Menengok Kembali Peran partai Politik

Adalah dengan keluarnya Maklumat X tanggal 3November 1945 oleh M. Hatta yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden. Beliau (Hatta) mengusulkan kepada KNIP untuk membuat UU untuk mendirikan partai politik guna memperlihatkan bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis. Bagi Indonesia yang masih “orok” dan memiliki ribuan kepala yang berbeda, membuat pendirian partai politik pun berbeda-beda haluan bahkan sarat dengan kepentingan individu dan golongan tertentu. Maka dari itu, partai politik di Indonesia mengalami pasang surut dalam eksistensi dan perannya di masyarakat. Di era Soekarno pada demokrasi terpimpin partai politik menjamur dan penuh konflik. Namun pada masa demokrasi terpimpin partai-partai politik yang menjamur itu tidak kelihatan lagi hanya menyisakan PKI yang digunakan untuk melanggengkan kekuasaan Soekarno. Sekali lagi, partai politik hanya menjadi batu loncatan guna melanggengkan kekuasaan. Pada masa Soeharto, juga demikian, dan hingga saat ini pun, walau partai politik kembali menjamur tetap saja berpihak pada kepentingan penguasa. Semakin banyak partai politik, semakin kuat perang kepentingan di kalangan elit pemerintahan dan yang menjadi korban adalah para “pion” yang tidak berdaya. Rakyat hanya menjadi batu loncatan para elit politik guna mendapatkan apa yang mereka inginkan bukan kepada apa yang rakyat butuhkan. Seharusnya partai politik menjadi bagian fungsional dalam suatu negara tanpa mengesampingkan bagian structural dalam ketatanegaraan. Artinya, eksistensi dan peranan partai politik lebih mengedepankan kepentingan bersama dan demi kemajuan bangsa bukanya. Seperti yang dikatakan Iwan Fals dala sebuha lagunya “ dunia politik dunia bintang, dunia pesta pora para binatang”.  Sebuah syair lagu yang memperlihatkan bejatnya para elit politik masa Orde baru yang sarat dengan KKN. Bukan berarti hal itu tidak terjadi lagi pada masa refomasi saat ini. Justru lebih parah. Segala agenda yang dijalankan partai politik selalu berbau politis. Entah itu pendidikan, bakti sosial, solidaritas, dan lain sebagainya. Kesemua itu hanya demi pencitraan. Bukan bermaksud menjek-jelekkan dan memfitnah, namun fakta dilapangan berkata demikian. Tentu tidak semua partai dan elit partai demikian. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang menjadi musuh didalam selimut bangsa ini. Semoga kedepannya bangsa ini jauh lebih baik lagi dengan belajar dari sejarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s