Kembang di Persimpangan Jalan, Proses mencari Identitas Diri: Dari Sudut Pandang Islam

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

 

 

 

Wanita pertama dan masa kelam

 

Tuhan menciptakan apa yang ada di dunia ini berpasangan. Siang dan malam, baik dan buruk, dan lain-lain termasuk juga pria dan wanita. Tuhan menciptkan segala sesuatu pasti dengan maksud yang baik, apa yang sudah menjadi ketentuan Tuhan (sunnatullah) adalah kebaikan. Kenapa Tuhan menciptakan berpasangan? Karena mereka akan hidup saling melengkapi. Apalah jadinya dunia bila malam tanpa siang atau sebaliknya. Begitu juga dengan manusia. Manusia diciptakan berpasangan. Setiap masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangn yang nantinya akan saling melengkapi satu sama lain. Manusia sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Pada tulisan ini, saya akan lebih memfokuskan pada wanita. Bagaimana wanita begitu menjadi sosok yang teramat sitimewa dan begitu sentral dalam kehidupan manusia. Dalam perspektif agama Islam, wanita pertama yang diciptakan Tuhan ialah Siti Hawa. Siti Hawa diciptakan Tuhan atas permintaan Nabi Adam a.s. yang ditempatkan oleh Tuhan di Surga. Adam merasa sebagai manusia pertama merasa kesepian, lalu ia bermunajat agar diciptakan pasangan. Dan Tuhan mengabulkan permintaan itu. Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Peristiwa ini diabadikan didalam kitab suci AL-Qur’an. Hingga akhirnya mereka melakukan kesalahan yang harus membuat merka menerima hukuman dari Tuhan untuk tinggal di bumi dan dipisahkan ditempat yang berbeda sampai akhirnya mereka bertemu kembali pada suatu tempat yang terkenal yakni Jabbal Rahmah.

 

Secara umum, fakta sejarah mengatakan bahwa kondisi wanita pra-Islam bisa dibilang masa-masa suram, dan mimpi buruk bagi wanita. Bagaimana tidak? Wanita kala itu digambarkan sebagai simbol pemuas nafsu semata. Mereka diperlakukan tidak lebih sebagai layaknya seorang budak. Mereka dihina dan diperlakukan kasar, martabat mereka direndahkan. Kehidupan mereka hanya menjadi manusia kelas dua atau second human.[1] Bahkan dinegeri lahirnya Islam yakni jazirah Arab, keadaan perempuan jauh lebih buruk. Keadaan yang terkenal dengan zaman jahiliyah. Perempuan pada masa itu benar-benar berada pada kondisi yang sungguh tidak manusiawi. Mereka hanya dijadikan ajang pemuas nafsu binatang-binatang para pemimpin jahiliyah. Dijadikan ajang lelang, habis manis sepah dibuang, kiranya cukup untuk mewakili bagaimana kondisi wanita kala itu. Bahkan, wanita dianggap sebagai beban bagi keluarga, aib bagi keluarga dan negara. Makanya, apabila lahir anak perempuan harus di bunuh dengan mengubur mereka hidup-hidup. Laki-laki jahiliyah memiliki otoritas penuh atas hak perempuan. Keadaan seprti ini tentu ada penyebabnya, selain keadaan kemiskinan spritual (akhlak) mereka serta pendidikan yang kurang. Dari aspek sosiologis, yang menyebabkan adanya kebiasaan seperti itu ialah kondisi masyarakat pra Islam identik dengan perang. Perang antar suku. Biasanya, kalau perang kan yang dibutuhkan adalah laki-laki, maka dari itu perempuan tidak menjadi perhitungan. Tidak hanya itu, konflik antar suku juga mewarnai keikutsertaan tertindasnya kaum hawa ini, mereka yang menjadi tawanan akan dimintai tebusan oleh pihak lain.(Haifaa A. Jawad:1-4)

 

Masa Pencerahan dan sosok sejati wanita

 

