Kota Bertuah tempo Doeloe; Sejarah Kota Pekanbaru

Kota Bertuah Tempo Doeloe

Sejarah Kota Pekanbaru  Masa Kolonial  (1800-1942)

 

A. Latar Belakang

Sumatera merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia. Pulau yang menyimpan keanekaragaman baik dari sumber alam maupun manusia yang menghuninya. Kekayaan alam yang melimpah, keanekaragaman budaya dan etnisitas yang mendiami Pulau Sumatera membentuk gerak sejarah yang sangat menarik untuk ditelusuri dan diteliti lalu diangkat sejarahnya. Karena masih sangat banyak rahasia sejarah yang belum diungkap ke publik. Baik sejarah yang berskala nasional sampai ketingkat lokal. Termasuk juga sejarah mengenai kota-kota di sumatera. Dalam artian belum semua kota terangkat sejrahanya. Yang lebih menonjol adalah kota-kota besar (memiliki nama-nama besar). Walaupun memang, pada kenyataannya demikian. Kota-kota yang memang sudah memiliki nama besar pasti akan lebih menarik minat untuk diteliti. Kota-kota yang “terlambat” besar namun memiliki nilai historis besar kadangkala luput dari perhatian.

Hal ini tentu dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari kaum intelektual (sejarawan) pada umumnya lebih tertarik pada suatu peristiwa besar, lalu studi-studi menganai sejarah lokal-kota juga jarang menjadi perhatian khusus oleh para akademisi di perguruan tinggi (tentu yang mendalami bidang sejarah), lalu yang tidak kalah penting dan urgen adalah sistem pendidikan di sekolah. Sejarah hanya “peristiwa besar” di kota besar. Akibatnya, sejarah daerah sendiri kurang diangkat bahkan tidak  dibicarakan sama sekali. Hingga sampai pada minat dari “putra daerah” yang tidak mengenal sejarah bangsanya dan ketidakinginantahuan mereka terhadap sejarah bangsanya sendiri, termasuk sejarah kota. Hal ini senada seperti yang dikatakan oleh Kuntowijoyo  dalam metodologi sejarah. Beliau menuliskan bahwa sejarah kota belum banyak mendapat perhatian kalangan sejarawan akademis. Juga skripsi-skripsi di perguruan tinggi yang mengajarkan sejarah tidak menunjukkan adanya perhatian terhadap kota sebagai bidang kajian sejarah tersendiri. Barangkali disebabkan kurangnya kepercayaan terhadap kejayaan dan kemungkinannya, padahal sejak abad ke-20 kota-kota di Indonesia sudah mengambil alih banyak kegiatan dari pedesaan. Pergeseran dari desa ke kota terjadi bersamaan dengan perubahan sosial dalam masyarakat.[1]

Sebagai seorang sejarawan, menurut Kuntowijoyo, bila ingin menulis karya sejarah setidaknya memenuhi dua unsur pokok yakni kedekatan intelektual dan kedekatan emosional. Dua syarat tersebut, subyektif dan obyektif, sangat penting, karena orang hanya akan bekerja dengan baik kalau dia senang dan dapat.[2] Saya, sebagai penulis, telah memiliki salah satu kedekatan yakni kedekatan emosional. Tinggal ditambah dengan kedekatan intelektual agar hasil karya sejarah yang muncul tidak terlalu subyektif. Kedekatan emosional yang saya miliki tentu karena saya orang Sumatera (Melayu-Riau). Walaupun saya tidak berdomisili di Kota Pekanbaru. Bukan berarti karena saya tinggal didesa jauh dari pusat kota provinsi, saya kehilangan jati diri ke-melayua-an saya. Justru karena aspek inilah saya berniat untuk mengangakat sejarah perkotaan ditempat saya.

