Waipunga

Adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi penulis bisa hidup di bumi pertiwi ini. Hidup dalam bangsa yang memiliki sejarah besar. Sejarah yang melahirkan negara dan bangsa yang memiliki kekayaan tidak ternilai yakni perbedaan. Semboyan “bhineka tunggal ika” menjadi do’a dan harapan bahwa Indonesia akan selalu besar. Hidup dalam perbedaan tidak lah mudah. Butuh karakter yang kuat agar perbedaan tersebut bisa berdampingan, seraya mampu mempertahankan ke”dirian” kita sendiri.

“Dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia”. Penggalan lagu nasional yang menggambarkan betapa Indonesia memang negara yang kaya. Banyak pulau, banyak daerah. Banyak daerah tentu banyak pula budaya. Salah satu pulau yang kini penulis singgahi adalah pulau flores—NTT, Ende. Seperti yang telah penulis sampaikan pada tulisan sebelumnya bahwa di Ende memiliki dua suku yang besar yakni suku Ende dan suku Lio.

Kedua suku ini memiliki latar belakang yang berbeda. Mulai dari bahasa, letak geografis, agama maupun makanan. Namun, perbedaan yang ada tidak begitu membuat jurang pemisah yang lebar. Berbicara mengenai makanan memang akan selalu menarik dan menggiurkan. Secara, sejarah kuliner juga memang belum banyak menjadi perhatian penuh dalam historiografi Indonesia. Padahal, selain bahasa, kuliner (makanan) menjadi salah satu penentu identitas budaya..

Waipunga. Orang Ende menyebut makanan yang terbuat dari ubi tersebut. Tidak seperti pada suku Lio, yang dimana mereka menu utama makanan adalah nasi. Orang Ende, sebenarnya, menu utamanya adalah ubi. Waipunga, terbuat dari ubi yang di parut lalu di cincang, kemudian di kukus. Lalu disuguhkan dengan kuah santan bersama ikan. Penulis mencoba menelusuri mengenai hal ini. Ternyata, faktor geografis memang menentukan perbedaan jenis makanan.

Secara geografis, suku Ende berada pada sekitar pantai, sedangkan daerah Lio yang mengarah kepada pegunungan. Pada daerah Lio, banyak sekali ladang atau persawahan. Sedangkan di Ende tidak ada. Adapun nasi yang ada di Ende juga merupakan suplay dari Lio. Jadi, saat penulis pesiar (jalan-jalan dalam bahasa Ende) ke tempat penempatan teman yang berada di timur Ende yakni daerah Lio, yang terlihat adalah perswahan, serta juga bukit-bukit dan jurang. Untuk suguhan didaerah Lio pun nasi.

Berbeda dengan di Ende, setiap ada acara apapun, suguhan utama adalah ubi, khususnya waipunga. Ada dua jenis ubi yang terkenal di Ende, ubi kuning dan ubi noabosi. Penulis telah merasakan waipunga berkali-kali, misalnya saat ada acara di sekolah yakni ujian praktek mulok(muatan lokal). Hampir tidak ada suguhan nasi yang disajikan oleh murid-murid kelas tiga untuk guru-guru. Dari lima kelas yang ujian praktek dan teragi-bagi  lagi dalam beberapa kelompok, ubi (waipunga) menjadi menu utama dari setiap kelompok.

Seiring perkembangan zaman, dengan datangnya para pendatang juga, nasi juga sudah mulai ada di Ende. Warung padang, tegal, serta rumah makan makanan asli Ende sudah menyediakan nasi. Saat awal makan waipunga rasanya agak tidak enak di perut, namun setelah yang kedua dan ketiga kalinya, ternyata rasanya lumayan enak. Hanya perlu membiasakan saja lagi. Rasanya hampir menyamai dengan ubi yang direbus, hanya saja dengan gumpalan-gumpalan kecil hasil proses dari cincangan. Serta rasa kuah santan dan ikan menambah sensasi rasa ubi menjadi berbeda dengan ubi-ubi rebus lainnya. Jadi memakan waipunga sebenarnya sama saja dengan memakan nasi.

Penulis ucapkan rasa syukur yang tinggi kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Penulis bisa  anugrah kebesaran Tuhan. Penulis bisa merasakan berbagai nikmat perbedaan yang ada dimuka bumi. Hal ini membuktikan bahwa Tuhan maha kuasa, maha segala-galanya.penulis bisa merasakan atmosfir di bumi timur Indonesia. Mengenal bahasa, adat dan tradisi, serta makanan khas yang kesemuanya adalah identitas. Dan inilah identitas nasional yang harus dijaga dan dilestarikan.

Ingin mencoba sensasi waipunga berada dalam tenggoran anda, datanglah ke Ende. Merasakan bagaimana ubi dalam bentuk yang lain. Merasakan sesuatu yang sama dalam bentuk yang lain. Dan sebagai seorang manusia, kita harus demikian. Jangan hanya mencoba sesuatu yang sama hanya untuk satu kali saja. Karena dengan begitu kita hanya akan meneruskan sejarah. Buatlah sejarah, paling tidak bagi diirmu sendiri. Salah satunya dengan mencoba ubi cincang (waipunga) khas Ende.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s