Jogjakarta, Prasmanan dan Persahabatan

 
Adalah sudah menjadi kebiasaan yang paling sering dilakukan mahasiswa jogjakarta terlebih lagi mereka yang nge-kos, yakni mencari warung nasi yang menyediakan prasmanan. Entah itu awal bulan maupun di akhir, anak-anak kos jogjakarta menghemat uangnya dengan makan di tempat prasmanan. Prasmanan memang dicari-cari mahasiwa karena selain murah, bisa mendapat porsi makanan yang tidak bisa di dapatkan ditempat makanan lain, seperti warung padang, burjo(bubur kacang ijo), dan lain sebagainya. Di Prasmanan kita bisa mengambil sendiri makanan yang kita suka dan sebanyak yang kita mau, walaupun hanya dengan sekali ambil.

Teringat akan prasmanan, saya juga teringat akan teman-teman seperjuangan dulu yang kini mendirikan KOS, hehe. Sebut saja Umar al-karuk(kemaruk) dan Ahda al-glek( geblek). Terutama umar, yang dulu paling sering mengajak makan di prasmanan Ibu Titin. Saya tidak tahu mengapa dari sekian banyak prasmanan, kenapa ia memilih di tempat Ibu Titin. Sebenarnya ada beberapa kemungkinan, misalnya saja karena tempatnya strategis.

Warung makan Ibu Titin dekat dengan kampus FIS (Fakultas Ilmu Sosial), dahulu FISE (Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi). Warung makan yang telah berganti nama dan pemilik menjadi warung makan Ibu Maria itu dekat juga dengan tempat saya dan teman-teman seperjuangan lainnya main PS, terutama Ahda, yang selalu kalah. Warung prasmanan yang begitu digemari mahasiswa UNY dan mayoritas dari kampus FT (Fakultas Teknik) itu juga terkenal murah.

Saya juga sempat berfkir bahwa kemungkinan yang lain kenapa bung umar sering makan disana adalah karena adanya kesamaan nama sang pemiliki (bu Titin) dengan teman sekelas yang dikagumi umar. Ya, Titin Yuni Purwati, gadis yang enerjik dan smart itu sering menjadi tumbal gombalan bung umar. Dan kedekatan mereka adalah sudah menjadi rahasia umum dikelas sejarah reguler 2009.

Warung prasmanan menawarkan alternatif dari kesekian persaingan diantara penjual makanan berat. Murah, ambil sendiri, dan varian hidangan menjadi nilai tambah kenapa alternatif itu jatuh pada prasmanan. Selain prasmanan yang ada didekat kampus tadi, juga ada prasmanan langganan yang juga sering dikunjungi yakni prasmanan dekat lembah UGM dan terletak tidak jauh dari polsek bulak sumur. Biasanya setelah makan disana, saya dan umar ke kos saya dulu lalu ke puskom(layanan internet kampus).

Bila dibandingkan dengan apa yang saya alami disini, Ende, sungguh jauh sekali. Harga makanan disini jauh lebih mahal. Bisa dua hingga tiga kali lipat bila dibandingkan dengan harga di Jogja. Misalnya saja, harga nasi telur bisa mencapai Rp. 8.000 hingga Rp. 9000. Harga segitu sudah bisa makan dengan ayam di Jogjakarta, terutama di masakan padang. Apalagi bila dibandingkan dengan harga prasmanan. Harga segitu sudah bisa dengan ayam plus es teh, kerupuk.

Sungguh, prasmanan memang sudah menjadi sejarah tersendiri dalam hidupku. Selain itu baru saya jumpai di Jogjakarta, prasmanan menghadirkan nuansa persahabatan. Persahabatan dalam bentuk materi maupun moril. Secara, prasmanan belum pernah saya jumpai di sumatera, terutama di Riau, tempat saya tinggal. Yogyakarta menghadirkan nyanyian sejarah yang memang menarik dan unik. Yogyakarta memperlihatkan betapa unik dan kreatifnya masyarakat Indonesia. Dan juga semangat untuk bekerja dan bertahan hidup yang sederhana ditengah arus globalisasi dan westernisasi. Prasmanan tetap menjadi rumput liar yang tetap tumbuh ditengah rimbunnya pohon-pohon bringin.

Prasmanan dan persahabatan yang saya jumpai di Jogjakarta besar kemungkinan tidak akan saya jumpai lagi ditempat lain. Mereka (prasmanan dan persabatan) sudah menjadi sejarah tersendiri dalam hidupku. Sejarah yang akan selalu membangkitkan diriku saat diri ini mulai letih untuk berdiri pada masa ini dan mulai pucat bila menatap masa depan. Dalam prasmanan, terbangun suasana persahabatan yang abadi. Semoga prasmanan tetap akan hidup dalam arus sejarah hidup ini. Kemudian menghadirkan persabatan-persabatan lain yang akan siap untuk berdiri dan menatap masa depan.

Kehadiran prasmanan juga akan menjadi batu sandungan utama bagi kapitalisme-kapitalisme yang akan siap menguras persahabatan-persahabatan.Prasmanan yang lebih merakyat akan terguras apabila tidak dijaga. Maka dari itu, jagalah prasmanan dengan terus makan diprasmanan. Semoga prasmanan tetap terus bisa bersaing dengan Mc Donald, KFC, dan warung-warung makan kapitalisme lainnya. Persahabtan yang dibangun melalui prasmanan adalah persahabatan rakyat. Sedangkan persahabatan yang dingun melalui warung makan kapiltalisme tadi adalah persahabatan patron klien. Persahabatan seperti itu adalah persahabtan yang akan menggadaikan dan menjual mimpi-mimpi. Hahaha…

 

“Perjalanan ini, terasa sangat menyedihkan
sayang engkau tak duduk disamping ku kawan.
baanyak cerita yang mestinya kau saksikan
ditanah kering bebatuan….”

(Ebit G. Ade)

Ende-Flores, NTT (3 Des 2013)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s