Jeritan Suara Hati Wanita

Resensi

JudulKembang-Kembang Genjer

Penulis: Fransisca Ria Susanti

Penerbit: Jejak, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, 2007

Tebal:  203 Halaman

Jeritan Suara Hati Wanita[1]

Oleh: Wira Syafutra[2]

Pembicaraan mengenai wanita selalu kompleks dan sensitif. Perihal eksistensi wanita sebagai makhluk yang bisa dikategorikan menjadi simbol yang diagungkan sekaligus direndahkan. Wanita juga merupakan simbol yang menentukan suatu peradaban akan pada masa kejayaan dan juga kehancuran. Hal yang juga menyayat hati adalah perlakuan “tumbal” bagi seorang wanita. Wanita kerap kali dijadikan tumbal demi ambisi manusia yang serakah.

Di Indonesia, eksistensi wanita mengalami dinamika yang rumit dan galau. Wanita tetap dibawah bayang kaum laki-laki, apalagi pada masa kerajaan Hindu-Budha di Indonesia. Sistem patrialkal sangat kental dalam kehidupan masyarakat kala itu. Feodalisme berdampak pada stratifikasi sosial di masyarakat. Hingga kedatangan Islam datang, sebenarnya harkat dan martabat wanita sebenarnya sudah mulai terangkat. Akan tetapi sisa-sisa dari kenangan masa lalu masih membekas dan terbawa sampai saat ini.

Memasuki era kolonialisme perjuangan wanita untuk menunjukkan eksistensi diri juga terhambat. Mereka sekali lagi harus menjadi budak dari manusia serakah. Terutama pada masa penjajahan fasis Jepang yang sangat tidak menghargai harkat dan martabat kaum wanita. Bahkan sampai Ibu Pertiwi ini merdeka, wanita belum mendapatkan posisi yang menyenkan. Mereka harus tetap bereada dibawah bayang kaum laki-laki.

Salah satu kenangan hitam yang ada dalam benak masyarakat Indonesia adalah tragedi di malam 1 Oktober 1965. Malam kelam bagi sejarah Indonesia. Malam yang menjadi petaka bagi sebagian orang yang tidak berdosa terutama wanita. Era 1950-an dan 1960-an muncul sebuah organisasi wanita yang besar kala itu – Gerwani. Wanita Indonesia mulai membumi dan juga mendunia.

Namun sayang, eksistensi mereka harus terhenti pasca tragedi September 1965. Mereka dituding ikut dalam upaya kudeta yang di laksanakan oleh PKI dan segelintir oknum militer. Gerwani dituding sebagai underbouw PKI. Mereka dikatakan melakukan “tarian  harum bunga” sambil menyanyikan lagu genjer-genjer saat Jenderal-jendaral itu diciduk dan juga mereka dituduh melakukan penyeyetan kemaluan para Jenderal tersebut.

Buku “Kembang-kembang Genjer” karya Fransisca Ria Susanti merupakan sebuah karya  yang mencoba memutar balikkan stigma masyarakat Indonesia terhadap eks gerwani. Buku yang menceritakan  sebagian eks gerwani yang ditahan pasca tragedi September 1965. Buku ini berisi mengenai “curhatan” para eks gerwani yang tersakiti sebagai seorang warga Indonesia dan wanita terutama. Mulai dari penangkapan hingga perlakuan sebagai tahanan yang mereka kira diluar batas prikemanusiaan.

Buku ini juga mengisahkan kengerian-kengerian yang mereka alami selama menjadi tahanan Orde Baru. Tidak hanya itu, lagu genjer-genjer yang sebenarnya merupakan lagu daerah Banyuwangi yang akrab pada dekade 1960-an menjadi lagu yang terlarang. Siapa saja yang menyanyikan lagu tersebut dianggap PKI dan itulah yang terjadi pada salah satu wanita yang dikisahkan dalam buku ini. Ada juga harus merelakan masa muda, karir, perkejaan dibalik jeruji besi.

Buku mengenai sejarah wanita yang ditulis dari sudut pandang wanita. Penulis berusaha untuk tidak hanyut sebagai seorang wanita beruasa tetap obeyktif walaupun memang, saya melihat buku ini masih memiliki kekurangan dari segi perbandingan dan juga data-data yang lebih akurat. Itu memang karena data-data mengenai seputar tragedi 1965 tersebut masih hitam-putih. Terlepas dari itu semua, tulisan nona Fransisca ini cukup untuk membuka tabir yang masih hitam seputar tragedi September 1965 dan juga keterlibatan Gerwani.

Setelah sekian lama mereka dibungkam, kini dengan sebuah sejarah lisan lewat tangan dingin Fransisca Ria Susanti, mereka bicara. Mereka membuka diri untuk membuat sebuah fakta yang tersembunyi. Ditambah dengan wawasan jurnalistik Farnsisca, buku ini lahir – sebuah jeritan suara hati wanita – eks gerwani. Korban-korban yang menjadi tumbal kekuasaan. Kehidupan wanita selalu penuh dilema. Di satu sisi mereka ingin keluar dari belenggu yang telah menjerat sangat lama, disisi lain mereka tidak bisa melepaskan kodrat mereka sebagai seorang wanita.

Tetapi memang seperti itu sudah menjadi kehendak sang pencipta. Di dalam ajaran agama tidak ada pelarangan wanita untuk “tunduk” kepada kaum laki-laki, namun bukan berarti pula bisa atau setara dengan kaum laki-laki. Ada hal-hal khusus yang memang sudah menjadi kodrat wanita namun tanpa harus mengurangi atau menindas eksistensi wanita. Terkadang adat justru lebih mengekang eksistensi wanita ketimbang agama, terutama agama Islam. Akan tetapi, memang fenomena-fenomena terkait perlakuan tidak menyenangkan bagi kaum wanita masih saja terjadi. Wanita masih sebagai objek bukan subjek. Tragedi September 1965 menyeret – wanita – Gerwani kedalam lingkaran kemunafikan manusia yang tidak bertanggung jawab.

 

 

 


[1] Resensi yang diajukan demi memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia Kontemporer

[2] Mahasiswa Pendidikan Sejarah semester tujuh Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s