Terkadang….

Salam SEMPAK!!!!!!!!!!!

Hy bapak kos (bung oemar) yang pekok, sang pertama mesum, apa kabar?
Bung Ahda (yang sering disapa Onta sama si cupu alias radit) how do you do?
and, anggota sempak yang baru, hehe…salam kenal.

Kalian semua dapat salam dari Ende-Flores!

Aku hanya akan sedikit menceritakan sepercik pengalaman selama 2 bulan terakhir ini, terutama di sekolah…

Duduk sambil menatap langit biru disiang hari di tempat piket membuatku ingin menuliskan sebuah unek-unek dalam hati, namun aku tak tahu harus menulis tentang apa. Tidak ada yang hendak aku tuliskan. Yang aku lakukan hanyalah bertanya-tanya, hendak menulis apa. Akhirnya jawabanku terjawab, setelah aku menyaksikan sebuah fenomena menarik. Siswa dipukul didepan tempat terbuka. Dan yang memukul adalah guru. Jelas hal, ini membuat aku tersentak, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Ada tindak militer dalam dunia pendidikan.

Aku berada di tempat yang menerapkan pendidikan semi militer di sekolah. Ende, NTT, Flores. Flores, diambil dari bahasa Portugis—labo de flores—tanjung bunga(lihat Kamus Sejarah Indonesia). Pulau ini terletak di Nusa Tenggara Timur, tempat saya bertugas mengajar bersama teman-teman dari Universitas Negeri Yogyakarta. Kami disebar kebeberapa kecamatan di Ende. Dan permasalahannya hampir sama. Pendidikan semi militer untuk mendidik diterapkan oleh pihak sekolah.

Khususnya saya yang mengajar di SMAI Swasta Mutmainnah, hampir setiap hari melihat pemukulan terjadi terhadap siswa. Terutama oleh seorang guru yang akrab disapa Pak Luken. Beliau hampir setiap hari menghukum siswa dengan alibi bahwa untuk mendidik anak flores harus dengan cara militer. Suatu cara pandang pendidikan yang memprihatinkan disatu sisi, namun disisi lain hal itu perlu dilakukan untuk membina mental peserta didik yang memiliki karakter keras kepala.

Pernah suatu ketika, saat itu aku juga sedang berada di tempat piket guru. Mencatat daftar siswa yang tidak hadir. Menakjubkan, ketidkahdiran siswa bisa mencapai 90 orang dengan 90% alfa. Suatu tingkat ketidakhadiran yang sangat tinggi. Namun, memang beginilah tingkat kesadaran generasi muda di Ende, cara berfikir mereka menganai pendidikan tidak setinggi cara berfikir mereka terhadap tradisi pesta.

90 orang siswa tersebut dipukul oleh Pak Luken dengan tanpa rasa ampun. Tidak hanya ditempeleng satu Kali, namun berkali-kali, ditendang dan lain sebagainya. Bahkan pernah aku melihat langsung, digigit dilengan, diludahin. Namun, herannya adalah, mereka tidak jerah dan masih sempat tertawa setelah diperlakukan demikian. Kedisiplinan dan ketegasan seorang Pak Luken memang sudah terkenal di Ende.

Tentu aku dihadapkan pada kondisi yang baru. Kondisi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Lembaga pendidikan—sekolah—harus menggunakan cara-cara militer untuk mendisiplinkan siswanya. Walaupun, tidak semua guru setuju dengan cara demikian—yang berlebihan, mereka tetap saja “dongkol” dengan apa yang terjadi, baik itu oleh siswa maupun sikap Pak Luken. Namun, berkat beliau juga, sekolah ini punya “nama” dan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan lainnya, terutama dalam bidang pramuka.

Dilema juga saat berada di kelas. Menghadapi siswa yang kurang bahkan tidak peduli dengan apa yang kita sampaikan. Terbesit juga hasrat untuk melakukan hal yang sama dengan guru-guru lain lakukan. Namun aku hanya memilih untuk menasehati saja secara perlahan. Bahkan terkadang saya hanya diam saja melihat mereka berbuat semaunya. Aku hanya mencoba untuk melihat permasalahan tersebut secara lebih kompleks.

Pertama, aku melihat apa yang terjadi adalah seperti sebuah “sejarah yang terulang”. Apa yang terjadi pada diriku saat ini, pernah terjadi juga pada guru ku dulu. Kedua, sebelum kita menasehati orang lain, terlebih dulu kita menasehati diri sendiri. Terkadang memang, ketidaksampaian apa yang coba kita sampaikan bukan karena semata-mata karena penerima pesan “bebal”, namun bisa saja karena sang penyampai belum melakukan apa yang disampaikan. Ketiga, terkadang, kita terlalu mematok standar kebaikan menurut satu pandangan saja.

Seperti yang dikatakan Soe Ho Gie, “guru bukanlah dewa, guru yang tidak tahan kritikan harus masuk dalam tong sampah”. Sekolah bukanlah arena sirkus. Sekolah juga bukanlah tempat penangkaran satwa liar. Tidak selamanya paksaan mampu merubah watak manusia. Terkadang bujukan bisa lebih unggul dari paksaan. Hal ini bukan berarti guru tidak boleh marah terhadap siswa. Bukan berarti guru tidak diperkenankan untuk memberi sanksi kepada siswa. Hanya saja harus diingat sebatas mana kemarahan itu, sebatas mana hukuman yang diberikan. Inilah potret pendidikan di Nusa Tenggara Timur, Ende, Flores.

Sedikit akan disinggung mengenai tradisi pesta. Pesta bagi masyarakat Ende adalah sebagai tolok ukur untuk bisa eksis di masyarakat. Pesta merupakan simbol betapa masyarakat Ende menjaga betul apa yang disebut gengsi. Gengsi masyarakat Ende sangat tinggi. Kabupaten Ende, memiliki dua suku besar, yakni suku Ende dan Suku Lio. Bagi kedua suku ini, tradisi pesta begitu dipegang kuat. Entah itu orang mampu maupun tidak mampu. Untuk lengkapnya, akan disampaikan pada kesempatan berikutnya, hehehe..

“pernah kita, sama-sama susah, terperangkap di dingin malam,
terjerumus dalam lubang jalanan, digilas kaki waktu yang sombong, terjerat mimpi yang indah, lelah”

(iwan fals)

 Salam Sempak !!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s