Abdul Karim Amrullah: Reformis Islam dari Minangkabau

`

Pulau Sumatra dibelah menjadi dua garis khatulistiwa; dititik paling utaranya terbentang jalan raya niaga ke India sampai kedunia perdagangan Laut Tengah, yakni kawasan yang sejak  berabad-abad lamanya pernah menjalin hunbungan perdagangan dengan Sumatra[1]. Selain itu, dari dulu, tumbuh beberapa kerajaan-kerajaan besar yang memiliki cirri khas merantau  serta tingkat mobilitas individual yang tinggi. Mereka suka perjalanan jauh untuk berdagang ataupun bahkan menjadi bajak laut. Maka dari itu, secara Historis, Sumatra merupakan pulau dengan penduduk gemar berdagang dan dinamis, lalu menjadi arena percaturan politik dunia internasional atau prestasi individual. Labih khusus lagi bila merujuk kepada orang Minangkabau di Sumatra Barat merupakan pewaris dari tradisi yang sudah tua ini.

Interaksi yang paling penting antara penduduk asli dengan dunia luar adalah melalui suatu proses yang dikenal dengan merantau[2]. Rantau[3] dilakukan oleh sebagian besar mungkin karena jaringan hubungan-hubungan yang tercermin dalam gagasan timbal balik antara mamak(penjaga, pelindung) dan kemenakannya(anak buah atau client). Ada dua katagori dalam proses merantau dalam tradisi minangkabau yakni menuntut ilmu agama dan pedagang. Sistem social di Minangkabau menentukan keinginan orang Minangkabau(laki-laki) untuk pergi meninggalkan desanya, terutama yang belum menikah.

Akan tetapi. Tidak semua masyarakat Minangkabau memberi tanggapan positif terhadap tradisi ini, keluarga-kelurga penghulu. Lebih khusus lagi mereka yang memliki sawah luas. Dikarenakan mereka melihat hal tersebut identik dengan penerimaan nasib mereka yang miskin atau setidaknya menyerah atas ketidakmampuan mareka untuk hidup senang tanpa ikhtiar ekstra.

Ciri utama dari pandangan hidup Minangkabau abad ke-19 ialah bertumbuhnya tradisi-tradisi Islam lokal. Minangkabau bersama-sama Aceh di utara sudah lama menjadi pusat studi Islam yang ckup penting, khusunya Payakumbuh dan Pariaman, tercatat dua kota tersebut banyak melahirkan tokoh-tokoh Islam terkenal[4]. Pada awalnya, pusat-pusat agama Islam yang paling awal ialah lebih kepada penanaman agama dengan ajaran mistisisme dan kepada syekh.

Pusat-pusat agama Islam lainnya yang paling awal juga dikembangkan sebagai persaudaraan yang bersifat mistik atau tarekat dan ajarannya juga jauh dengan yang di ajarkan Nabi Muhammad. Tetapi kemudian juga berkembang ajaran Islam yang sebagaimana diterapkan baik di Mekkah maupun Madinah. Lalu kita mengenal dalam catatan sejarah apa yang di sebut gerakan Wahabi( di Sumatra Barat), Perang Padri. Gerakan(Wahabi) yang berkembang di Arab lalu muncul di nusantara(sumbar) dalam rangka pembersihan ajaran-ajaran Islam yang melenceng dari yang di ajarkan Rasulullah. Terjadilah “reformasi” Islam. Maka muncullah seorang tokoh reformis Islam yang fanatik, Abdul Karim Amrullah.

Abdul Karim Amrullah dilahirkan dikampung Kepala Kebun, Jorong Betung Panjang, Ngarai Sungai Batang, Sumatra Barat, pada 17 Safar 1296 atau 10 Februari 1879[5].  Dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang religious membuat Abdul Karim terbiasa sejak dini untuk menjalankan ibadah. Ayahnya seorang ulama terhormat didaerahnya sekaligus pemimpin Tarikat Naqsyabandiah. Namun, Abdul Karim kecil termasuk anak yang nakal. Kenakalannya berbeda dengan teman-teman senayanya kala itu. Ia juga termasuk anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Ia belajar di pendidikan elementer tradisional dan mengaji di surau-surau. Menginjak usia sepuluh tahun, ia sudah belajar berbagai bidang ilmu dan merantau ke Sibalantai untuk belajar ilmu agama. Menginjak usia dewasa, Abdul Karim merantau lagi, kali ini ke tanah suci, Mekkah.  Disana ia mempelajari Islam lebih kompleks. Mula-mula ia berguru pada seorang imam Masjid al-Haram, Syeikh Muhammad Khatib, ulama dari Minangkabau juga yang telah menetap dan menyebarkan pemikiran-pemikiran pembaharuan Islam.[6]

