Mbana Pesiar NTT Part 1: Sabu-Raijua

Banyak cara mengisi liburan agar tidak membosankan, salah satunya dengan berpetualang. Ya, berpetualang atau bisa disebut dengan banyak penamaan, bisa backpackeran ataupun traveling dan “mbana pesiar” dalam bahasa Ende yang artinya pergi jalan-jalan. Suatu kebanggaan bisa berpetualang.

Hidup adalah petualangan. Jangan sia-siakan kesempatan selagi masih sempat. Selain itu dari berpetualang kita bisa menambah wawasan dan menempa diri. Itulah yang aku dan beberapa temanku lakukan. Melakukan perjalanan panjang, berpetualang, mbana pesiar, keliling NTT (khususnya pulau-pulau terluar Indonesia).

Hasrat ini telah lama aku nantikan. Sudah sejak lama menginjakkan kaki di tanah paling selatan Indonesia. Bahkan perjalanana ini jauh lebih dari apa yang aku harapkan. Berhubung aku masih berada di wilayah dan waktu yang tepat. Memang benar, kesempatan yang sama tidak datang dua kali. Aku dan beberapa temanku memanfaatkan kesempatan itu.

Aku (Wira), Purbo, Jimmy, Angga, dan Primadi. Kami berlima melakukan perjalanan panjang mengisi liburan semester. Menggunakan KM AWU kami melakukan perjalanan laut tengah malam menuju Kabupaten Sabu-Raijua. Sebuah tempat yang memang memberikan kami beberapa kejutan.

Dikarenakan pelabuhan seba cukup dangkal untuk disandari kapal Pelni, terpaksa sang AWU tidak bersandar dan berhenti agak ditengah. Kami harus menaiki kapal nelayan untuk sampai di dermaga. Dengan membayar Rp. 50.000. Itu sungguh tidak disangka-sangka. Dari kejauhan terlihat sang fajar mulai menampakkan diri dan pemandangan apik dari daratan seba yang kokoh berdiri pohon-pohon lontar.

 

Sampai dipelabuhan, kami mencari sumber kehidupan, berjalan tidak jauh tanda-tanda itu mulain tampak. “akhirnya…kita bisa hidup broooo”, teriak seorang temanku. “endi, endi, ning endi, opo”, tanya seorang temanku yang lain. “kuwi,,kuwi, dia menunjuk sebuah papan nama yang bertuliskan “ATM BRI”. “waaahhh, kita hidup, kita hidup”, teriak temanku yang lain pula.

 

Dengan kecepatan penuh kami memacu kaki, dan kami saling bergantian mengisi dompet. Setelah dompet terisi, saatnya untuk mengisi perut. Seharian di kapal membuat kami cukup memegang perut. Walaupun di kapal ada kantin, kami lebih memilih makan di daratan, bukan karena apa, karena kekurangan uang.

Kami berjalan, di sekitar atm memang ada penjual nasi yang dirasa aman untuk dimakan. Tapi, purbo, lebih menyarankan untuk makan di kota, aku menyela, “kalau ning kono ra ono warung pie?”, tanya ku. “mesti ono, wong kuto mosok ra ono” jawabnya. “iyo, lah nek ra ono sing muslim pie?” aku bertanya lagi. “mesti ono”. Jawabnya lagi. Lalu kami pun berangkat ke kota berjalan kaki, di awal-awal memang mudah, tapi ada yang mengganjal dihati. Kami bertanya ke salah seorang warga.

“Pak, kalau mau ke kota, kearah mana dan berapa jauh lagi ya?”

“Kota, ya Cuma jalan yang mas-mas lewati tadi, kalau kesana enggak ada apa-apanya, sepi”

Kami saling menatap tak percaya dan megelus-elus dada masing-masing. Bagaimana tidak, kami sudah berjalan jauh, dan harus kembali lagi, serasa berat hati untuk kembali. Akhirnya kami tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan apapun hasil yang kami dapat nanti. Lalu kami menanyakan kendaraan umum, dan hasilnya noool. Tidak ada.

“disini belum ada kendaraan umum” kata bapak itu. Dan jawaban itu membuat kami semain lesu. “tapi mas mas ini bisa menggunakan kendaraan dinas, menumpang”. Dan seperti di dalam film-film, tiba-tiba muncullah kendaraan yang sedang dibicaraan itu. Kami naik, dan sepanjang perjalanan kami mendapat beberapa informasi, yang paling penting ada kami tahu kalau Sabu-Raijua merupakan kabupaten baru pisahan dari Kupang, baru empat tahun.