Kenapa saya lebih memilih Kota Pekanbaru sebagai objek kajian saya karena memang tulisan sejarah mengenai perkembangan sebuah kota belum begitu diperhatikan. Di perguruan tinggi saya saat ini, tentu yang mendalami bidang sejarah, baru satu tahun terakhir ini ada studi mengenai sejarah kota dan angakatan saya adalah angkatan pertama yang mendapat pengajaran sejarah perkotaan. Hal ini menjadi angin segar bagi mahasiswa sejarah karena peluang untuk mengankat sejarah kota masing-masing terbuka lebar dan belum pernah ada sebelumnya( diperguruan tinggi saya). Termasuk juga menambah koleksi tema sejarah, tidak hanya itu-itu saja tergatnung atau dimonopoli oleh peristiwa-peristiwa besar yang sudah sering diangkat.

Selain itu juga, Kota Pekanbaru merupakan kota yang unik. Didiami oleh etnis Melayu yang terkenal dengan toleran sehingga berdampak pada akulturasi budaya yang mewarnai perkembangan Kota Pekanbaru. Dengan adanya interaksi dari berbagai etnis di Pekanbaru juga ikut mempengaruhi pereknomian dan perpolitikan di daerah tersebut. Hingga menimbulkan gerak sejarah yang tidak kalah menarik dengan gerak sejarah yang terjadi di  kota-kota besar lain di Indonesia. Kota  yang juga memiliki kekayaan yang tersembunyi, yakni sastra (melayu) dalam artian Kota Pekanbaru sebagai pusat. Namun, pembicaraan (sejarah)  mengenai Kota Pekanbaru masih sangat minim. Banyak yang belum mengetahui Kota Pekanbaru sebagai Kota Bertuah pada zaman dahulu. Baik oleh generasi muda Riau sendiri apalagi yang dari luar. Untuk itulah tulisan ini dibuat. Saya lebih memsfesifikkan pada periode zaman Penjajahan Jepang. Selama ini sejarah hanya mengeluarkan peristiwa-peristiwa saja, nah tulisan kali ini lebih mengarah kepada perkembangan atau keadaan Kota Pekanbaru secara lebih komprehensif pada zaman pendudukan Belanda. Bagaimana pola pemukiman baik oleh keusltanan maupun pada saat kedatangan Belanda.  Yang paling penting adalah eksistensi kebudyaan Melayu yang memang sudah mengakar kuat.

B. Rumusan Masalah                                                                                                 

1. Bagaimanakah Sejarah Lahirnya Kota Pekanbaru ?

2.  Bagaimanakah Dinamika  Masyarakat Kota Pekanbaru pada masa Kolonial  ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Sejarah Kota Pekanbaru

Kota Pekanbaru terletak antara 101-14 sampai 101-34 Bujur Timur dan 0-25 sampai 0-45 Lintang Utara. Dengan ketinggian darivpermukaan laut berkisar antara 5-50 meter.  Disebelah utara Pekanbaru berbatasan dengan Kabupaten Siak dan Kampar. Disebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kampar dan Pelalawan. Disebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kampar dan di sebelah timur berbabatasan dengan Kabupaten Siak dan Pelalawan. Kota Pekanbaru sendiri dibelah oleh Sungai  Siak yang membentang dari arah barat ke timur. Seperti sungai pada umunya, sebagai sarana transportasi dan juga perekonomian masyarakat, terutama dari hulu ke hilir. Sungai Siak juga memiliki peranan penting dalam jalur perdagangan dan lalu lintas masyarakat Pekanbaru pada khususnya dan sekitar serta masyarakat Riau pada umumnya. Kota Pekanbaru juga memiliki filosofis tersendiri yang tentunya diambil dari segala ciri khas dan keunikan dari kota Pekanbaru.[3]