Gaya belajarnya yang berbeda dari umumnya disana(taqlid)[7] semakin membuat Abdul Karim semakin menunjukkan bahwa dirinya sebagai pemuda Islam yang potensial dan sebagai pembaharu Islam dengan cara mengkritisi cara pendidikan dan pemikiran umat Islam. Seprti konsep merantau tadi, berarti setelah ia berpergian(mencari ilmu) dan kembali lagi ke daerah asal untuk menyebarkan pemkiran-pemikiran barunya itu. Itu berarti, apa yang diajarkan beerbenturan dengan yang sudah ada di kampungnya. Pada saat itu juag ia menikah dengan gadis bernama Raihanah binti Zakaria. Pada 1904 ia kembali lagi ke Mekkah dan kembali lagi ke Minangkabau pada 1906 dan menyandang nama H.Rasul.

Sepulang dari Mekkah, ia gencar dan begitu semangat untuk menyeberkan faham-faham pemikirannya dikampungnya. Walapun menuai protes dari kalangan tradisional, ia tetap menjalankan pemikirannya itu. Hingga ia mendirikan sebuah sekolah modern dengan system pendidikan modern pula dengan nama Sekolah Thawalib[8].

Haji Rasul sangat aktif dalam gerakan pembaharuan Islam. Sistem sekolah reformis Muslim yang melahirkan Persatuan Muslim Indonesia atau PERMI[9].IA juga aktif menentang komunisme serta intervensi yang dilakukan Belanda dalam hal pendidikan. Kelompok di Minangkabau yang amat dirugikan ialah para kaum adat tradisional, khusunya kelompok Takrikat Naqsabandiah. Ajaran yang paling ditentang oleh sang reformis ini ialah mengenai praktik-praktik yang menggunakan rabitah(mistik)[10]. Ia juga membawa Muhammadiyah ke Minangkabau karena dianggap sepemikiran, menghendaki modernisme atau reformisme ajaran Islam yang selama ini dianggap salah dan menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

Karena pemikirannya itu, ia banyak mendapat ancaman dari pihak kolonial, beberapa kali ia dipenjara,namun tetap tidak mengurungkan niatnya untuk berjihad dijalan dakwah. Dia juga tidak setuju kepada tokoh-tokoh(ulama) Indonesia yang memilikin sikap cooperative dengan penjajah. Hingga di akhir tahun 1943, keadaannya mulai memburuk. Sampai pada akhirnya ia wafat pada tanggal 2 juni 1945[11].

Sumber:

Elizabeth E. Graves,(2007), Asal-Usul Elite Minangkabau:Respon terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta

Kholid O Santosa. (2007). Manusia di Panggung Sejarah, Pemikiran dan Gerakan Tokoh-tokoh Islam. Sega Arsy. Bandung

Murni Jamal. (2002). DR.H. Abdul Karim Amrullah, Pengaruh dalam Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau pada awal Abad ke-20. INIS. Leiden-Jakarta


[1] Elizabeth E. Graves,2007, Asal-Usul Elite Minangkabau:Respon terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, Hal:1

[2] Ibid, Hal: 39

[3] Rantau merupakan suatu petualangan pengalaman dan geografis.

[4] Ibid, Hal: 45

[5] Kholid O Santosa. 2007. Manusia di Panggung Sejarah, Pemikiran dan Gerakan Tokoh-tokoh Islam. Sega Arsy. Bandung. Hal:40

[6] Ibid, Hal: 41

[7] Taqlid meupakan cara penerimaan buat dari apa yang ditetapkan oleh ulama-ulama pertama.

[8] Ibid, Hal: 45

[9] Murni Jamal. 2002. DR.H. Abdul Karim Amrullah, Pengaruh dalam Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau pada awal Abad ke-20. INIS. Leiden-Jakarta. Hal: 21

[10] Ibid, Hal: 23

[11] Ibid, Hal:114

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s