Hasjim Asj’ari dan Ahmad Hasan: Ulama dan Pejuang Nasional

Tidak bisa di pungkiri bahwa dalam catatan sejarah, Islam membawa pengaruh yang sangat besar di berbagai belahan bumi, termasuk Indoneisa. Lebih khusus lagi pada masa pergerakan nasioanal Indonesia. Islam hadir dengan berbagai wajah perjuangan dalam upaya pembelaan diri terhadap penjajah. Saya(penulis) lebih mengkhususkan lagi pada dua tokoh Islam yang dalam pergerakan ada perbedaan namun tetap dalam satu tujuan yakni Hasjim Asj’ari dan Ahmad Hasan.

1. Hasjim Asj’ari

Siapa yang tidak kenal Hasjim Asj’ari? Apalagi warga NU, ya, beliau ialah pendiri salah satu ormas Islam ternama dan terbesar di negeri ini. Pria yang dikenal dengan sikapnya yang tawadhu ini dilahirkan pada tanggal 14 Februari 1871. Ia merupakan anak laki-laki dari pasangan suami istri yang dari status berbeda. Ayahnya yang bernama Asj’ari adalah seorang kiai, sedangkan ibunya seorang keturunan raja. Jadi, Hasjim selain keturunan kiai ia juga berdarah biru.(Kholid O. Santosa, 2007: 20)

Hidup di kalangan pesantren yang notabene masih mempercayai sesuatu yang “ghoib” lalu dihubungkan dengan sestau sebagai tanda keselamtan atau kebesaran dan kemunduran itu pengaruh kiai di pulau jawa yang identik dengan klenik. Itulah yang terjadi pada kelahiran Hasjim yang diramalkan akan menjadi orang “besar” dan pemimpin umat. Hasjim tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mengawali pendidikannya dengan belajar mengaji dibawah bimbingan orang tuanya di desa Keras, Jombang, tempat ayahnya pindah pada tahun 1867. Ketika berumur 15 tahun kehidpannyapun mulai berpindah-pindah, dari pesantern satu ke pesantren yang lain dalam upaya memperdalam keilmuannya hingga akhirnya ia menetap di Pesantrren Siwalan Panji milik Kiai Jakub di Sidoarjo pada tahun 1891. Kemudian ia menikah dengan anak gurunya itu pada tahun 1892.

Hasjim memulai hidup barunya dengan “bertandang” ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji, namun siapa sangka, ia mendapat ujian yang berat dari Tuhan, kedua orang yang ia cintai, istri dan anaknya, meninggal disana. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan berangkat lagi bersama Ibunya, sekali lagi ia di uji oleh Tuhan, kali ini Ibundanya yang meninggal dunia. Akhirnya ia memutuskan untuk menetap selama tujuh tahun demi memperdalam lagi keilmuannya.

Sepulang dari tanah suci, Hasjim mendirikan Pesantren Tebu Ireng dan dalam perkembangannya ia mendirikan NU pada tahun 1926 di Surabaya(Suhartono, 2001: 50). NU yang berhaluan Islam tradisionalis mendapat respon positif bagi kalangan kian tradisionalis dan berkembang dengan pesat, akan tetapi, bukan berarti hadirnya NU menjadi tandingan bagi organisasi Islam lain(modernis). Pada akhirnyapun dalam uapaya memperkuat pengaruh Islam agar tetap exist. Maka terbentuklah MIAI(Majelis Islam A’la Indonesia) dan di ketuai oleh Hasjim Asj’ari. Mengenai jalan perjuangan beliau, tentu dengan cara-cara dakwah, misal melalui tulisan-tulisan, pidato, dan bahkan pendirian pesantren pun dalam upaya mangarah kesana. Pihak kolonial melihat kemajuan dari umat Islam begitu pesat, maka mereka berupaya menghalangi dengan cara apapun termasuk propsaganda, khususnya pada pesantren Tebu Ireng, Hasjim Asj’ari. Perjuangan yang dilakukan beliau melawan penjajah yang paling terkenal ialah melalui fatwa. Dan pernyataan beliau yang paling berpengaruh dalam membakar semangar revolusi pada waktu tentang “kewajiban jihad bagi setiap muslim terhadap penjajahan dengan kakuatan dan merbut kemerdekaan dari kaum penjajah”. Hingga akhirnya Hasjim wafat dala usia 79 tahun, setelah sebelumnya menjabat sebagai ketua umum Masyumi. Sebelumnya juga, pada masa penjajahan Jepang, Hasjim mendirikan berbagai barisan muda-barisan muda yang gagah berani melawan penjajah.

