“Krisis Ketauladanan”

Kekerasan yang merajalela akhir-akhir ini yang terjadi di negeri ini mengindikasikan bahwa Indonesia memang merupakan tempat bagi para pelaku kekerasan. Tidak hanya dari anak muda bahkan sampai oknum-oknum pejabat pemerintahan juga melakukan tindak kekerasan. Generasi muda yang seharusnya menjadi penerus bangsa justu harus mengahadapi realita bahwa para “orang tua”—kini tidak bisa diharapkan untuk mencetak generasi muda yang unggul. Dunia pendidikanpun tidak luput dari kekerasan, baik itu antar siswa, maupun guru dan siswa. Guru, yang seharusnya menjadi tauladan bagi anak didik malah berbuat yang tidak semestinya. Pelecehan terhadap murid oleh guru seperti sudah menjadi hal yang lazim di negeri ini.

Pancasila sebagai falsafah bangsa yang didalamnya t  erkandung unsur-unsur ataupun nilai-nilai budi pekerti serta moralitas bahkan akhlak kurang bahkan tidak berfungsi. Hal itu terjadi karena dunia pendidikan yang tidak stabil. Dunia pendidikan hanyalah formalitas bagi mereka yanug mencari keuntungan lewat pendidikan. Politik juga demikian. Para elit politik tidak mencerminkan tingkat usia berbanding lurus dengan kedewasaan. Sajian hangat di media cetak maupun elektronik hanya menampilkan kekerasan politik. Saling sikut menyikut antara elit politik juga sudah menjadi ciri khas perpolitikan di Indonesia, sebenarnya tidak hanya di Indonesia.

Di lingkungan sekitar juga tidak henti-hentinya tindak kekerasan terjadi, entah itu antar tetangga ataupun antar desa. Bahkan, dalam lingkup yang paling kecil, keluarga, kekerasan juga bisa saja terjadi. Masyarakat Indonesia tidak pernah lepas dari yang namanya emosionalitas. Semenjak zaman penjajahan, terutama saat Belanda menjajah, mereka menggunakan taktik de vide et impera (politk pecah belah/adu domba). Dewasa ini, krisis ketauladanan justru melanda negeri yang telah merdeka malah semakin memperburuk keadaan. Sesama rakyat Indonesia harus saling bermusuhan.  Masing-masing memiliki pendapat dan berupaya mempertahankan itu dengan cara apapun. Pemimpin-pemimpin yang seharusnya menjadi tauladan tidak bisa diandalkan untuk mengubah keadaan. Peribahasa “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari” memang menjadi kenyataan disaat ini. Kalau pemimpinnya saja bisa berbuat demikian, bagaimana anak buahnya. Lebih miris lagi, apabila tindak kekerasan itu dilakukan di dunia pendidikan oleh seorang guru. “Guru, di gugu dan ditiru”, seperti menjadi boomerang bagi generasi bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s