Ae Pettu

Beberapa hari yang lalu, penulis mendapat undangan dari masyarakat sekitar. Tidak seperti undangan pada umumnya. Undangan ini memiliki sebuah istilah khusus walau dengan maksud yang umum. Ae Pettu, tertulis jelas di undangan tersebut. Penulis mendapat dua undangan. Pertama dalam rangka rehabilitasi masjid dan kedua mengenai pernikahan. Tentu tujuan maksud kedua undangan ini berbeda, namun memiliki kesamaan yakni Ae Pettu. Penulis bertanya-tanya, apa maksud dari Ae Pettu tersebut.
Ternyata, Ae Pettu merupakan sebuah tradisi masyarakat Ende pada umumnya yang dilakukan dalam rangka penggalangan dana untuk sebuah pesta ataupun untuk kegunaan lainnya. Bisa dalam rangka penyelenggaraan pesta pernikahan, untuk rehabilitasi bangunan (masjid), untuk syukuran wisuda, sunatan, sampai pada bantuan bagi seorang anak untuk biaya sekolah.
Ae Pettu terdiri dari dua suku kata, yakni Ae yang berarti air dan Pettu yang berarti panas. Jadi Ae Pettu artinya air panas. Tradsisi ini dipegang kuat oleh masyarakat Ende.
Bisa dibilang, rasa kekeluargaan masyarakat Ende bisa dilihat dari tradisi Ae Pettu ini. Keragaman (agama) seolah bersatu dengan adanya tradisi ini. Bantuan yang diberikan bisa menghasilkan dana yang sangat besar. Khusus bagi orang-orang tertentu (biasanya dari keluarga), akan memberikan bantuan yang sangat besar, tergantung dari maksud Ae Pettu tersebut.
Misalnya saja untuk resepsi pernikahan, bantuannya bisa berupa sapi (bisa 2-3 ekor). Sedangkan masyarakat lainnya, secara suka rela. Dari pengalaman yang penulis dapat, bantuan yang diterima untuk resepsi pernikahan mencapai 50 juta, dengan 3 ekor sapi. Kalau demikian, jelas sudah amat sangat membantu melaksanakan resepsi pernikahan. Ae Pettu itu juga berlaku bergantian. Jadi, nantinya bergiliran, apabila hendak akan melaksanakan pesta. Hubungan kekeluargaan menyatu dalam tradisi—Ae Pettu.
Bila ada Ae Pettu, maka yang akan bersanding adalah Gawi. Gawi merupakan tarian khas di Kabupaten Ende. Tarian ini memiliki bneragam versi. Namun, yang diklaim tarian asli gawi berasal dari suku Lio. Di Ende, ada dua suku besar yakni suku Ende dan suku Lio. Suku Lio menghuni Ende bagian timur dan lebih pedalaman, dengan topografi jurang dan tebing-tebing dengan bebatuan besar.Sedangkan Ende menghuni sekitar pesisir di bagian barat.
Tarian gawi pasti akan selalu ada disetiap adanya pesta, setelah sebelumnya ada Ae Pettu. Ae Pettu ini juga mengaalami perkembangan. Bila dahulu, Ae Pettu nya memang ada. Artinya, hidangan untuk para tamu ada air panansnya, entah itu berupa kopi, the, maupun air panas. Sedangkan saat ini, lebih simpel yakni dengan air mineral ( farry, kelimutu). Untuk tarian gawi itu sendiri gerakannya juga berbeda antara suku lio dan suku ende. Bila pada suku lio, tanpa menggunakan musik dari sound sistem. Jadi menggunakan suara asli langsung, sedangkan pada suku ende menggunakan rekaman, menggunakan sound sistem. Untuk lebih jelasnya, tunggu lanjutannya ya,,
Kembali pada Ae pettu. Sekali lagi saya tekankan bahwa, Ae Pettu merupakan simbol kebeersamaan, kekeluargaan, gotong royong masyarakat Ende secara keseluruhan. Tradisi yang dibangun dalam menyandingkan perbedaan agar tetap hidup bersama. Namun, memang, sisi negatifnya adalah, penghamburan dalam mengadakan pesta. Untuk pesta ini juga unik dan mohon kesabarannya untuk menunggu cerita selanjutnya, hehe.
Untuk sementara, ini dulu yang bisa penulis sampaikan, mengenai salah satu tradisi di Kebupaten Ende.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s