Bila dilihat secara historis, perkembangan Kota Pekanbaru tidak lepas dari peranan Kerajaan Siak Sri Inderapura di Sumatera.  Sedangkan Kerajaan Siak tidak lepas dari pengaruh kerajaan-kerajaan Melayu serta Melaka. Setelah Melaka jatuh, Siak diwarisi Kerajaan Melayu. Kemaharajaan Melayu banyak memberi sumbangsih besar terhadap perkembangan Kerajaan Siak karena banyak keturunan-keturunan Kemaharajaan Melayu yang menjadi raja di Siak. Hingga pada akhirnya, di Siak ditemukan tambang timah di daerah tapung. Membuat Siak kembali ramai dan berdirilah kerajaan yang didirikan oleh Raja Kecil pada tahun 1723. Sebelumnya, Raja Kecil merupakan pelarian dari Kemaharajaan Melayu yang menyingkir ke Bengkalis pada tahun 1722.  Beliau mendapat bantuan dari para Batin (Kepala Suku) yang ada di daerah Bengkalis dan meminta Raja Kecil untuk menjadi raja mereka. Namun Raja Kecil menolak. Akan tetapi, Raja Kecil meminta daerah kesyahbandaran Sabak Auh di Sungai Juantan Siak. Barulah pada tahun 1723 beliau mendirikan Kerajaan Buantan yang nantinya akan dikenal dengan sebutan Kerajaan Siak. Raja Kecil bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1723-1748). Daerah kekuasaannya meliputi Perbatinan Gasib, Perbatinan Sejaleh, Perbatinan Sakai, Perbatinan Perawang, Perbatinan Rangsang, Perbatinan Senggoro, Perbatinan Merbau, Perbatinan Petalang, Perbatinan Tebing Tinggi, Kepulauan Siak Kecil dan Siak Besar,Kepenghuluan Rempah, Kepenghuluan Betung, dan Perbatinan Senapan. Pebatinan Senapelan inilah embrio kelahiran Kota Pekanbaru. Dan Senapelan atau Pekanbaru menjadi Ibu Kota Kerjaan Siak pada masa Sultan Abdul Jalil Muazam Syah tahun 1762 dan berpindah lagi ke Mempura pada masa Sultan Abdul Jalil Muzafar Syah dengan alasan menghindarkan kerusuhan antara Sultan Alamudin dengan Sultan Yahya.[4]

Daerah Senapelan semakin berkembang pesat pada masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Muazam Syah yang melanjutkan kebikajan ayahandanya yakni Sultan Alamudinsyah. Sultan Alamudinsyah merintis “pekan” (pasar) di wiliyah Senapelan yang kemudian dilanjutkan oleh putra beliau, Sultan Abdul Jalil Muazam Syah. Pada masa beliau, Senapelan semakin raami dan dikunjungi serta dilewati oleh banyak pedagang. Berdirinya pekan tersebut tepat pada tanggal 21 Rajab 1204 Hijriah atau pada 23 Juni 1784 Masehi. Semenjak itu, nama Senapelan berubah nama menjadi “Pekan Baharu”, atau lebih dikenal sekarang Pekanbaru. Dalam suatu seminar di Kota Pekanbaru yang pemkalahnya adalah walikota Pekanbaru, Herman Abdullah, 2005. Makalah yang disajikan bersumber dari tulisan Suwardi Ms, menyebutkan bahwa Senapelan merupakan suku yang mendiami daerah Payung Sekaki yang terletak dialiran Sungai Siak pada abad ke-15. Pada saat Melaka jatuh ketangan Portugis, pusat pemerintahan di pindahkan ke djohor-Riau.

Pemerintahan Djohor-Riau membentuk Syahbandar di Senapelan. Hingga akhirnya kekuasaan Portugis di Melaka berlaih tangan ke Belanda. Senapelan menjadi tempat penumpukan komoditi perdagangan baik dari luar maupun dari pedalaman. Barang-barang dari pedalaman seperti,timah,emas, kerajinan dari kayu, sedangkan barang-barang dari luar seperti,telur, kain, dan lainnya. Komoditi ini berlangsung hingga berdiri Kerajaan Siak dan Senapelan menjadi pintu gerbang perdagangan dan pelabuhan.[5] Jadi memang Pekanbaru sudah menjadi kota perdagangan dan jasa sejak dahulu kala. Di mulai dengan pemerintahan sebuah desa berevolusi menjadi kota yang ramai.

