Dialog Malam Hari

 

Ku tatap wajahmu malam dengan penuh harap kau mau mendengarkan segala yang ingin aku tanyakan. Kupandangi langit yang kosong. Hanya sang purnama terlihat begitu indah. Purnama yang sendiri, purnama malam ini kesepian tanpa bintang yang biasa menemani. Namun ia tetap tidak absen.

Malam ini terasa dingin, tidak seperti dingin biasanya. Aku memaksa tubuhku untuk bergerak mencari sesuatu yang bisa mengusir dingin yang tak biasa ini. Dingin yang asing bagiku dan kurasa asing juga bagi sang malam. Aku mulai beranjak dari teras rumahku. Beranjak untuk mencari sesuatu yang mampu mengusir dingin ini. Kuambil jaket lee ku yang bertuliskan Bon Jovi di bagian belakangnya. Jaket yang selalu menemani ku kemana pun aku pergi.

Dengan bermodalkan semangat mencari solusi aku melangkahkan kaki. Kira-kira sekitar pukul 22.00 malam. Aneh. Ada yang aneh malam ini, sepi, begitu sepi. Tak seperti biasanya. Entah kenapa, malam ini begitu berbeda. Setelah serasa aku tak menemukan sesuatu yang mampu membuatku hangat, aku berhenti di sebuah taman.

Taman tempat biasa aku bertemu, bercengkramah, berintim dengan duniaku. Segala kebosanan dunia yang telah membuat hitam dunia ini serasa lebih hitam dari rambutku. Taman ini, tidak seperti taman biasanya. Hanya tamanku saja. Sebuah tempat yang jarang di jamahi tangan-tangan duniawi. Hanya ada sebuah pohon besar dan di kelilingi sabana, serta dari sinilah aku mampu melihat seluruh isi kota yang penuh kemunafikan.

Aku mulai mendudukkan diriku di bawah itu, sambil menatap langit hanya terlihat bulan. “Malam, selamat malam wahai malam”, sapa ku. “Apa kabarmu malam ini?”, tanyaku. Mengapa kau begitu terlihat berbeda hari ini?”, lanjutku bertanya. Hanya hening yang kurasakan dan ku dapati. Sunyi. Hanya sesekali kulihat awan bergerak kecil di langit.

Setelah sekian lama, aku sesekali menerawang jauh kebelakang, tentang hidupku. Tentang diriku. Segalanya. Semua yang berhubungan dengan diriku. Apa maksud dari segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Kenapa itu harus terjadi dalam hidupku. Sederet pertanyaan yang sampai saat ini belum ketemukan jawabannya.

Jujur, terkadang, aku merasa hidup ini begitu sepi, walau aku sering bertemu, berkomunikasi dengan banyak orang. Bahkan aku merasa bahwa apa yang ada disekitarku hanyalah bayangan semu belaka. Fatamorgana dunia. Ditambah lagi dengan segala kemunafikan yang sering kali aku jumpai. Dekat dengan ku.

Banyak hal. Banyak hal yang membuat aku merasa sendiri. Dan aku secara tak sadar menikmati itu. Menikmati kesendirian dalam keramaian. Bahkan aku juga berfikir bahwa aku sendiripun merasa sendiri dalam kesendirian ku. Ya. Sendiri dalam kesendirian.

Banyak hal yang aku lakukan terasa sia-sia. Hitam fikiranku serasa sudah pekat dan membatu. Tidak ada dalam hidupku yang berarti. Aku serasa hanya menjadi alat perantara mencapai tujuan orang lain. Aku merasa kecil dan hina. Saat aku ingin merasakan apa yang dirasakan orang lain, yang kudapati hanyalah kebohongan. Mungkin karena kau makhluk yang lemah. Dan kelemahan ku selalu menjadi ladang yang empuk bagi orang lain untuk memanfaatkannya. Ladang kosong tanpa tuan, dan ditinggalkan bila sudah tak berguna.

Aku mulai menitihkan air mata, tapi tetap kutahan. Aku mulai kembali lagi bertanya pada sang malam. Karena hanya malamlah yang kurasa dapat menjadi teman. Teman yang nyata. Aku memang sering berdialog dengan malam. Malam yang panjang. Malam yang indah. Malam yang penuh dengan kejutaan, dan malam penuh dengan kenyataan.

