DPR (Dewan Penguras Rakyat)

Masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri, urus saja moralmu, urus saja ahklakmu peraturan yang sehat yang kami mau. (Iwan Fals). Sebait lagu bang Iwan Fals ini cukup memberi  gambaran bagaimana seharusnya tindak tanduk seorang pemimpin dalam mengurusi apa yang dipimpinnya. Yang diinginkan rakyat adalah peraturan yang sehat. Peraturan yang sehat itu juga harus berlaku bagi semua pihak terutama rakyat dan pemimpin setelahnya.

Pemimpin seharusnya menjadi suri tauladan yang baik bagi bawahannya. Pemimpin harus memilki jiwa ksatria yang tangguh. Pemimpin bukanlah seorang peminta-minta. Pemimpin itu kaya. Pemimpin itu tidak perlu dikasihani. Pemimpin itu peka terhadap apa yang terjadi disekitarnya. Pemimpin itu sejatinya perpanjangan tangan dari yang dipimpin. Pemimpin itu wakil. Dan pemimpin itu sejatinya menjadi “pengurus” yang diurus. Tapi yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Pemimpin menjadi penguras rakyat.

Rakyat hanya menginginkan peraturan yang sehat. Apa itu peraturan yang sehat? Peraturan yang adil. Adil bukan berarti sama rata, akan tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai dengan kondisi dan situasinya. Tidak sembarangan seorang pemimpin atau wakil rakyat mengeluarkan sebuah peraturan. Ibarat sebuah fatwa, peraturan tidak bisa sembarangan di keluarkan. UU (Undang-undang) harus memiliki kekuatan keadilan tinggi. Jadi tidak akan mengelurkan polemik  ataupun kontroversi. Dan itulah yang kini melanda bangsa Indonesia.

Parta pembuat keputusan (UU) belum melihat secara konvrehensif terhadap apa yang tengah terjadi disaat keputusan itu akan dilaksanakan baik saat keputusan itu berlaku hingga kini. Dana pensiun bagi anggota DPR bisa saja itu hal yang baik tetapi belum tepat berlaku di negeri ini. Masih banyak hal yang harus diurusi dan jauh lebih penting dari pada mengurusi dana pensiun. Pantas saja tidak ada perubahan yang lebih baik di negeri ini karena para wakil rakyat, para pemimpin hanya mementingkan urusan perut masing-masing.

Tugas mereka memang pantas diberi apresiasi tinggi jika apa yang mereka kerjakan sudah tepat dan adil. Tugasnya wakil rakyat bukanlah “mencekik” leher rakyat. Tugas wakil rakyat adalah mengurusi rakyat, bukan menguras rakyat. Menguras keadilan. Dan menguras kepercayaan. Yang ada hanyalah menimbun ketamakan, menimbun keserakahan, dan menimbun kemunafikan. Ibarat  bom waktu yang siap meledak. Semoga selalu ada perubahan. Selalu ada cahaya setelah kegelapan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s