Pancasila: antara Idealita dan Realita

1 Juni merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia karena berhasil merumuskan  dasar negara yang kita kenal dengan Pancasila. Secara historis, memang, pembentukan Pancasila tidak lepas dari tangan dingin Soekarno yang berhasil merumuskan nilai-nilai yang sesuai dan dicocokkan dengan keadaan bangsa yang begitu majemuk, entah itu soal sosial-budaya maupun agama. Terutama agama yang begitu sensitif untuk diperbincangkan keranah publik apalagi menyangkut ideologi dan penerapan hukum.  Sejauh ini, di negeri yang mempercayai adanya lima agama ini, tidak mempermasalahkan soal Pancasila. Walaupun, ada memang dari segelintir kelompok yang menolak Pancasila bahkan menganggap syirik karena tidak berdasarkan hukum Islam. Kendatipun demikian, gerakan mereka tidak terlalu frontal alias berlebihan.  Terlepas dari polemik itu semua, sebenarnya bagaimana pemaknaan serta penerapan Pancasila itu sendiri. Sejauh ini, Pancasila hanya dijadikan sebagai kedok penguasa untuk melanggengkan kekuasaan. Kita bisa lihat pada rezim Orde Baru yang begitu “mendewakan” Pancasila bahkan sampai dijadikan azas tunggal bagi berkehidupan. Hal ini justru memperburuk citra Pancasila itu sendiri ditambah dengan kelakuan para elit politik kala itu yang carut marut. Rezim Orde Baru runtuh dan digantikan dengan Reformasi juga tidak membawa perubahan yang berarti. Malah eksistensi dan esensi Pancasila semakin pudar. Tidak hanya generasi muda, bahkan elit politik juga jauh dari makna dan nila-nilai luhur Pancasila. Disini pendidikan berperan penting dalam membangun karakter pancasilais kedalam generasi muda tanpa mengilangkan prinsip-prinsip ideoogi masing-masing. Pancasila menjadi wahana pemersatu belum terlihat penuh, hanya dalam ucapan semata, pada realitasnya banyak terjadi penyimpangan yang merusak garis sejarah bangsa Indonesia dan hanya menambah daftar kelam dalam gerak sejarah Indonesia. Saatnya mempersamakan persepsi bahwa di ranah publik kita memiliki Pancasila, dan bila menyangkut ideologi masing-masing orang boleh berprinsip selama tidak keranah publik. Dan yang paling penting maknai Pancasila sebagai alat pemersatu dan lihat Pancasila dengan kekuatan pikiran dan hati serta yang paling penting JAS MERAH (jangan sekali-kali meninggalkan sejara). Jadikan sejarah guru yang paling berharga demi masa depan yang lebih baik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s