Angin mulai malam terasa memeluk hangat tubuh ini, awan-awan tipis yang berjalan kecil, sesekali menutupi bulan. Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh sesuatu. Suara yang memanggilku. Aku tak asing dengan suara itu. Suara yang keluar dari balik pohon beringin tepat dibelakangku. Ada juga rasa sedikit rasa takut sebenarnya namun kalah oleh penasaran. Aku berbalik dan berdiri. Lalu kedekati pohon itu, suara itu tetap saja masih terdengar, “Aina, aiiiinaaa, aiinaaaaa”, begitu panggilnya. Dan aku yakin kalau itu adalah suara dari anak kecil, perempuan.

Sesekali anak kecil itu terdengar tertawa kecil, aku masih ragu hendak melanjutkan rasa penasaranku. Karena ini baru kali pertama ku alami. Tapi, aku tak merasakan bulu kuduku berdiri, seperti yang orang-orang percayai kalau merasakan kedatangan teman-teman manusia dari dunia lain.

“Aina, ini aku”, sapa gadis kecil itu, “kemarilah”, pintanya. Aku memberanikan diri juga untuk bicara. “K..kk..kamuu, si..siapa?”, tanyaku sambil tergagap?. “kamu, kamu tahu siapa aku”, jawab anak kecil itu. “Aku, aku tahu siapa kamu, bagaimana mungkin”? tanya ku, aku mulai bisa menguasai diri. Tak ada jawaban. Aku memberanikan diri untuk mendekat. Memastikan siapa pemilik suara yang sudah mengganggu ku.

Aku berjalan kesamping, melangkah menuju sisi pohon sebelahnya. Dengan penuh kehati-hatian aku melangkahkan kaki sambil membungkuk, memungut sebatang kayu cukup besar. Ku genggam erat-erat bak samurai memegang katana. Setelah hendak sampai pada sisi sebelah pohon beringin itu, aku telah hendak siap sekali untuk meghantamkan pada pemilik suara itu.

Aku kaget setengah mati, yang kulihat ada seorang gadis kecil menggunakan pakain gamis. Kusaksikan dengan sesama, kuatatap wajahnya. Dia pun melihatku. Kami saling menatap, namun ada yang berbeda. Gadis kecil itu melihat dengan tatapan penuh kepercayaan diri yang tinggi, sedangkan aku terlihat kecil olehnya. Aku paksakan bibir ini untuk berucap, “siapa kamu?”, tanyaku dengan penuh kerasionalan. Aku tidak mempercayai hantu, setan, ataupun roh makhluk halus.

“Aina nanti kamu akan tahu siapa aku”, gadis kecil itu bertutur. Aku seperti tersihir oleh ucapannya. Aku terdiam kaku, tubuhkan seakan mati, tak berdaya oleh tatapan gadis kecil itu. Ia mengulurkan tangannya sambil berkata “mari, ikutlah denganku, akan aku tunjukkan siapa dirimu sebenarnya”.

“Bukankah kamu ingin tahu siapa dirimu, kenapa dan untuk apa kamu ada, serta siapa Dia”, gadis kecil itu bertutur kembali. “kalau kamu ingin tahu jawabannya, genggamlah tanganku dan ikutlah bersamaku”, pintanya.

“kau akan mengajak ku kemana?” tanyaku. “ketempat yang tak asing bagimu” jawabnya.”Ketempat dimana kau akan menemukan jawaban dari segala pertanyaanmu” sambung gadis kecil itu. Entah, kenapa, aku begitu mudah terbawa. Aku jabat tangan lembutnya, hangat. Aku merasa pernah merasakan perasaan ini, damai, tentram, mungkin dulu kala.

Tiba-tiba, langit berubah warna. Dan di sekelilingku penuh dengan sabana yang indah. Tidak hanya sabana, para penikmat rumput berkaki empat juga tampak sangat menikmati hidup. Hijau sejauh mata memandang, sungguh menyejukkan hati. Udara yang segar dan hembusan angin yang memeluk hangat diri ini seakan membawaku ke suatu perasaan bahagia.