Dan memang sepanjang perjalanan kami melihat belum ada pembangunan yang berarti, jalanana menuju kantor bupati rusak, dan kantor-kantor dinas masih menggunakan rumah biasa. Dan kantor bupati belum ada. Kami turun di depan kantor bupati yang belum ada itu. Lalu mencari makan, untung ada.

Warung Mas Tejo, terpampang di bagian depan rumah tersebut. Prasmanan ternyata. Sungguh mengejutkan. Kami makan sekaligus istirahat. Masakannya enak. Ternyata ibu yang berjualan juga berasal dari jogja. Saya sarankan kalau teman-teman yang ingin main ke Sabu-Raijua, sempatkanlah singgah di warung ini, selain masakannnya enak, ada satu hal juga yang membuat kami sedikit betah untuk tinggal disana, apa itu? Maaf tidak bisa saya sebutkan (biar penasaran), hehehehe, tapi yang pastinya seru.

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke istana kerajaan di sabu raijua—Istana Teni Hawu—terletak di kecamatan Mebba, Seba Barat. Menggunakan mobil klasik kami menummpang, sungguh luar biasa. Istana ini terbagi dalam dua bagian. Bangunan pertama sebagai bangunan inti kerajaan sedangkan yang satunya tempat penyimpanan hasil ladan

Disana kami juga manfaatkan untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung adat nemata. Untuk memasuki kampung tersebut harus memabawa sirih untuk syarat masuk kampung. Dan WAW…kami seperti berada di madagaskar yang ada kampung adatnya. Luar biasa. Menakjubkan. Kampung itu bernama Namata, kampung adat yang masih menganut dinamisme dan animisme. Disana kami disambut sekaligus pemandu kami disana, beliau ini menjabat sebagai dewi matahari.

Oh iya ada hal yang terlewatkan. Kalau singgah di Sabu-Raijua. Jangan lupa untuk mencicipi gula sabu dan sosis sabu. Satu lagi, ciri khas orang sabu kalau menyapa dengan menyentuhkan atau menempel hidung masing-masing satu sama lain.

Sepulang dari kampung adat Namata, kami kembali ke pelabuhan. Melanjutkan perjalanan ke pulau lainnya—Raijua. Menggunakan kapal nelayan kami harus melewati ombak selat Raijua yang ganas. Benar-benar ganas. Anatara mata dan ombak sejajar, melihat dari bagian kapal. Kami duduk melihat melalui jendela kecil segi empat. Dan waaaaaw..antara ingin kagum, takut, bercampur dalam diri kami.

Berangkat pada waktu itu sekitar jam empat sore setelah sholat ashar. Setelah harus menempuh dan berjuang mengahadapi gelombang selat Raijua selama dua jam lebih kami tiba di Raijua. Apa yang kami lihat? Sepi. Sepi sekali. Kami mencari tempat makan, ternyata hasilnya nihil. Disana tidak ada warung makan bahkan pasar pun tak ada.

Karena sudah malam, kami mencoba mendatangi pos polisi sub sektor raijua. Ada polisi muda dari jawa. Kami disarankan menginap di salah satu rumah warga. Kami juga makan d rumah warga—Mama Cinta—orang raijua menyapa wanita tersebut. Kami makan dirumahnya, mie rebus dan nasi. Lalu tidur dirumah sebelahnya yang sedang tidak dihuni karena yang empunya rumah sedang berada di Seba.

Setelah menginap semalaman dengan nyennyak, sholat subuh, kami mencoba mencari keindahan di pantai dermaga. Dan subhanallah. Tiada kata lain yang bisa diucapkan setelah melihat Raijua dari pagi hari. Pasir putih, laut biru hijau, sunrise, nelayan, waaaaawwww. Luar biasa. Indah, indah sekali.

Karena mengejar kapal ke kupang, kami harus meninggalkan Raijua hari itu juga. Sayang sekali sebenarnya, karena belum semuanya tereksplor. Tapi tak apalah, moga-moga lain waktu bisa kembali lagi kesini. Kami pulang dengan cara yang sama waktu kami datang.

Catatan:

Dokumentasi by Angga Nurcahya, Purbo T. Winanto, Jimmy Santoso.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s