 

  1. Agama-Agama dan Pengaruh Asing

Seperti yang telah diketahui bahwa mayoritas penduduk Sumatera, Riau khususnya, dihuni oleh etnis Melayu. Dalam bukunya  Parsudi  Suparlan, “Orang Sakai Di Riau”, disebutkan bahwa ada dugaan bahwa penduduk yang tergolong ras Wedoid dan Austroloid yang telah lebih dulu mendiami Kepulauan Indonesia dan Malaysia terdesak ke daerah-daerah pedalaman dan hutan o;eh segerombolan orang-orang yang dating kemudian (2.500-1500 SM) yang tergolong ras Proto-Melayu. Kemudian dating lagi gerombolan berikutnya (300 SM) yang tergolong ras Deutro-Melayu, mereka juga mendesak ras Proto-Melayu kepedalaman sehingga terdapat percampuran antara orang-orang ras Wedoid dan Austroloid dengan orang-orang ras Proto-Melayu.

Dalam tulisan Suwardi MS, Sejarah Riau,dinyatakan bahwa wilayah ini pernah berada dalam kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan-Kerajaan Melayu. Disamping itu, dengan adanya kedatangan bangsa-bangsa Cina, Portugis, Inggris, dan Belanda yang berdagang, bahkan Belanda sempat berkuas  dan menjajah Indonesia, terdapat sisa-sisa dari pengaruh kebudayaan Hindu, Islam, Cina, dan Barat (terutama Belanda) dalam tradisi-tradisisi kebudyaan dari masyarakat Riau. Secara umum tradisi Islam lah yang terkuat dibandingkan dengan tradisi-tradisi budaya luar.[6]

Seperti pada masyarakat kuno pada umunya (pra sejarah), di Riau juga sama terkait sistem kepercayaan, sebelum datangnya agama, mereka hidup dalam animism dan dinamisme, terrutama bagi mereka yang hidup dipedaalman. Suku-suku yang telah disebutkan tadi memiliki ciri-ciri penyelanggaraan hidup yang berbeda-beda. Tentu yang dating kemudian lebih memiliki teknik penyelenggaran hidup yang lebih baik, semakin lama, terjadi interaksi dan akhirnya ada percampuran, walaupun tetap masih ada yang menyimpan tradisi lama.

Masuknya agama Hindu ke Riau ini bersamaan dengan kedatangan pedagang-pedagang dari jazirah India yang terjadi  pada awal tarikh masehi membawa perubahan pula pada sistem kepercayaan yang dianut masyarakat, meskipun tidak sepenuhnya lenyap. Lalu datang agama Budha dan menyingkirkan agama Hindu. Sebenarnya bukan menyingkirkan, akan tetapi lebih kepada meninggalkan. Sedangkan Penyebaran agama Islam di daerah Riau dilihat dari sudut pandang sejarah dan faktor geografis melalui dua jalan; perdagangan luar negeri dan perdagangan antar daerah. Keadaan Riau yang terletak sangat strategis yakn dekat selat Malaka yang pada saat itu memang menjadi jalur utama perdagangan membuat wilayah Riau sering disinggahi para saudagar asing, termasuk pedagang-pedagang dari Timur-Tengah dan tidak ketinggalan juga pedagang-pedagang Cina.[7]