Mungkin baru kali ini aku berasa hidup, benar-benar hidup, kuhirup udara yang langka itu, keranggangkan tanganku sambil kutatap langit yang biru. Diatas ku ada beberapa ekor burung yang sedang bercengkrama dengan sesama. Sungguh jauh berbeda dengan yang ku lihat sehari-harian ku.

“hai gadis kecil, ada dimana kita, bukankah kau bilang tadi bahwa aku tahu tempat ini, tempat yang tak asing bagiku, tapi aku benar-benar tidak tahu tempat apa dan dimana ini?” tanyaku. Gadis kecil itu hanya tersenyum saja. Lalu ia mengajakku kesuatu tempat. Tak jauh dari pohon itu, ada sebuah rumah kecil. Rumah yang penuh dengan tumbuhan dan bunga-bunga nan indah.

Namun, aku merasakan ada yang aneh. Aku merasa pernah tahu rumah itu, tidak hanya tahu, bahkan dekat. Dekat sekali. Lalu terlihat seorang wanita setengah baya menggunakan gamis lengkap keluar dari dalam rumah itu, dan aku benar-benar terkejut melihat wanita tersebut. Dia tidak lain adalah ibuku. Memanngil-manggil namaku sambil melambaikan tangan dan meminta datang padanya.

“aina, ainaa, ainaaa, kemari nak, kemarilah, ibu rindu padamu nak” teriak ibuku. Aku sontak terdiam, terpaku, bagaimana bisa ibuku ada disini. Lalu gadis kecil itu berlari dengan keriangan, dan memeluk ibu ku. Tiba-tiba air mataku mengalir deras keluar dari mataku. Dan sekaligus aku kaget, kenapa gadis kecil itu berlari sedangkan yang dipanggil adalah aku.

Lalu dari beranda rumah, mereka tersenyum dan menatapku. Mereka memanggilku untuk mendekat. Dengan langkah terbatah-batah aku mendekat. “bagaimana kabarmu nak, selamat datang kembali di rumah”?, kata ibuku. Aku bingung, aku ingin menolak semua ini, semua yang ada di hadapanku. Aku harap ini Cuma mimpi, tapi ini benar-benar nyata yang kurasakan.

Pikiran ku menolak, tapi tidak dengan batinku, dengan hatiku. Mulai perlahan, seluruh tubuhku terasa lemas, lalu gadis kecil dan ibuku mengajak aku untuk pergi ke suatu kamar, yang disana terbaring seorang laki-laki, terkulai lemah tak berdaya. Sepertinya sedang sakit, aku mendekat, detak jantungku semakin kencang, aku tak tahu kenapa, semakin dekat. Dan aku sekali lagi dibuat terpaku dan terdiam. Ya, dia adalah suamiku.

“Mas, mas kamal, apakah itu kau mas?”, tanyaku. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk berucap dengan terbatah-batah, “o…oo..oh, apakah itu kau aina?, iya, ini aku kamal, suamimu, aku yakin pasti suatu hari nanti kau akan kembali”. “Apakah kau sudah bertemu dengan aina, anakmu?”, tanya suamiku.

“Anak?, jangan-jangan,” dengan dalam keadaan kaget aku menoleh kebelakang. Melihat gadis kecil yang berdiri di samping ibuku, aku berbalik dan mendekat, “kamu.kamu adalah anakku?” aku tak kuasa menahan tangis, sambil berlutut ku coba menguatkan hati untuk menyentuh pipinya, ku peluk ia erat-erat, namun aku tak berdaya lalu aku terjatuh ke lantai.

Kudengar kicauan burung yang merdu bak orkestra yang membangun nafas kehidupan. Mata ku terbuka sedikit demi sedikit, aku tahu itu, pancaran dari mentari pagi yang menyelinap di sela dedaunan. Aku mencoba mendudukkan diri walau badan ini teras berat. Aku mencoba memahami maksud dari apa yang terjadi semalam. Merenung sejenak. Aku sadar. Bahwa aku sudah melarikan diri dari hidupku, dari keluargaku, dan dari Tuhan.

