Kurikulum berubah-ubah : “Malpraktek” Pendidikan ?

Pendidikan merupakan elemen terpenting dalam sejarah kehidupan umat manusia. Pendidikan bagian dari peradaban manusia. Pendidikan menentukan tingkat peradaban umat manusia. Melalui pendidikan, kita dapat dikenal dan dikenang sejarah. Dalam perkembangannya, berbagai jenis dan sifat penyelenggaraan pendidikan diterapkan oleh manusia-manusia dimuka bumi. Termasuk juga berubah-ubahnya penyelenggaraan yang diterapkan oleh masing-masing negara. Pendidikan bertujuan untuk membuat peradaban suatu Negara menjadi lebih baik dengan terselenggaranya pendidikan yang tinggi. Akan tetapi, hal tersebut tentu tidak berjalan dengan baik di setiap negara. Karena masing-masing negara memiliki dasar atau konsep pendidikan sendiri. Termasuk di Indonesia, secara hsitoris, tokoh-tokoh bangsa ini telah merumuskan konsep pendidikan yang saya rasa ideal bagi bangsa ini. Sebut saja, Ki Hajar Dewantoro, Ahmad Dahlan, dan juga R.A. Kartini. Mereka telah merumuskan konsep pendidikan yang cukup tinggi, pada masanya (zaman penjajahan). Lalu kenapa pada saat ini, pemerintah seperti kehilangan pijakan dalam perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan. Sistem yang berubah-ubah, kurikulum yang gonta-ganti tidak membuahkan hasil yang maksimal. Pemerintah terkesan tidak serius untuk mencerdaskan negeri ini. Bisa saja, kurikulum diubah-ubah, mungkin yang dilihat pemerintah, penyakit yang selama ini didera pendidikan di negeri ini adalah soal kurikulum. Namun, kita bias lihat, mulai dari kemerdekaan hingga reformasi saat ini, pendidikan di Indonesia belum sesuai dengan Pembukaan UUD 1945. Terselengaranya pendidikan terkesan pragmatis-formalistik. Dengan terlalu seringanya perencanaan pendidikan (kurikulum) diubah-ubah, pemerintah terkesan tidak serius dan hanya coba-coba perencanaan pendidikan dan yang jadi korban adalah mereka-mereka putra bangsa yang berjuang di garis depan. Dengan fasilitas, sarana dan prasarana yang tidak memadai harus menjadi tumbal sikap arogansi pemerintah. Mau apapun obatnya, kalau penyakit dasarnya tidak diketahui dan diobati sama saja. Malah yang lebih parah kalau salah ngasih obat, wah itu sudah malpraktek namanya. Mungkin inilah yang sedang terjadi di negeri ini, sudah berulang kali ganti kurikulum ternyata belum maksimal atau malah obatnya bukan itu. Pemerintah belum jeli melihat keadaan yang kronis di garis depan, pemerintah harus lebih menggali algi filosfi pendidikan di negeri ini, tanpa harus memaksakan untuk mengubah kurikulum ataupun perencaan pendidikan, penyakit yang selama ini didera akan terobati dengan sendirinya. Jadi tidak akan terjadi malpraktek dalam pendidikan di negeri ini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s