Kehadiran seluruh aneka agama dan kebudyaan yang datang di daratan Riau membuat wilayah ini begitu unik ditambah dengan etnis Melayu yang terkenal dengan toleransi yang tinggi membuat sebuah konsep hubungan kemanusian yang bijaksana. Hidup saling berdampingan dengan rukun bahkan tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya akulturasi. Misalnya sja ada istilah Arab-Melayu yang menjadi tulisan khas daerah Riau, lalu muncul itilah Melayu-Tionghoa. Dari segi arsitektur, arsitektur Cina dan Arab mewarnai arsitektur perumahan melayu (motiv). Lalu ditambah dengan gaya arsitekutr barat (Eropa). Terlihat pada bangunan Kerajaan Siak Sri Inderapura. Apalagi kalau berbicara mengenai agama Islam yang amat ketat. Namun, Islam Asia Tenggara, Melayu, melahirkan sosok Islam yang lebih humanis. Bila dibandingkan dengan dikawasan Islam lain. Kehadiran Islam dalam kehidupan masyarakat nusantara tidak menghapuskan sama sekali yang berkaitan dengan konsep dewa-raja.[8]

 

 

 

 

 

 

 

 


 Dinamika Masyarakat Kota Pekanbaru masa Kolonial (1800-1942)

  1. Dinamika Perpolitikan

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa, Pekanbaru dulunya merupakan sebuah perkampungan yang bernama Senapelan dan dipimpin oleh seorang Batin (kepala suku). Wilayah telah ada sejak abad ke-15 dan menjadi rute perdagangan yang sering dilewati. Pada saat Kerajaan Siak, tepatnya pada masa kepemimpinan Sultan Muazam Syah, wilayah tersebut menjadi ibukota kerajaan Siak pada tahun 1784. Pekanbaru menjadi ibukota provinsi Siak dari sepuluh provinsi yang ada . di Siak. Provinsi negeri Pekanbaru dikepalai oleh seorang datuk syahbandar dan tidak hanya sebagai kepala pemerintahan, namun sebagai kepala kehakiman dan kepala kepolisian. Dibawahnya terdapat penghulu, kepala suku, dan batin. Kedudukan sebagai Ibukota ini sampai pada tahun 1916. Berdasrkan SK Besluit van Her Inlanche Zelf Bestuur van Siak No. 1 tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru menjadi bagian dari Kerajaan Siak atau disebut district. Lalu pada tahun 1931, Pekanbaru menjadi wilayah Kampar dikepalai oleh seorang controleur yang berkedudukan di Pekanbaru. Tugas Controleur sendiri adalah sebagai pengawas kerajaan. Controleur berwenang langsung terhadap rakyat Gubernemen Hindia-Belanda. Pemimpin orang Cina disebut Kepitein der Chineezen, lidah melayu menyebutnya Kapten Cina.

Sebagai kedudukan Districhoop Pekanbaru dipimpin Datuk Pesisir Muhammad Zen yang membawahi tiga onderdistrichoop yaitu onderdistric Senapelan yang dirangkap oleh districhoop sendiri, onderdistric Tapung kiri yang dikepalai Tengku Sulung Perwira dan onderdistric Tapung Kanan oleh Abdul Jalil serta dua kepenghuluan yakni Kepenghuluan Baru dan Kepenghuluan Dalam. Pada tahun 1931, di selatan Kota muncul kampung-kampung baru yang masing-masing dipimpin oleh seorang penghulu.[9]

 

 

 

  1. Keadaan Sosial- Ekonomi: Rute  Perdagangan dan Kondisi Kota

Pada masa Sultan Syarif Kasyim I, ada usaha untuk memajukan perdagangan di daerah pantai dan Sungai Siak. Perdagangan berkembang, perkebunan merica dan lada semakin banyak, pembukaan hutan kapur harus dilaksanakan dan perdagangan budak dikurangi. Akibatnya banyak pendatang ke pesisir timur sumatera untuk menetap. Pada saat itu, rute itu dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk mengeruk kekayaan. Rute perdagangan dari Lima Puluh Kota melewati Siak terus ke pesisir Timur Sumatera telah ada sejak dulu. Rute itu dari payakumbuh dengan jalan darat terus ke Kota Alam, Kota Baru ditepi Sungai Mahat. Dan dengan Sungai Mahat itu mengalir terus ke Sungai Kampar Kanan ke Teratak Buluh. Dari Teratak Buluh terus ke Pekanbaru dengan jalan darat sepanjang 18 km, serta menggunakan luda beban, melewati jalan tikus dan berawa-rawa..

