KM 17

 

Sudah beberapa minggu ini saya pesiar (red. Jalan-jalan dalam istilah masyarakat Ende) ke arah timur yakni ke daerah yang mayoritas dihuni oleh suku Lio. Pemandangan yang begitu indah mewarnai perjalanan saya dan teman saya. Menaiki sepada motor sewaan, Supra X 125, berwarna  dominasi merah dan sedikit hitam. Kami menyewa motor tersebut seharga 300 ribu untuk satu bulan. Sepeda motor yang didapat dari tawaran seorang guru teman saya di sekolah katolik Frateren Ndao. Sekolah yang disebut-sebut sebagai salah satu sekolah unggulan di kabupten Ende selain Syuradikara.

Memanfaatkan waktu senggang alias week end, pesiar ke daerah penempatan teman-teman yang lain. Kebanyakan, teman-teman dari UNY yang ditempatkan di Kabupaten Ende, ditempatkan di daerah timur yakni daerah pegunungan. Jalur utama untuk sampai kesana saja sudah membuat bulu kudu merinding. Tebing-tebing dengan bebatuan besar, jalan berkelok-kelok, dan jurang yang dalam harus ditemui selama perjalanan. Walaupun demikian, keindahan alamnya masih sangat memanjakan mata.

Bukit-bukit hijau dengan air terjun menambah  keindahan tersebut. Dari titik 0 KM kota Ende, sudah terlihat bukit berbaris-baris bak gelombang dilautan. Mencapai KM 8, hijau bukit-bukit ditambah dengan kali-kali besar serta air terjun yanag tinggi terlihat dengan jelas.  Suatu sentuhan seni yang  indah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Itu baru sedikit dari sekian banyak keindahan yang Tuhan hadirkan di bumi tercinta ini. Namun, memang, Tuhan menghadirkan segala sesuatu selalu berpasang-pasangan.

Ada siang, ada malam. Ada wanita ada pria. Ada jelek, ada bagus. Ada panjang, adapula pendek. Ada tua, ada muda. Segala sesuatunya diciptakan berpasangan dan saling melengkapi, agar kita berfikir. Kenapa harus ada persamaan, kalau perbedaan saja sudah menghadirkan sebuah keindahan. Manusia dituntut untuk berfikir terhadap apa yang terjadi dimuka bumi karena sejatinya manusia diberi kelebihan ketimbang makhluk lain, yakni akal untuk berfikir.

Seperti apa yang dikatakan oleh Deskartes, “aku berfikir, maka aku ada”, itu artinya, Deskartes menggunakan akal pikirannya untuk hidup dan menjalani kehidupan di dunia. Berfikir mengenai dirinya sendiri, berfikir mengani alam semesta, dan berfikir mengenai sang pencipta. Namun, memang, tidak selamanya apa yang bisa dijangkau oleh fikiran mampu menjawab permasalahan yang terjadi karena ada hal-hal yang tidak mungkin terjangkau oleh akal manusia. Namun, pada intinya adalah berfikir.

Tuhan memperlihatkan keagungannya pada KM 17. Sebuah pemandangan yang bertolak belakang dibandingkan dengan KM yang sebelumnya. Tebing-tebing tinggi dengan bebatuan besar dan longsor-longsor serta jurang-jurang yang dalam menghiasi perjalanan di KM 17. Pada waktu itu, perjalanan saya dan teman terhenti karena ada longsor. Setelah beberapa menit, bisa di lalaui, namun terhenti lagi karena ada batu-batu besar setinggi sepeda motor yang menutupi jalan. Jadi, para pengendara lain, berinisiatif untuk menghancurkan dan memindahkan batu-batu tersebut.

Setelah satu setengah jam, akhirnya kami berhasil untuk memberi cukup celah agar sepeda motor bisa melewati jalan yang terpalang tersebut. Sepanjang kami membuat celah, dengan menghancurkan batu-batu tersebut, longsor menemani kami. Hal itu terjadi karena dentuman yang keras mengefek pada pecahan-pecahan batu yang sudah tidak memiliki tumpuan untuk menancap pada dinding tebing sehingga mengakibatkan longsor kecil-kecil. Dikala hal itu terjadi kami bertriak dan berhamburan dan itu terjadi berjakali-kali. Untung saja, ada batu-batu besar yang menghalang pada sisi tepi jalan yang menghambat longsor untuk tidak sampai kejalan. Dan akhirnya perjalanan malam kami bisa dilanjutkan, walaupun medan jalan berikutnya juga tidak jauh berbeda. Jalan yang berkelok-kelok, berlika-liku, ibarat sebuah kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s