Liberalisme : Jalan menuju Kebagahagian Hidup

Liberalisme merupakan paham yang mengutamakan kemerdekaan individu. Paha mini berkembang dengan pesat di kota-kota besar Eropa yang didukung oleh kaum Borjuis dan kaum terpelajar kota. Yang paling uatma dan penting dalam doktrin paham ini ialah meleburnya sebuah rasa fanatisme kekeluargaan atau adat-istiadat kebiasaan daerah dalam kelompok. Pengaruh Liberalisme terus eksis hingga decade abad ke-19, namun mengalami penurunan pada abad ke-20. Liberlisme tergusur oleh kegiatan buruh. Negara-negara industry mulai merasakan perlu untuk melindungi serta meninggalkan perdagangan bebas.

Dilatar belakangi oleh kehidupan kota yang keras dan bebas, mendorong mereka (kaum borjuis dan intelektual) untuk memikirkan kehidupan sendiri dan bersaing secara ketat antara satu dengan yang lainnya. Berarti terajdi kompetisi dalam mempertahankan hidup. Liberalisme mendorong manusia untuk merdeka secara individu, hal tentu sangat penting, bagaimana kita akan membebaskan kehidupan orang alin, kalau kita sendiri belum bebas secara individu.

Dinegara-negara besar Eropa, pada waktu itu, kehidupan individu sangat dikekang, sehingga terjadi perkembangan yang meluas, dari pengekangan individu, ke individu-individu (dalam artian banyak). Seperti revolusi Perancis, berangkat dari kebebasan individu yang dikekang mengakibatkan para intelektual dan kamu borjuis  memimpin sebuah revolusi.

Liberlisme berkembang sangat pesat, memasuki ke berbagai sendi kehidupan manusia. Mulai dari agama, politik, ekonomi, dan pers. Bahkan, demokrasi merupakan proses dari hasil liberalisasi pada bidang politik.

Liberalisme juga mengedepankan kebebasan berkehendak bagi manusia.[1] Akal dan rasio menjadi point penting dalam Liberalisme. Liberalisme mendorong kita pada kebebasan individu yang tentunya ingin dicapai oleh semua orang, serta menuju jalan kebahagiaan yang hakiki. Logikanya, apabila semua manusia telah bebas secara individu tentu koletivitas kebebasan akan tercapai. Karena sudah tidak ada lagi individu ataupun kelompok yang tertindas.  Terbukti, hingga sekarang, Liberalisme  masih eksis dalam sendi kehidupan manusia, tanpa disadari maupun disadari. Kalau mengutamakan kepentingan kelompok(kebebasan) hanya akan menampilkan sosok tertentu yang akan menjadi pemimpin dan “penindas” berikutnya, karena kelompok hanya tahu digerakkan, seperti robot. Mereka hanya mengikuti apa kata pemimpin kelompok, tanpa tahu apa yang akan terjadi setelahnya karena mereka secara individu belum merdeka. Berbeda dengan kebebasan yang menekankan kepada individu, individu yang telah bebas maka akan berani untuk mengungkapkan hak kebabasan.


[1] Hasan Hanafi, Bongkar Tafsir; Liberalisme, Revolusi, Hermeneutik, Yogyakarta: Proisma Sophie Pustaka Utama, 2003. Hal: 43

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s