Sepotong Singkong Goreng

Merasakan angin Indonesia Tengah dikala sang senja muncul. Duduk memandangi hamparan bukit dan laut di sebuah dermaga. Dermaga Ende-Flores, NTT. Menerawang jauh, menatap langit yang mulai berubah warna, sambil menikmati singkong goreng hangat. Seolah jiwa ini berkelana jauh. Alam imajinasi ku mulai merona. Tubuhku yang tersapu angin laut tetap terpaku di pucuk dermaga. Alunan ombak yang menggoda diri tak membuat ku beranjak. Dan didepanku ada sepotong singkong goreng hangat.

Saat itu aku begitu menikmati singkong yang hanya sepotong itu dengan penuh kehati-hatian dan penghayatan yang sedalam-dalamnya. Dengan minyak yang melumuri sekujur tubuh singkong itu menambah kenikmatan disisi yang lain. Warna agak kehitaman dan kemerahan menambah daya goda singkong itu semakin bertambah.

Singkong tersebut bukanlah singkong biasa. Singkong itu berbeda dari singkong yang lainnya. Singkong itu begitu berharga. Tahu kenapa? Karena singkong itu hanya sepotong. Justru karena sepotong itulah singkong itu begitu berharga. Singkong yang ku dapat dari pemberian seorang teman.

Ku pegang singkong itu dengan kedua tanganku. Ku tatap dalam-dalam. Kuajak bicara. Kami seakan terkoneksi. Dan timbullah chemistry diantara kami. Entahlah, seolah-olah ada pesan yang hendak disampaikan oleh singkong tersebut.

Disisi lain, orang-orang disekitar dermaga ternganga, melihat tingkah anehku. Ada yang sedang khusyuk memancing, menjadi buyar karena tingkahku. Ada juga yang hendak berlari-lari, mereka terhenti, ada yang sedang bermain sepak bola di pantai mereka juga menghentikan permainan. Bahkan ada yang sedang berlayar menggunakan perahu kecil juga terhenti karena ulah anehku.

Aku cuek saja. Tidak menghiraukan apa yang sedang dipikirkan orang lain yang menatapku. Hanya orang gila saja yang mau ngobrol dengan singkong goreng. Aku tidak perdulikan orang lain yang berpikiran aneh terhadap ku.

Ku lihat disekitar, ada yang berbisik-bisik. Ada juga yang tertawa kecil seperti sedang mengejekku. Sekali lagi, aku hanya diam dan cuek saja. Dan mencibir saja seolah-olah aku memperlihatkan bahwa aku tidak apa-apa dan kalian tidak tahu apa-apa.

Aku juga memperlihatkan bahwa aku menyimpan rahasia besar yang disampaikan oleh singkong tersebut. Rahasia yang benar-benar rahasia. Rahasia hati. Rahasia yang disimpan dalam oleh si singkong. Rahasia yang menyangkut masyarakat Ende di pesisir pantai Ende.

Singkong yang berasal dari daratan menyimpan sesuatu rahasia dari saudaranya yang tinggal di pesisir pantai dan di laut. Rahasia laut yang disampaikan kepada darat melalui sepotong singkong.

Aku juga penasaran apa yang hendak disampaikan oleh singkong tersebut. Penasaran ku begitu dalam. Apa sebenarnya yang hendak disampaikan oleh singkong tersebut. Aku menggunakan seluruh panca indera ku untuk menangkap pesan si singkong.

Singkong berkata dengan lembut,”wahai manusia!, kenapa kamu seperti ini?”
Aku bertanya, “maksud kamu?”
“Apa yang sudah kamu lakukan terhadap kami?”, singkong bertanya kembali.
Aku semakin tidak mengerti apa maksud kamu?, aku menimpali dengan nada penasaran.

Coba lihat sekelilingmu?, apa yang kamu lihat?, tanya singkong dengan tegas.

“Aku melihat alam yang begitu indah. Laut, pegunungan, langit dan manusia yang sedang melakukan aktivitas masing-masing.” Jawabku.

“Lalu, apa yang kamu perhatikan?”, tanya singkong.

Aku semakin tak mengerti. Jawabku. Berarti kamu tidak peka. Kamu hanya melihat, namun tidak memperhatikan. Jawab singkong dengan nada semakin tegas.
seoalah-olah, raut singkong tersebut berubah, aku merasakan singkong tersebut menampakkan aura yang seirus begitu dalam.

Sebenarnya apa yang hendak kamu sampaikan wahai singkong? Tanya ku kembai. Singkong tersebut menurunkan auranya. Seolah-olah dia tahu bahwa aku sedang meraskan ketakutan yang amat dalam.

Untuk beberapa saat, kami terdiam sejenak. Mencoba saling memahami satu sama lain dalam diam. Aku mencoba memahami maksud dari singkong tersebut. Sementara si singkong mencoba memahami keadaan ku yang terlihat bodoh dihadapannya.

Lalu singkong tersebut berucap dengan nada yang sangat serius,”coba kau perhatikan apa yang dilakukan oleh saudara-saudara mu sesama manusia yang ada disekitar pantai ini?” Mereka tidak memperdulikan alam yang telah menghidupi mereka. Aku menyampaikan pesan dari laut, bahwasanya manusia-manusia itu benar-benar makhluk yang tidak memiliki hati nurani, tidak tahu terima kasih.”

