Tuhan, Pemerintah, dan Rakyat

 

Nabi Muhammad pernah berkata pada para sahabat yang waktu itu setelah mengalami perang besar, bahwa ada perang yang lebih besar lagi selain perang ini(perang badar) yakni perang melawan hawa nafsu. Sejarah telah mengatakan bahwa bangsa Indonesia mampu mengatasi ketertundukan oleh pihak asing yang ingin mengambil kentungan dari bangsa Indonesia. Secara politik, hukum serta budaya mungkin kita telah dikatakan merdeka, namun ada hal yang belum merdeka dari bangsa Indonesia terutama kalangan elit politik dan birokrat yakni sifat hedonisme, tunduk pada dunia. Dalam hal ini elit politik dan birokrat yang seharusnya menjadi panutan, tokoh sentral, harapan bagi bangsa justru menunjukkan sifat yang jauh berbanding terbalik dengan harapan rakyat dan tentunya cita-cita bangsa ini.

Arena politik (pemerintahan) yang seharusnya djadikan ladang ibadah justru digarap sebagai arena pemuas nafsu duniawi saja.Status wakil rakyat yang diemban memang dimanfaatkan dengan baik oleh para elit politik dan birokrat, semua diwakilin, apa-apa diwakilin oleh mereka. Ya, buat rakyat nol.  Tidakkah mereka sadar bahwa mereka tidak hanya berjanji pada rakyat, akan tetapi pada Tuhan. Pantas saja bangsa ini di uji oleh Tuhan, dikarenakan para pembesar negara ini sudah tidak ingat lagi dengan Tuhan. Dengan Tuhan saja sudah tidak ingat, apalagi dengan ciptaannya (baca:manusia). Mereka hanya ingat akan diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Seharusnya ada kombinasi yang selaras antara Tuhan, Pemerintah,dan Rakyat. Para elit politik harus ingat tentang Agama (Tuhan) otomatis mereka juga akan ingat pada rakyat.

Kemewahan, glamoria, dan eksklusifitas para elit politik dan birokrat negeri ini sudah tidak asing lagi untuk dibicarakan. Bahkan sudah menjadi perbincangan sehari-hari baik oleh pedagang, akademisi, dan rakyat lain, dan tidak jarang juga sesama elit politik juga saling membicarakan, ya “maling teriak maling.” Hedonisme sudah sangat bersahabat dengan manusia, terutama mereka di kalangan penguasa (pemerintah). Andai para pemimpin itu belajar dari sejarah tentu hedonisme itu akan dibuang jauh-jauh. Sudah banyak contoh yang seharusnya menjadi peringatan bagi kita, khususnya pemimpin negeri ini agar  menjauhi apa yang namanya hedonisme, misalnya saja Qorun, yang di azab oleh Tuhan karena angkuh dengan harta kekayaannya. Terlihat lagi pada zaman orde baru, hedonisme berdampak pada sebuah reformasi, di negara-negara Timur Tengah terjadi revolusi akibat para pemimpin sudah tidak manusiawai lagi dalam memimpin. Hedonisme akan bedampak pada kesenjangan sosial dalam masyarakat. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin terpuruk dan lama kelamaan hilang dari peredaran.

Hedonisme juga merupakan indikasi degradasi moral yang sedang merasupi para elit politik dan birokrat negeri ini. Sudah tidak ada lagi jiwa akhlakul karimah yang tertanam pada mereka, kalau hal ini di biarkan, siap-siaplah kehancuran negeri ini.

Kiranya para elit politik dan birokrat juga harus mempertimbangkan sebuah hadist nabi yang mengatakan bahwa “setiap kamu adalah pemimpin, dan bertanggung jawab terhadap apa yang kamu pimpin.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s