Perkembangan Singapura menjadi bandar perniagaan di Asia Tenggara selama abad ke-19 telah menjadi pendorong bagi perkmbangan perniagaan dan pelayaran dalam daerah Riau. Kehidupan rakyat Siak lebih ditekankan ke bidang pertanian, karena kondisi didaratan lebih memungkinkan dari pada perdagangan. Rakyat diberi kebebasan untuk mengerjakan tanah ulayat didaerah kepenghuluan masing-masing.  Tetapi kalau sudah seorang pendatang membuka pajak sebesar 10 gantang pada setiap daerah kepenghuluan. Di Pekanbaru ada empat orang penghulu sebagai pemimpin rakyat IV suku dan berada di bawah Kerajaan Siak. Setiap penghulu tadi mendapat penghasilan dari pembagian pajak lalu lintas, pajak ikan terubuk, hak penjualan candu secara kecil-kecilan, hak bebas pajak untuk sebuah perahu yan berlabuh di Siak dan denda-denda.

Sementara itu, sejarah daerah sekitar selat Melaka mempunyai hubungan yang erat dengan kegiatan perdagangan dan pelyaran. Hingga saat ini, selat Malaka adalah pusat dari perdagangan internasional Asia tenggara. Latar belakang utama yang membuat daerah ini berhasil membuat peran yang penting itu adalah lokasinya yang strategis yakni terletak pada salah satu jalur perdagangan dan pelayaran antara dunia Eropa. Arab dan India di satu sisi, Cina dan Jepang di sisi lain. Daerah pantai timur sumatera juga memetik banyak keuntungan dari lokasinya yang berhadapan langsung dengan selat Malaka.[10]

Sungai-sungai besar yang mengalir dari daerah pedalaman Sumatera turut membantu para saudagar Minangkabau dan Batak untuk berdagang ke kawasan kota-kota dagang yang mempraktikkan perdagangan bebas ini. Ada enam rute pedagangan utama antara daerah pedalaman dengan kawasan selat ini. Keenam rute tersebut  mengikut aliran sungai-sungai besar yang berhulu didaerah pedalaman seperti Sungai Kuantan-Inderagiri, Sungai Kampar dan Sungai Siak.[11]  Pada abad ke-19 dan awal abad ke-2 wilayah ini beerkembang pesat sepanjang tahun. Ketiga sungai tersebut membawa dampak perdagangan yang mencolok. Hal ini tidak lepas juga dari pengaruh peningkatan kegiatan perdagangan di Singapura, Pulau Penang, serrta berubahnya kebijaksanaan politik pemerintah Hindia-Belanda. Hasil-hasil komoditas baik dari pedalaman Pulau Sumatera diekspor ke Singapura begitu juga sebaliknya.[12]

Setelah pemerintah Hindia-Belanda merasa pengaruh politik dan ekonominya di pantai timur Sumatera, mereka mulai mengendorkan kontrol. Kontrol pemerintah semakin longgar pada awal abad ke-20, terutama ketika pemerintah mulai membangun prasarana transportas kse kawasan  pantai timur. Ada dua jaringan sarana transportasi yang dikembangkan pemerintah. Jaringan-jaringan ini sebetulnya melanjutkan jaringan jalan yang telah dirintis sebelumnya. Pertama dari pedalaman Minangkabau di Selatan Pangkalan Koto Baru, Bangkinang terus ke Pekanbaru. Kedua dari pedalaman tanah Batak dan Deli ke Medan terus ke Belawan. Bila jaringan yang pertama diwujudkan dalam pembanguna jalan raya, maka pada jaringan yang kedua diwujudkan pada pembangunan jalan kereta api( Weisfelt 1972: 36-62).

