Revolusi mentalitas menuju 2012

 

Tak lama lagi, kita akan mengakhiri tahun 2011 dan itu artinya kita akan menuju tahun baru (2012). Tidak lain dan tidak bukan yang harus dipersiapkan ialah mentalitas. Mental petualang peradaban yang selama ini sudah kehilangan ruhnya dalam pembangunan bangsa ini. Jiwa-jiwa penuh glora perjuangan demi kemajuan negeri ini telah hilang. Generasi muda yang seharusnya menjadi ujung tombak kemajuan bangsa justru secara tidak langsung telah menghancurkan negeri ini dengan tidak perduli lagi dengan nilai-nilai cultural serta historis negeri ini. Terlena dengan kesenangan duniawi dalam artian merusak jiwa kebangsaan dengan lebih mencintai budaya-budaya barat yang nota bene tidak sesuai dengan budaya timur.

Sebenarnya hal ini tidak terlepas dari berbagai faktor, khususnya pendidikan dan yang tidak kalah penting ialah ketokohan. Negeri ini sudah tidak lagi perduli dengan yang namanya pendidikan. Dalam artian pendidikan yang sesunggunya. Pendidikan hanya dijadikan program kerja pemerintah secara formal belaka. Dalam pelaksanaan tidak seperti yang diharapkan. Sejarah sudah mengatakan bahwa betapa sentralnya para pemuda dan pendidikan dalam membangun mentalitas. Sayangnya negeri ini belum mampu melihat sejarah sebagai sebuah senjata yang paling efektif dan efisien. Sejarah hanya dipandang sebagai kenangan masa lalu yang sudah terjadi dan bairlah berlalu. Seharusnya dari sejarah lah klimaks paling menentukan dalam kemajuan atau kemunduran suatu bangsa.

Bung karno pernah mengatakan bahwa bangsa yang tidak bias menghargai sejarahnya maka siap-siaolah akan dimakan dan digilas oleh sejarah itu sendiri. Kalau dari masa ke masa, tahun ke tahun tidak ada perubahan ini menandakan bangsa tersebut tidak belajar dari sejarah.  Dan bila dilihat dari perjalanan bangsa ini, mulai dari colonial sampe reformasi, hanya satu yang perlu di ubah yakni mentalitas. Bung Karno sering mengatakan revolusi sampai mati, maka untuk saat ini mentalitaslah yang perlu di revolusi. Mental-mental terjajah, mental-mental perbudakan, mental-mental licik, picik, mental-mentalkekolotan, mental-mental pencari keuntungan diatas penderitaan orang lain. Mental-mental individualistic. Pada masa pergerakan, terlihat jelas bahwa para punggawa, motor penggerak perubahan ialah para pemuda inteletual danjuga agamawan yang sebelumnya mendapat pendidikan. Politik etis yang digalakkan oleh pemrintah colonial menjadi boomerang bagi mereka. Dari pendidikan akhirnya terbuka wawasan mereka (pemuda) untuk merdeka.

Sayangnya, pasca kemerdekaan, hal itu tidak terlihat lagi hingga rezim-rezim silih berganti pun masalahnya tetap sama yakni mentalitas. Mental-mental kerdil yang terus dibangun oleh bangsa ini khususnya oleh pemerintah akan berdampak pada generasi muda yang seharusnya menjadi pionir perubahan. Indonesia 2012, revolusi mentalitas. Mengingat tantangan kedepan akan sangat berat dan kalau kita tidak siap mental, siap-siap akan digilas oleh tantangan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s