2. Ahmad Hasan

Pria ini dilahirkan di Singapura pada tahun1887. A.Hasan juga tokoh keturunan Jawa-Parsi. Ibunya, Hajah Muznah, adalah wanita keturunan Madrasa kelahiran Surabaya, sedangkan ayahnya Ahmad alias Sinna Wappu Maricar adalah seorang keturunan Parsi yang berprofesi sebagai pengarang, wartawan dan penerbit surat kabar dan buku-buku dalam bahasa Tamil(Kholid O. Santosa, 2007: 86).  A. Hasan kecil sangat akrab dengan ilmu agama Islam, sedangkan sekolah dasar yang ia tempuh tidak selesai. Padahal, ayahnya ingin anaknya kelak akan mengikuti jejak sang ayah. Demi mempelajari ilmu agama Islam secara komprehensif, A. Hasan berkelana ke berbagai daerah dan guru, pengembaraannya ini selesai kala ia menginjak usia 23 tahun.

A. Hasan tumbuh menjadi sosok yang kuat secara keilmuan, baik itu ilmu agama Islam yang pelajari maupun keahlian dalam jurnalistik, sesuai dengan ayahnya. A. Hasan banyak menulis berbagai artikel yang sarat dengan nilai amar ma’ruf nahi mungkar, yang ditulis dalam bentuk syair. Hasan juga bergabung dengan Persis pada tahun 1924. Persis(Persatuan Islam) di Bandung pada tahun1923(Suhartono, 2001: 47). Masuknya Hasan membawa angin segar bagi Persis, sampai-sampai berdirinya Persis tersebut dikaikan dengan A.Hasan(pendiri) organisasi tersebut. Di tangannya, Persis solid dan kokoh, walapun ada kader yang mengundurkan diri dan membentuk organisasi baru, namun tidak lama(mati).

A. Hasan juga seorang yang ahli debat, banyak tokoh-tokoh agama yang pernah merasakan apiknya cara Hasan berdebat. Itulah keahlian ganda yang dimiliki oleh Hasan, selain ahli dalam vokal ia juga ahli mengolah pena. Pemikirannya yang demokratis dan modernis menambah ciri khas bagi dirinya bila dibandingkan dengan pemikir Islam lain kala itu.A. Hasan juga seorang tokoh Islam yang menentang faham nasionalisme berlebihan yang ia anggap sebagai ‘ashabyyah yakni faham kesukuan. Maka dari itu, A. Hasan, selain bertentangan dengan pihak penjajah, ia juga berjuang dalam melawan arus faham yang bertentangan dengan faham Islam walapun dari rakyat pribumi.

Menjelang pendudukan Jepang, pada tahun 1941, A.Hasan terpanggil pindah ke Bangil, Jawa Timur, untuk mendirikan dan memimpin Persis disana. Di tempat baru itu, A. Hasan menjadi pendidik dan peneliti agama Islam. Dan menyampaikan pandangnnya itu di dalam berbagatoi penerbitan. A. Hasan juga membangun pesantren di Bangil. Menyampaikan pikiran-pikiran baru Islam dengan tetap mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap Islam dan umat Islam. Hingga pada senin 10 Nopember 1958, A. Hasan berpulang kerahmatulalh dalam usia 71 tahun. Namun, karya-karya beliau tetap menjadi acuan dalam pembaharuan agama Islam.

Sumber:

Kholid O Santosa. 2007. Manusia di Panggung Sejarah; Pemikiran dan Gerakan Tokoh-   tokoh Islam.Sega Arsy. Bandung.

Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasioanal; dari Budi Oetomo sampai Proklamasi(1908-1945). Pustaka Pelajar Offset. Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s