Apa itu Filsafat ?

 

Oleh: Duwi Santo, Priambodo, Wira syafutra.[1]

  1. A.    Pengantar

Manusia diciptakan oleh Tuhan berbeda dengan makhluk ciptaan yang lain yakni pada akal pikiran. Maka tidak heran kalau manusia disebut juga makhluk pemikir.Sejatinya manusia hadir dibumi untuk memikirkan tentang kehadiran manusia itu sendiri di muka bumi.Pertanyaan-pertanyaan yang akan membawa kepada sebuah jawaban yang hendak dicari oleh manusia itu sendiri, baik itu tentang relitas tentang alam sekitar (gejala-gejala yang ada disekitar) serta tentang eksistensi si penanya sendiri. Kesemua itu dilakukan dengan sangat hati-hati dan mendalam. Hal itu juga menunjukkan bahwa sejatinya manusia itu makhluk yang serba ingin tahu. Keingintahuan seseorang itu membawa mereka ke alam ilmu, pengetahuan dan  pada alam filsafat.Keinginthuan manusia tidak hanya pada yang makro-kosmos tetapi juga mikro-kosmos.Makro-kosmos mengarah kepada keduniawian, tentang gejala-gejala diluar dirinya.Sedangkan yang mikro-kosmos terhadap diri sendiri. Membedakan dirinya dari dunia luar dan orang-orang lain, mengalami dirinya sebagai satu kesatuan yang disebutnya “aku” karena terkait dengan inti jiwa yang terdalam.[2]

Pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang hakikat itu lazim dikenal dengan filsafat.Sebuah metode, jalan, penunjuk, penuntun, pondasi, dasar berfikir seseorang dalam menemukan jawaban yang dicari secara mendalam.Pada umumnya orang menolak filsafat karena berbagai alasan masing-masing.Sebenaranya, filsafat tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Karena filsafat akan selalu merupakan induk pengetahuan. Sedangkan manusia merupakan makhluk pencari tahu.Hanya saja manusia terkadang agak naïf untuk mengakuinya.Tidak banyak orang atau sekelompok manusia yang mengacuhkan filsafat.Filsafat dianggap omong kosong belaka, tidak baik untuk dicari tahu, padahal saat dia memikirkan hal demikian dia telah berfilsafat.

Penulis mengibaratkan filsafat itu seperti udara, yang tidak terbatas, bias dirasakan tapi tidak bias di sentuh bagai benda-benda  real lainnya. Itu juga selurus dengan pengertian filsafat yang tidak pasti karena banyak sekali pengertian dari para filsuf yang menerangkan tentang filsafat.Apalagi pada saat ini kita bukan sebagai seorang filsuf melainkan orang awam yang sedang belajar filsafat. Dilihat dari arti kata atau istilah, filsafat diambil dari bahasa Arab, falsafah – berasal dari bahasa Yunani, Philosophia, kata majemuk yang terdiri dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, dan kata shopia yang artinya bijaksana. Dengan demikian secara etimologis kata filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan.[3]Filsafat juga sering disebut pendirian hidup dan juga pandangan hidup terkadang juga filsafat disebut sebagai interpretasi atau evaluasi terhadap apa yang penting atau yang berarti bagi hidup.Berfilsafat juga dirtikan berfikir reflektif dan kritis.[4]

Befilsafat juga memerlukan perenungan diri, perenungan diatas perenungan yang sedalam-dalamnya.Berfilsafat juga menuntut kesadaran diri. Sadar akan dirinya dan juga disekitarnya. Filsafat juga menuntut kita untuk peka, jeli, terhadap permasalahan kehidupan yang dialami.Keheran juga merupakan salah satu indikasi filsafat muncul dibenak anda.

Pada kesempatan kali ini kami diberi amanat untuk mengungkap apa itu filsafat, berhubung kami masih awam jadi yang dapat kami sampaikan hanya sekadarnya saja. Karena masing-masing orang sudah punya kesempatan untuk merenung, dan inilah yang dapat kami renungkan dan kami sajikan.

 

  1. B.     FIlsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Agama

Orang yang tahu, disebut mempunyai pengetahuan. Orang tahu akan dunia dan alam yang mengelilinginya, ia tahu akan manusia lain yang hidup bersama dengan dia, ia tahu akan dirinya, ia tahu akan kecendrungan yang ada padanya. Kebanyakan pengetahuan ini muncul dari pengalam inderawi.Pengalaman itu diolah, dipirkan, dan juga sesekali memasukkan pikiran orang lain.Tujuan utama dari pengetahuan ini ialah kebenaran, bukan hanya sekadar tahu.Tentulah pengetahuan tersebut tidak hanya ditemukan dengan serba tiba-tiba atau kebetulan, ada jalan (metode) untuk meraihnya.Pengethuan itu juga dicita-citakan berlaku universal.Pengetahun yang sadar menuntut kebenaran yang beremetode dan itulah yang disebut ilmu.[5]

