Mendekati Akhir, Menuju Awal

 

Pada 9 April 2014 akan menjadi titik klimaks perjalanan bangsa ini. Adalah pemilu yang akan terjadi pada tanggal 9 April 2014 nanti. Dimana masyarakat Indonesia—bagi yang berkenan—akan memberikan “suaranya” untuk menentukan wakil-wakil rakyat yang nantinya berhak mewakili rakyat dan duduk di kursi parlemen. Masing-masing parpol serta delegasinya telah menunjukkan keinginan mereka untuk menjadi wakil rakyat pada masa-masa kampanye. Dengan gaya dan cara-cara yang unik mereka berusaha “menjual diri” mereka agar dapat simpatik dari rakyat.

Pada 9 April 2014 akan menjadi gerbang menuju pemilihan pucuk kepemimpinan negara ini. Adalah hari pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia mengakhiri rezim SBY. Yang menjadi pertanyaan apakah, rezim SBY melalui Partai Demokrat masih akan bertengger di puncak klasemen atau akan berganti? Sudah ada beberapa partai dan calon presidennya melakukan persiapan dini menuju pilpres 2014 di bulan juli.

Mempromosikan diri melalui berbagai cara, termsuk media masa. Sebut saja dari Partai Hanura yang diwakili oleh Wiranto dan pemilik salah satu stasiun TV swasta yakni Hary Tanoe. Partai Nasdem dan juga Golkar juga tidak kalah saing dengan memanfaatkan media sosialnya masing-masing. Dan memang, tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial-elektronik cukup memberikan pengaruh yang besar dalam mengajak dan mengubah mindset seseorang.

Pada 9 April 2014 adalah hari pencoblosan untuk menentukan wakil-wakil rakyat di DPD, DPRD, dan DPD serta penentuan partai mengikuti pemilihan presiden 2014. Pada hari itu juga akan menjadi hari yang ditunggu-tunggu pelajar karena libur. Hari rabu, 9 April 2014 dinyatakan sebagai hari libur Nasional. Harapannya adalah, segenap warga sekolah, termasuk siswa yang sudah berhak memilih, untuk ikut berpartisipasi dengan datang ke TPS setempat dan memberikan suaranya.

Bila dilihat, pendidikan jadi kalah saing dengan politik. Sekilas memang terlihat demikian. Walaupun memang, waktu libur hanya satu hari saja. Sebut saja itu hari istirahat. Namun, bila dilihat jauh leih dalam lagi, memang demikianlah yang terjadi. Politik jauh lebih utama dari pendidikan. Walaupun, sudah ada arah menuju pendidikan yang baik, namun tidak lepas dari sebuah agenda formalitas dan politisasi.

Beberapa hari yang lalu, ada kejadian yang ganjil di sekolah tempat penulis mengajar. Sebuah sekolah Menengah Atas Islam, swasta, di Ende, NTT. Siswa-siswi kelas 2 atau kelas XI, mendadak disuruh pulang dan ganti pakaian bebas lalu dsuruh kembali lagi ke sekolah. Ternyata mereka disuruh ikut menyambut kedatangan Gubernur NTT. Sampai disini belum terlihat adanya keganjilan. Sesampainya ditempat tujuan, di gedung St. Petrus di dekat Bandara, sebuah mobil truk melintas dan memasuki halaman gedung tersebut dengan membawa bendera partai.

Memang, Gubernur terpilih berasal dari partai tersebut. Dan agendanya adalah kampanye. Kampanye terselubung dan yang lebih parah lagi adalah pemberian uang setelah acara kepada siswa. Sebut saja itu uang lelah karena telah datang, namun kegiatan tersebut jadi mengabaikan sekolah mereka yang padahal harus diutamakan. Pada acara tersebut juga hadir caleg-caleg yang akan menjadi pilihan dari partai tersebut.

Pada 9 April 2014 mendatang, akankan menjadi akhir dari suramnya negeri ini dan menjadi awal dari pencarahan di negeri ini. Ataukah sama saja, malah apakah akan menjadi jauh lebih suram lagi dari sebelumnya. Menantikan arus politik Indonesia yang ditentukan melalui pemilu kali ini dengan sebuah harapan besar bahwa Indonesia akan mendapat cahaya pencerahan dengan menyelenggarakan pemilu yang benar-benar bersih. Serta memilih, pilihan yang benar-benar bijak, sekalipun itu golput (golongan putih).

Golput bukan berarti tidak menjadi negarwan yang baik. Bukankah negeri ini menganut paham demokrasi? Jadi tidak ada alasan untuk menghujat mereka-mereka yang memilih golput dengan mengecap mereka sebagai orang yang tidak baik. Apalagi sampai mengaharamkan golput seperti yang akan di fatwakan MUI. Menurut penulis, hak seseorang untuk menentukan pilihan manapaun, termasuk pilihan untuk tidak memilih. Tentu dengan alasan yang logis.

Belajar dari sebuah pengalaman adalah motto sejarah. Negara ini, adalah negara yang besar. Negara yang memiliki sejarah panjang. Keberhasilan dan kemajuan suatu negara ditentukan dari tingkat kesadaran negara akan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Semoga dengan pemilu kali ini, mampu menjadi poros dalam arus perubahan negara ini pada suatu titik terang yakni kemajuan peradaban. Pemilu kali ini, menjadi akhir dari kesuraman menuju awal dari pencerahan.

Pemilihan pertama kali di Indonesia atau tepatnya Hindia Belanda (pada masa penjajahan) terjadi pada 1903 untuk memilih anggota dewan-dewan kota (Volksraad). Pada saat itu, memang hak pilih sangat terbatas dan didominasi oleh orang Eropa dengan adanya kursi khusus untuk setiap kelompok ras. Pemilihan ini, memberikan suatu pengalaman pertama tentang persaingan pemilihan bagi Indonesia. Selama revolusi, pemilihan tingkat desa dilakukan diberbagai tempat pada awal 1946 dan di Yogyakarta pada 1948. Dan pemilihan umum pertama Indonesia setelah menerima kedaulatan penuh pada 1955.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s