Jadi, memang Kota Pekanbaru dari dulu sudah menjadi jalur lalu lintas yang menghubungkan dari satu kota ke kota lain. Tentu dengan demikian, kota ini banyak disinggahi para pedagang yang hendak melakukan perdagangan bahkan tidak jarang untuk menetap. Maka dari itu kota Pekanbaru saat ini sangat ramai dengan etnisitas yang kompleks.  Terutama untuk saat ini orang-orang Minangkabaulah sebagai mayoritas baru setelah itu Melayu dan disusul dengan etnis lain termasuk Cina.

Selain itu, Untuk perawatan kota sendiri berasal dari pungutan penduduk dan pasar. Kondisi Pekanbaru sendiri merupakan kumpulan dari rumah-rumah yang sebagian besarnya adalah kedai. Pada perkembangannya, bermunculan warung sebagai tempat perhentian. Lalu perluasan kampung mengikuti aliran sungai, jadi memanjang. Di belakang perkampungan dijadikan lahan untuk bercocok tanam. Seaktu Siak dibawah pemerintahan Sultan Hasyim, mulai bermunculan perkebunan-perkebunan milik Belanda tepatnya pengusaha-pengusaha Belanda yang membuka perkebunan Karet di sebelah selatan Kota Pekanbaru.

Sedangkan untuk pendirian bangunan-bangunan resmi mulai dibuka pada saat Pekanbaru menjadi ibukota distric Pekanbaru dan onderdistric Senapelan. Pada saat itu juga, Siak dibawah pimpinan Sultan Kasim. Rumanh-rumah (penjara,distric, dan balai)  dan jalan mulai dibangun serta bangunan-bangunan lain seperti kantor polisi dan bangunan-bangunan milik  Belanda. Pembangunan ini pada masa Datuk Muhammad Zen dan dilanjutkan oleh Datuk Wan Etol (1926-1931). Serta pembangunan lapangan terbang Simpang Tiga dan pembangunan Mesjid Raya. Pertambahan penduduk diarahkan kepada komoditi seperti: rotan, damar, kayu, getah, perca, dsb. Pada tahun 1930, terjadi pemindahan kedudukan Controleur yang awalnya berada di Kampar Kiri ddipindahkan ke Pekanbaru. Pemindahan kedudukan ini berdampak sangat besar kepada perkambangan Kota Pekanabaru. Kota itu semakin ramai dan mendorong penduduk kota untuk mendirikan gedung-gedung serta rumah.[13]

  1. Ke- Melayu-an Islam: Karya Sastra Sejarah

Pertumbuhan kota-kota bukan berarti akan menghapus jejak-jejak ketradisionalan. Dalam sejarah Indonesia proses urbanisasi tidak secara mendadak dan menyeluruh. Banyak ciri-ciri pedesaan masih mewarnai suasana perkotaan. Pada abad ke-19 wilayah yang dianggap kota biasanya langsung dibawah pengawasan langsung oleh pejabat tinggi administrasi, patih misalnya. Penegasan munculnya kota ditandai dengan munculnya kelas-kelas sosial baru yang sama sekali lepas dari pertanian. Pada awal abad ke-20 sebuah kota yang ideal akan mempunyai ciri-ciri tersendiri yang sekaligus menunjukkan sejarah kota tersebut.[14]

Proses migrasi dari para pendatang yang ada disekitar Melayu Riau baik dimasa-masa kerajaan-kerajaan Melayu maupun pada masa kemerdekaan, semakin terbuka bagi para pendatang. Proses pembauran yang terjadi membentuk komunitas-komunitas baru. Orang melayu identik dengan karya sastranya. Banyak melahirkan pujangga-pujangga ternama dalam sejarah melayu sekaligus penyebaran dakwah Islam. Daalam karya sastra sejarah yang menjadi topik cerita adalah sejarah sebuah kota kerajaan atau negara, maka karya sastra ini merupakan seumber yang cukup penting dalam pembentukan sejarah suatu masyaarakat. Namun, dalam karya sastra melayu, tidak pernah ada penyatuan unsur sastra Melayu dan Islam, walaupun muncul dalam tradisi kehidupan Islam, karya sastra melayu  tidak memperlihatkan pandangan Islam.[15]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Kuntowijoyo,2001, Pengantar Ilmu Sejarah, (cet. IV), Yogyakarta: Bentang Budaya.

