memaknai itu semua. Sampai akhirnya ia penuh tekanan dan sering merenung, sampai berpengaruh pada sekolahnya. Ia tidak lulus dan akhirnya menganggur. Selama itu ia tidak mau lagi untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, dan bahkan ia tidak mau untuk bekerja ataupun beruasaha. Yang ia lakukan hanya merenung dan merenung setiap saat. Tentu kedua orang tuanya melihat anaknya seperti itu tidak tega. Dengan nasihat dan dorongan kuat dari kedau orang tuanya serta saudaranya dan juga teman-temannya membuat ia kembali bangkit. Dan ia muali berfikir jernih lagi. “Kalau dulu saya dekat dengan Tuhan saya masih bisa untuk membahagiakan orang tua saya, sekarang saya jauh dari Tuhan malah membuat orang tua saya khawatir” tuturnya. Ia bermunajat lagi seperti layaknya dulu dan akhirnya Tuhan memberikan jawaban atas permasalahannya selama ini. Setelah itu, targtenya untuk kuliah tercapai, impiannya untuk bekerja pun tercapai, bahkan ia mendapatkan seorang pendamping yang luar biasa. Kini, Rochim telah menjadi orang besar, sukses, dan kaya raya, namun tetap sederhana. Satu hal yang menjadi kunci ia sukses, yakni perkataan Ibunya sewaktu ia terjerebak kedadalm fikiran kosong yang hampa, “Kamu itu emang beda, namun kamu mampu membuat Ibu dab Bapak bahagia, tanpa Uang,asal kamu tidak jauh dari Tuhan” tutur ibunya. Kata-kaat itulah yang menjadi angin segar bagi Rochim untuk bangkit dab berusaha sebisa mungkin dan apa danya serta tidak memaksakan kehendak, yang jelas ia percaya akan kehendak Tuhan bahwa itulah yang terbaik dan akhirnya ia menuai hasil yang tak disangaka-sangka. Rochim “Si Hitam” kini menjadi Rochim “Si Mutiara Hitam”. Menjadi kebanggaan keluarga dan kampung halamannya. Bahkan ia menghajikan seluruh keluaraganya. Keajaiban ini juga tidak luput dari dukungan sang istri yang selalu mensupportnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s