Ilmu memang menyelidiki obyeknya amat dalam, tetapi tidak sedalam-dalamnya: ia membatasi diri. Adapun batasnya adalah pengalaman.Ilmu mengatakan.Bahwa onyek diluar pengalaman itu bukan lagi masuk ke dalam obyeknya.[6]

Hal ini juga senada seperti yang disampaikan oleh Prof. Juhaya S Praja bahwa kebanyakan orang memperoleh pengetahuan dari pengalaman yang diperolah melalui inderanya.Lanjut beliau mengatakan bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang sistematis.Dan pengertian tersebut merupakan defenisi ilmu secra khusus.[7]Hal ini jelas karena pengethuan diperlukan untuk kepentingan universal, tidak serba tiba-tiba dan puas begitu saja, lalu dioalh secara sistemik atau bermotode.Ilmu membekali filsafat dengan bahan-bahan yang deskriptif dan factual yang sangat penting untuk membangun filsafat.

Sebenarnya yang menjadi permasalhan adalah manakala filsafat disandingkan dengan agama.Antara penggunaan pengalam saja dengan kewahyuan. Namun, baik agama maupun filsafat pada dasarnya mempunyai kesamaan, keduanya memiliki tujuan yang sama yakni mencapai kebenaran yang sejati. Perbedaab diantara keduanya terletak pada proses, kalau filsafat berdasarkan penyelidikan sendiri sedangkan agama berdasarkan kepercayaan. Filsafat tidak mengingkari atau menolak wahyu, tetapi tidak berdasarkan wahyu.Dalam filsafat untuk mencari sebuah keberan hakiki haruslah berdasarkan potensi diri sendiri baik lahir maupun batin.Agama tidak cukup dengan diri sendiri saja, harus didasarkan dengan percaya atau keimanan.[8]

Selanjutnya berbicara mengenai objek.Pada bidang filsafat, objek kajian adalah segala yang ada, tidak terbatas dan yang mungkin ada.Inilah yang biasa disebut objek material filsafat. Lalu apa bedanya dengan ilmu pengetahuan ? Dari segi objek materialnya filsafta dan ilmu pengetahuan memiliki objek yang sama namun berbeda dari segi objek formal. Ilmu pengetahuan akan berhenti penyelidikannya bila sesuatu yang diselidiki bias disediliki secara ilmiah saja. Berbeda dari filsafat, ia akan terus bekerja sampai keakar-akarnya. [9]

 

  1. C.    Filsafat : manusia dan alam (realitas)

Dalam memaknai filsafat manusia perlu mempelajari apa itu filsafat sendiri. Kata “filsafat” sudah kerap kali menakutkan orang dan banyak yang mengatakan, bahwa “filsafat” bukanlah sesuatu yang harus bisa dipelajari dan dipahami oleh orang biasa. Tapi disamping itu, banyak juga yang mengatakan bahwa orang atau manusia hendaknya berfilsafat, untuk mengetahui apa yang di sebut filsafat itu sendiri.[10]

Jika dianalogikan filsafat sendiri cakupanya sangat luas, tapi terdapat 2 pokok inti di dalam filsafat itu sendiri yaitu hubungan antara manusia yang mencari kebenaran terhadap alam disekitarnya (manusia dan alam). Alam disini maksudnya adalah pengalaman dari manusia itu sendiri terhadap pengalaman pribadinya dan juga pengalaman orang lain yang ada di sekitarnya. Sebenarnya hal ini hampir sama dengan cakupan sejarah. Jika ada pertanyaan “apa itu sejarah?” pasti pendapat antara satu orang dengan orang lainya akan berbeda. Tapi dalam pendapat yang berbeda-beda itu kita akan menemukan 2 pokok inti dari sejarah tersebut yaitu manusia dan masa lalu.

Manusia yang hidup di dunia akan selalu mencari tahu apa yang ingin diketahuinya dan jika usahanya itu tercapai, maka puaslah manusia itu. Dari kecil, rasa keingintahuan manusia tentang sesuatu hal segera akan nampak. Dari semenjak manusia mulai dapat bicara. Dari proses bicara ini maka timbulah bermacam-macam pertanyaan :apa ini, apa itu, mengapa demikian, dan mengapa begitu.