Kuntowijoyo,2003, Metodologi Sejarah, (ed. Ke-2), Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.

Parsudi Suparlan,1995, Orang Sakai Di Riau; Masyarakat Terasing Dalam masyarakat Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Maharsi Resi, 2010, Islam Melayu VS Jawa Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudyaan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudyaan,Sejarah Daerah Riau, 1977/1978. Hal.90-92

Gusti Asnan,2007, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, Yogyakarta: Ombak.

Makalah yang berjudul “Kota dan Dinamika Kebudyaan: Peluang dan Tantangan Menjadikan Pekanbaru sebagai pusat kebudyaan Melayu tahun 2021”. Oleh Suwardi Ms dan Isjoni, masing-masing adalah Ketua dan Sekretaris MSI cabang Riau. Disampaikan pada tahun 2006. Makalah ini disampaikan pada Konferens Sejarah  Naional VIII. Di Hotel Millenium 

Sumber Internet

Witrianto,2011, http://.blogdetik.com/2011/01/01/sejarah-kota-pekanbaru/ diunduh hari rabu 2 mei 2012 pkl. 1959 wib

.pekanbaru http://www.go.id/lambang-kota/ diunduh pada hari rabu, 2 mei 2012, pkl 20.00 wib

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, (ed. Ke-2), Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 2003, Hal. 59

[2] Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (cet. IV), Yogyakarta: Bentang Budaya, 2001, Hal. 90

[4] Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudyaan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudyaan,Sejarah Daerah Riau, 1977/1978. Hal.90-92

[5] Dalam Makalah pada Seminar Nasioanal di Pekanbaru, 2005. Pemakalah sendiri adalah orang nomor dua di Pekanbaru, yakni Pak Herman Abdullah. Makalah yang disajjikan berjudul “Terwujudnya Kota Pekanbaru, sebagai pusat  perdagangan dan jasa, pendidikan, serta kebudayaan melayu menuju masyarakat yang sejahtera dengan berlandaskan iman dan taqwa pada tahun 2021”. Sumber kajian dari makalah tersebut adalah penulisan buku “ Dari kebatinan Senapelan hingga Bandaraya Pekanbaru”, buku yang ditulisa oleh Suwardi MS, dkk. http://witrianto.blogdetik.com/2011/01/01/sejarah-kota-pekanbaru/ diunduh hari rabu pkl. 1959 wib.

[6] Parsudi Suparlan, Orang Sakai Di Riau; Masyarakat Terasing Dalam masyarakat Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993, Hal. 40-41

[7] Sejarah Daerah Riau. Op.,Cit, Hal. 71

[8] Maharsi Resi, Islam Melayu VS Jawa Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, Hal.6

[9] Makalah yang berjudul “Kota dan Dinamika Kebudyaan: Peluang dan Tantangan Menjadikan Pekanbaru sebagai pusat kebudyaan Melayu tahun 2021”. Oleh Suwardi Ms dan Isjoni, masing-masing adalah Ketua dan Sekretaris MSI cabang Riau. Disampaikan pada tahun 2006. Makalah ini disampaikan pada Konferens Sejarah  Naional VIII. Di Hotel Millenium  Jakarta. Hal. 6

[10] Gusti Asnan, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera,  Yogayakrta: Ombak, 2007, Hal.311

[11] Ibid, Gusti Asnan, Hal.316

[12] Ibid, Gusti Asnan, Hal. 317-318

[13] Ibid, Suwardi dan Isjoni, Hal. 7-8

[14] Kuntowijoyo, Op.Cit. Hal. 60-62

[15] Maharsi Resi, Op.Cit, Hal. 14

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s