Ya, aku telah durhaka terhadap ibuku dan suamiku, aku juga menyengsarakan anakku yang tak pernah kulihat. Dan sejarah kelam itu kembali terbuka. Aku hamil muda, lelaki biadab tak bertanggung jawab itu entah kemana rimbanya. Malaikat itu bernama Kamal, seorang marbot masjid di daerahku. Ia mau membantuku. Akan tetapi, aku terlanjut terpuruk, terpuruk dalam penyesalan.

Ayahku, meninggal karena serangan jantung mendengar aku hamil. Ibu ku sempat marah, namun tetap mencoba menegarkanku. Tetangga menghujatku, terutama keluarga. Sesuai anjuran agama, kami menikah setelah anakku lahir. Aku tak mau melihatnya. Aku juga tidak senang dengan Kamal. Aku benar-benar berada di jurang kegelapan hati.

Sampai kami menikah, aku tak mau melihat anakku. Bahkan aku tak tahu dia perempuan atau laki-laki. Melihatnya berarti mengingatkanku pada kesuramanku. Aku juga tak mau tidur sekamar dengan Kamal. Setelah satu minggu, hitam di hatiku sudah pekat. Aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Pergi dari hidupku yang lama menuju yang baru, membuang sejarah. Sampailah kebutaan hatiku pada adanya Tuhan. Kesuraman hidupku membuatku berfikir bahwa Tuhan tidak adil pada hambanya. Dan aku memutuskan membuang Tuhan dalam diriku. Namun, memang,hidupku yang barupun tidak jauh berbeda. Hanya saja aku jauh lebih bebas dalam menjalani hidup. Aku juga sempat berfikir ulang, mengulas sejarah hidupku. Dan malam adalah teman yang cocok untuk diajak berdialog.

Hingga kini, aku terduduk disini, setelah kejadian tadi malam aku mencoba untuk mengubah sejarah. Aku tahu, tidak mungkin untuk mengubah sejarah, tapi membuat sejarah sedang aku usahakan. Aku memutuskan untuk pulang kembali kerumah. Kembali merajut sejarah hidupku yang sudah terkoyak.

Dengan menutup aurat aku melangkahkan kaki, menuju hidup ku yang lama, yang penuh dengan kebahagian sejati. Kebahagian yang tak mungkin aku temukan di tempat lain. Kini, aku ingat, ingat semuanya. Dalam perjalanan, aku gugup, ada juga rasa takut. Tak diterima kembali, namun aku harus berusaha sebelum terlambat.

Aku berupaya dan berusaha menyusun kata-kata apabila bertemu mereka. Mereka yang telah aku sakiti. Bis berhenti di sebuah gang. Rumah ku berada di dalam gang. Aku melewati gang tersebut disambut dengan sorotan tajam dan heran tetangga. Ada yang berbisik-bisik diantara mereka. Aku hanya mengangguk menegur dan menyapa dengan salam.

Sesampainya didepan rumah, aku melihat seorang wanita tua yang sedang menyirami tanaman di halaman depan. Aku tahu kalau itu ibuku. Aku mendekat dan menyapa,”assalamu’alaikum bu”, sapa ku. Dia menoleh dengan perlahan. Aku kaget setengah mati, ternyata dia bukan ibuku. aku tak tahu siapa. Aku bertanya, “maaf ibu, ibu siapa?”, “saya ibu Kamal, bukankah kamu Aina?”.

“iya, saya Aina”, aku benar-benar tambah merasa berdosa. Aku tidak sempat melihat wajah ibunda Kamal waktu itu, karena ibunya berada di kampung. “Astagfirullah”, aku benar-benar menyesal. Dia mendekat dan memelukku dengan rasa kasih sayang dan tangis. “Ibumu, Kamal, dan Aina anakmu, telah tiada”. Aku bagai tersambar petir disiang bolong. Dan tak kuasa menahan tangis. Tapi aku sadar ini adalah ujian dari Tuhan, dan aku harus sabar. Kini, tiap malam pun aku tetap berdialog, berdialog degan malam, mendekatkan diri pada Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s