Sosialisme dan Islam: Difusi Dua Alam


Pada dekade abad ke-18, khususnya di Parancis terjadi sebuah peristiwa yang menjadi titik awal berkembangnya kapitalisme dan berdampak pada timbulnya sosialisme. Revolusi Perancis yang di peloporo oleh golongan pemilik modal yang mendobrak kekuasaan negara absolut yang di pegang oleh kaum bangsawan dan pihak gereja. Agama dijadikan legitimasi demi melanggengkan kekuasaan. Pada saat itu Eropa pada fase abad gelap atau dikenal dengan Dark Age.

Segala sendi kehidupan didominasi oleh kalangan tertentu hingga menimbulkan kesenjangan sosial yang bila diingat akan membuat bulu kudu kita merinding layaknya melihat setan. Intoleransi pada saat itu begitu mencolok, orang-orang protestan tidak dapat menghirup uidara kebebasan sebagai warga negara. Seperti pada kasus yang terjadi pada keluarga  protestan yang tidak dapat hidup dengan aman lantaran berbeda agama.  Hidup dikalangan mayoritas Katolik dan pemerintahan katolik harus mengorbankan keluarga minoritas protestan tersebut.

Kehidupan seperti itu tentu tidak akan selamanya hidup, terbukti dengan adanya revolusi Perancis. Kini golongan pemilik modallah yang memegang kekuasaan. Muncul kapitalisme, tentu juga muncul liberalisme. Para pemilik modal mulai menunjukkan taringnya, mereka mendirikan industri-industri dan perdagangan bebas yang justru menimbulkan kesenjangan baru yakni antara pemilik modal dengan pekerja yang dalam perkembangannya menimbulkan atau memicu muncullnya karakter revolusioner pada pihak yang tertindas. Dalam karya tersohor bagi pemeluk Marxis yakni Das Kapital menyebutkan bahwa untuk memperoleh keuntungan para kapitalis mengeksploitasi dan menjerumuskan pekerja dalam perbudakan.(Eko Supriyadi: 2003; 8)

Sosialisme akhirnya merambah ke negara-negara dunia ketiga. Disana sosialisme diterima dengan baik karena kondisi dan situasi yang memang mendukung dalam artian negara dunia ketiga mayoritas merupakan korban imperialisme negara-negara maju(kapitalis). Di negara dunia ketiga sosialisme hadir dalam bentuk gerakan. Bentuk sosialisme yang dipilih sebagai alternatif gerakan sosialisme ialah ide-ide Marxis. Sosialisme akhirnya berdifusi dengan doktrin lokal, misal nasionalisme maupun agama. Terbukti, pada Indonesia, pada era Soekarno muncul NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis). Di berbagai negara Asia lain Sosialisme berakulturasi dengan doktrin lokal.

Tidak hanya di negara-negara Asia, bahkan di Arab sekalipun yang merupakan negara muslim, sosialisme berkombinasi dengan Islam. Islam hadir dengan wajah baru yang lebih inklusif dan berfokus dalam pergerakan. Pergerakan dari kalangan yang biasa disebut wong cilik menjadi ciri khas tersendiri di dunia Islam, khususnya negara dunia ketiga yang nota bene negara-negara bekas koloni. Sosialisme Islam hadir untuk menolak adanya kapitalisme dan liberalisme. Karena adanya hal itu dalam faktanya menyebabkan kesengsaraan.

Walaupun memang, secara hakiki Islam sendiri juga menolak kapitalisme dan liberalisme, hanya saja pada perkembangannya ada sisipan dengan sosialisme, maka muncullah Sosialisme Islam. Tokoh yang terkenal memperkenalkan sisi baru Islam ini ialah Ali Syari’ati. Berasal dari Iran. Ia melihat adanya kesamaan visi pada sosialisme dan Islam yaitu menentang adanya ketertindasan. Ia sedikit terpengaruh oleh tokoh besar sosialisme yakni Karl Marx. Hanya saja Karl Marx menolak adanya eksistensi Tuhan, ia menolak agama. Agama bagi dirinya (Karl Marx) sebagai candu.

Pada saat itu, di Iran, kepemimpinan Syah Pahlevi begitu pro barat. Disinilah Ali Syari’ati melihat bahwa kepeminpinan syah sudah tidak sesuai lagi dengan ajaran Islam dan kemanusiaan. Ali Syari’ati melihat bahwa gagasan Karl Marx tentang pembebasan kaum tertindas (sosialisme) itu juga bisa berdifusi dengan Islam, yang juga menolak sebuah rezim otoriter dan kebarat-baratan. Maka muncullah Sosialisme Islam yang nantinya akan melahirkan gerakan-gerakan Islam revolusioner, terutama di negara-negara dunia ketiga. Dan dalam perkembangannya sosialisme mengarah kepada komunisme. Munculnya Islam revolusioner menjadi wajah baru dalam peregerakan Islam, Islam yang berdifusi dengan ajaran sosialsme. Hanya saja, memang kita perlu hati-hati dalam memperjuangkan gagasan ini, jangan sampai justru malah menjadi bomerang bagi kita. Dan inilah yang disebut dengan Islam sebagai agama yang universal. Islam mampu hadir dalam segala sendi kehidupan, bahkan yang dianggap keburukan, Islam bisa hadir dan berdifusi, berakulturasi membentuk pola yang baru. Dengan catatan, hal-hal yang baiklah yang diambil.

Bahkan seroang Ahmd Dahlan yang pada masanya dianggap sebagai kiai kafir oleh pada ulama pada waktu itu dimana ia mencoba mengahdirkan poal Islam yang berbeda, yang tidak ada sebelumnya (didaerahnya). Sistem pendidikan dan aktivitas-aktivitas beliau yang condong “kebarat-baratan” pada waktu itu dianggap oleh kiai sesepuh di kauman sebagai bid’ah dan merusak Islam karena menggunakan atau meniru aktivitas orang barat.

Sepertinya tidak seperti itu, segala sesuatu yang baik walaupun dibuat, diciptakan, dikonsumsi, oleh orang barat atu yahudi tidak selamanya dan segalanya buruk dan membawa keburukan. Selagi hal itu baik dan membawa kepada perubahan yang lebih baik, why not ?

Islam menjadi agama yang universal bukan berarti Islam tidak konsisten dan tidak relevan, justru dengan keuniversalan, Islam menjadi agama yang rahmatanlil’alamin, artinya Islam mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi dietiap sendi kehidupan walaupun harus berdifusi dengan ajaran dari barat. Sosialisme dan Islam seperti dua alam yang berbeda dan tak kan pernah bersatu, namun dalam kenyataannya, keduanya memiliki kesamaan visi dan misi yakni pembebasan terhadap kaum tertindas, perbudakan yang dilakukan oleh oleh para kaum hawkis.

Atas dasar persamaan itulah kaduanya mampu dipertemukan untuk menjalin kerjasama dan membentuk pola gerakan yang baru yang lebih mantap dan mampu diterima oleh banyak kalangan. Dan hal ini juga menjadi salah satu bentuk dakwah Islam di dunia. Eksistensi Islam tetap akan terjaga. Dan keuniversalannya dapat dipertranggungjawabkan serta rahmatanlil’alaminnya dapat dirasakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s