Sebab itu, manusia adalah manusia dan manusia bukanlah binatang.Binatang tidak bertanya tentang dirinya dan tidak mengembangkan dirinya, hanya memakai naluri atau insting. Berbeda dengan manusia, manusia mempunyai akal yang akan berkembang kearah imaginasi dan kreativitas untuk menemukan apa yang ingin ditemukannya.[11] Manusia tidak hanya mengerti akan dunia luarnya saja, tapi juga perlu mengerti akan dunia kecilnya juga. Dunia kecil maksudnya adalah dirinya sendiri atau dapat disebut diri manusia itu sendiri. Dalam memahami dirinya manusia memulainya dengan membedakan dirinya dari dunia luar dan orang orang lain disekitarnya. Mengalami dirinya sendiri sebagai satu kesatuan yang disebutnya “aku”. Manusia tahu akan apa yang dipikirkannya, dialaminya, dan diperbuatnya.

Manusia tidak hanya mengerti, tetapi mengerti bahwa ia mengerti. Manusia dapat giat dan tahu kegiatannya sendiri.Manusia adalah satu dan mengalami dirinya sebagai kesatuan juga yang disebut “aku”.Tapi ini tidak berarti bahwa seluruh kekayaan alam dengan tingkatan- tingkatan kesempurnaanya tersimpul dalam diri manusia dan dalam satu kesatuan, tetapi terutama karena berkat jiwanya mempunyai satu dunia batin yang tertutup.Apabila dunia batin ini kita selidiki lebih lanjut, maka terkandung berbagai gejala.Seperti kita melihat, mendengar, merasa sakit, jatuh cinta, benci dan lain sebagainya. Semua gejala ini walaupun agak berbeda-beda satu sama lain namun merupakan satu kesatuan juga. Karena semua itu dipersatukan dalam kesatuan “aku”.Bukanlah mata yang melihat, tetapi aku melihat dengan mata kepalaku.Bukannlah telinga yang mendengar, tetapi aku mendengar dengan telingaku.Yang berpikir itu bukanlah akal mmelainkan aku dengan mempergunakan akalku.

Jadi dalam kesadarannya manusia itu mengalami dirinya sebagai satu kesatuan, akan tetapi kesatuan itu tidak sempurna melainkan kesatuan yang terbagi. Contoh : dalam hati kita hiduplah keinginan-keinginan dan perasaan-perasaan yang saling bertentangan yang tidak mungkin bersama-sama dilaksanakan (missal membela tanah air sebagai pahlawan atau kabur menyelamatkan diri). Dari sebab itu maka manusia pergi ke luar untuk mencari dirinya sendiri dan memperkaya, memperlengkap, dan mengutuhkan dirinya dengan apa yang terdapat di luarnya. Manusia merupakan suatu dunia kecil yang berdiri sendiri dan bersamaan dengan itu juga merupakan bagian dari dunia besar.Maka dari itu timbullah usaha untuk mempersatukan dunia itu dengan dirinya.Dalam dunia itu manusia seakan-akan menemukan dirinya kembali karena antara manusia dan dunia luar itu ada suatu kesesuaian asasi. Dalam mengerti dunia luar (alam sekitarnya) ia mengerti akan dirinya sendiri, mengalami dirinya sebagai aku, jadi mempersatukan dirinya.

Manusia bukan sembarang benda yang ada di muka bumi ini, ia maklum akan dunia, artinya ia sadar bahwa ia maklum akan dunia sekitarnya. Biarpun ia hanya sebutir pasir yang ada di alam raya ini, namun menurut suatu arti alam raya ini ada dalam manusia.[12]

Sumber:

Theo Huijbers, 1986, Manusia Mereungkan Dirinya, Yogyakarta: Kanisius.

Poedjawiatna,1962,Pembimbing ke Arah AlamFilsafat, Jakarta: P.T. Pembangunan.

Juhaya S Praja, 2003, Aliran-aliran filsafat dan etika, Jakarta: Prenada Media.

Burhanudin Salam, 2003, Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara.

C.A. Van Peursen, 1991, Orientasi di Alam Filsafat, terjemahan Dick Hartoko, Jakarta: Gramedi Pustaka Utama.


[1] Mahasiswa semester Tujuh FIS-UNY Jurusan Pendidikan Sejarah

[2] Burhanudin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, hal: 51

[3] Juhaya S Praja, Aliran-aliran filsafat dan etika, Jakarta: Prenada Media, 2003, Hal: 1

[4]Op.,Cit, Burhanudin Salam, Hal; 58

[5] Poedjawiatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta: P.T. Pembangunan, 1962. Hal; 3-4

[6] Ibid., Hal: 7

[7]Op., Cit., Juharya S Praja, Hal: 9-10

[8] Ibid., Hal: 15-16

[9] Ibid., Hal: 17-18

[10]Op., Cit.,Poedjawijatna, Hal:1

[11]Theo Huijbers, Manusia Mereungkan Dirinya, Yogyakarta: Kanisius, 1986, Hal: 13

[12]C.A. Van Peursen, Orientasi di Alam Filsafat, terjemahan Dick Hartoko, Jakarta: Gramedi Pustaka Utama, 1991, Hal: 19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s