Adalah Islam yang menyebabkan kedudukan kaum perempuan didefenisikan ulang secara radikal. Islam merubah posisi perempuan yang semula tidak berharga, tidak bermartabat akhirnya mendaptkan balasan yang setimpal. Perempuan bisa “sejajar” dengan laki-laki dalam artian posisi sebagai manusia dan makhluk ciptaan Tuhan. Islam mengajarkan keadilan. Hingga derajat perempuan (ibu) lebih tinggi dari laki-laki (ayah). Hal ini seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW yakni derajat ibu lebih tinggi tiga derajat dari ayah. Dalam hubungan dengan Tuhan, tidak ada perbedaan baik laki-laki maupun wanita. Siapa yang berbuat kebaikan akan mendapatkan pahala dan begitu juga sebaliknya. Hal ini disampaikan dalam firman Tuhan surat Ali-Imran ayat 195.[2]  Dan masih banyak lagi ayat yang menerangkan posisi dan keadaan wanita yang setara dengan laki-laki. Islam begitu jeli dan teliti melihat fenomena yang dialami wanita. Datangnya Nabi Muhammad sebagai nabi akhir zaman menguatkan akan betapa berharganya seorang wanita dan beliau menjadi sosok yang begitu berpengaruh dalam merubah keadaan wanita menjadi lebih baik. Didikan beliau melalui syia’r Islam banyak melahirkan wanita-wanita tangguh dan bermartabat serta dikenang dalam sejarah umat manusia. Sebut saja istri beliau yang pertama yakni Siti Khadijah. Seorang wanita yang dengan segala upaya dan daya ikut memperjuangkan Islam bersama Rasulullah SAW. Biarpun saat menikah umur mereka terpaut jauh, pada saat itu, Rasulullah lebih muda ketimbang Khadijah yang sudah menjadi janda. Namun, bakti seorang istri kepada suami sangat kuat. Beliau menjadi panutan bagi wanita-wanita muslim kala itu bahkan hingga kini. Tidak hanya Siti Khadijah, sebut saja A’isyah istri kedua Rasulullah, lalu Fatimah yakni putri Rasulullah sendiri. Dari rahim Fatimah melahirkan orang-orang hebat dan besar dan juga berpenagruh terhadap sejarah peradabanm manusia. Seperti itulah wanita yang sejati, wanita-wanita yang nanti dari rahimnya akan menjadi sosok yang berpengaruh, sosok yang hebat dan dikenang dalam sejarah manusia sebagai orang yang membawa kebaikan bagi semua orang.

 

Di dalam Al-Qur’an, banyak sekali mencertakan tentang wanita-wanita hebat yang pernah digoreskan oleh perjalanan panjang sejarah Islam termasuk masa-masa sebelum datangnya Al-qur’an. Sebut saja Siti Maryam, Siti Zulaikha dan lain sebagainya. Peranan wanita tidak hanya sebatas pada ranah kerumahtanggaan saja, kita bisa lihat pada sosok ratu sheba dan balqis yang keduanya menjadi seorang punya pengaruh pada bidang politik.[3] Jadi sebenarnya, kurang tepat kalau wanita tidak boleh ambil bagian dalam perpolitikan, selagi ia masih bisa menjaga kodratnya sebagai seorang wanita.

 

Era Kontemporer dan Mencari Identitas

 

Adapun pada saat ini, seiring dengan perkembangn zaman, maka konsep wanita pun juga ikut berkembang, bagaimana peranan, eksistensi, dan juga otoritas kitab suci yang kadangkala bagis ebgian mereka (wanita) malah menyudutkan kaum mereka. Mereka juga masih merasa menjadi manusia kelas dua. Memang banyak faktor yang melatarbelakangi hal ini. Terkadang aknum kaum agawan yang mengatasnamankan agama (kitab suci) untuk memenuhi kepentingan pribadi.Jadi, seolah-olah, agama dijadikan tameng untuk memuaskan hasrta pribadi. Atau bisa juga, menafsirkan sebuah ayat atau hadist itu secara tekstual dan mentah-mentah (taqlid). Dan bisa juga bahwa ada oknum-oknum yang sengaja mensekenariokan gejala ini untuk merusak moralitas dan mengadu domba umat.

 

Sebenarnya, sejarah, khususnya Indonesia, banyak melahirkan wanita-wnaita yang tangguh dan memperrjuangkan nasib kaum wanita dan sekaligus mencitrakan bahwa wanita juga bisa melakukan gerakan sosial. Sebut saja R.A. Kartini yang fokus dalam bidang pendidikan pada masa kolonial untuk membangkitkan kembali kekuatan wanita dan juga Cut Nyak Dien yang langusung turun di garis depan meminpin perlawanan terhadap penjajah.[4] Namun tidak jarang juga wanita menjadi pemuas nafsu birahi para penikmat nafsu sesaat. Misal pada masa penjajahan Belanda terkenal dengan sebutan “Nyai” kehidupan mereka atau status sosial mereka lebih tinggi dibandingkan pada masa penjajahan Jepang. Terkenal dengan sebutan Jugun Ianfu, nasib mereka benar-benar tidak berharga, seperti kembali lagi pada masa jahiliyah.

 

DI era kontemporer seperti saat ini, dimaan semakin berkembangnya arus globalisasi menentukan atau memengaruhi wilayah yang dianunginya. Bagi wilayah yang tidak siap untuk menerima arus globalisasi yang tinggi maka akan berdampak tidak baik bagi kondisi sosial dan kultural bagi daerah tersebut.

 

 

 


[1] Asghar Ali Enginer, Pembebasan Perempuan,Yogyakarta: LkiS, 2003, Hal: 39

[2] Maka Tuhan mereka memperkenankan permintaan mereka (dengan berfirman),”sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kalian, baik laki-laki maupun perempuan, karena seungguhnya kamu adalah keturunan dari sebgaian yang lain……….(Q.S. Ali Imran: 195)

[3] Charis Waddy, Wanita Dalam Sejarah Islam, Jakarta:Pustaka Jaya, 1980, Hal:60-63

[4] Abdul Wahib Situmorang, Gerakan Sosial, Studi Kasus Beberapa Perlwanan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, Hal: 76

 

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s