“Yang kalian bisa dan tahu hanyalah memanfaat kami. Kalian tidak pernah mengerti perasaan kami. Kami memang tidak seperti kalian. Kami diciptakan untuk membuat kalian tetap hidup. Tapi kalian tidak perduli dengan kehidupan kami. Tidak perduli dengan kelanjutan hidup kami. Padahal kalian tergantung pada kami.”

“Kalian makhluk serakah yang selalu menimbulkan masalah karena ulah kalian sendiri. Alam tidak lagi berpihak pada kalian, dan saat itulah kalian akan mengais-ngais hidup pada kami. Aku memang hanya sepotong singkong goreng yang sangat murah. Tapi aku lahir dari bumi, aku lahir dari kebaikan alam. Kami mencintai alam. Dan alam pun mencintai kami. Kami saling terhubung satu sama lain. Jadi karena itulah aku bisa merasakan apa yang dirasakan saudaraku yang lain. Dan mereka hendak menyampaikan pesan melalui aku.” Singong masih melanjutkan perasaannya dan perasaan alam.

Aku terpaku, terhentak, terhanyut, diriku gemetaran, menggigil, dalam hatiku bergejolak bak ombak dilautan yang sedang mengamuk, terombang-ambing, dan badanku mulai lemas seraya singkong tersebut menghentikan pembicaraan.

Aku berfikir sejenak dan menerawang kebelakang. Pertama kali aku dan teman-teman seperjuangn dari Yogyakarta tiba di Ende, dan kami menikmati pemandangan pantai Ende yang juga merupakan sebuah dermaga. Kami terkejut dan kaget.

Pantai itu terlihat sangat kotor, sampah berserakan dimana-mana. Dan yang paling parah adalah membung hajat di tepi pantai. Itu kusaksikan dengan mata kepala ku sendiri. Masyarakat pesisir pantai yang berada dekat dengan pantai dan selalu memnfaatkan laut tidak mengerti akan penderitaan laut. Terutama sekali warga yang selalu beraktifitas di pasar. Karena pantai itu berada di belakang pasar.

Aku bersama teman-teman sedang jalan-jalan sore dipantai dan akan hendak ke dermaga. Niat akan menikmati berakhirnya sore dan datangnya senja. Disamping juga tempat kami tinggal (bascamp SM3T UNY angkatan 3) juga dekat dengan pantai, kira-kira berjarak 1 Km). Jadi untuk ke pantai cukup jalan kaki saja.

Sesampainya dibibir pantai, kami dikejutkan dengan pembuangan sampah di tepi pantai dengan tiada rasa bersalah sedikitpun. Dan yang lebih membut kami terkejut adalah kami melihat ada seorang bapak-bapak tua berjalan pelan mengenakan sarung lalu jongkok sambil merenggangkan sarungnya serta mengais-ngais pasir persis seperti kucing hendak buang hajat.

Kami menerka-nerka apa yang dilakukan bapak tua tersebut. Lalu beberapa saat kemudian, ia mendekati pantai dan melakukan gerakan seperti orang cebok. Kami saling pandang, keheranan seolah menemukan jawaban dari pertanyaan kami. Dan ternyata kami satu pikiran ternyata bapak tua tersebut habis buang hajat.

“Whaaaaaaatt??”, teriak seorang temanku. Dan disahut lagi “bajigurrrrrr” oleh temanku yang lain. Kami saling menahan konak masing-masing meliaht kejadian tersebut. Ini pertama kali bagi kami. Dan setelah kami susuri sepanjang bibir pantai yang tepat berada di belakang pasar dan perumahan penduduk, banyak terdapat bekas kotoran-kotoran manusia baik yang maih hangat maupun yang telah mengering.

Sepanjang jalan, kami mengumpat-umpat orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepala. Suatu hal yang memang sangat ironis sekali. Masyarakat yang mengambil manfaat hidup dari alam sekitar tidak memperdulikan lingkungan sekitar.

Setibanya kami di dermaga, terus mendokumentasikan moment-moment penting yang alam perlihatkan. Subhanallah! Adalah kata yang cocok untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya alam di Ende. Hamparan laut serta pegunungan yang mengelilinginya.

Namun, memang amat disayangkan adanya tindak demoralisasi terhadap alam. “Alam menangis, alam bersedih, tapi mereka diam. Namun, jika mereka marah. Tidak ada satu manusia pun bisa manghindar dari amarahnya. Begitulah kalimat terakhir yang disampaikan singkong tersebut kepada ku.”

Aku hanya bisa manggut-manggut. Aku juga masih belum bisa menjaga alam. Padahal aku juga hidup dari alam. Kita semua hidup dari alam. Yang kita lupa adalah menjaga alam agar tetap bersahabat dengan kita.

Singkong goreng, terima kasih. Pesan mu, suara hati saudara-saudara mu akan aku ingat selalu. Kita akan saling menghidupi. Untuk itu, kau tetap harus jatuh ke dalam perutku, agar aku tetap hidup karena dari tadi aku belum makan,hehehe.

Singkong menyahut dengan nada kesenangan. “Silahkan saja karena untuk itulah aku hidup. Aku hidup untuk menghidupi kalian wahai saudaraku.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s