Mbana Pesiar NTT Part 2: Menuju Kupang dan Kapal (Ferry) Siput

 

Setelah beberapa hari singgah di Sabu-Raijua kami melanjutkan perjalanan menuju Ibu Kota propinsi NTT—Kupang. Menggunakan jasa layanan Kapal Ferry, KMP ILE APE, nama kapal tersebut. Jadwal kapal pukul 11:00 WITA, dan kami sudah duduk enak di dalam kapal pukul 08:00. Aku tidak tahu, itu kami yang disiplin apa memang terlalu bodoh untuk menunggu kapal berangkat selama tiga jam. Tpai tidak masalah, karena dengan tidak demikian kami bisa tidak kedapatan tempat untuk duduk dalam pelayaran yang hampir mencapai 18 jam.

Walaupun begitu, sudah banyak juga yang datang kekapal. Tadi malam alhamdulillah dapat tempat menginap di masjid dekat pelabuhan, dan itu masjid stau-staunya di sabu.dapat tempat untuk bersistirahat. Setelah izin sama pihak masjid, pada saat itu orang yang kami temui adalah dua orang lelaki. Yang pertama separuh baya dan seorang lagi masih tergolong muda. Bapak Ibrahim nama lelaki yang separuh baya tersebut. Paginya kami juga mandi di masjid dan mulai berkemas untuk menuju pelabuhan.

Setelah sholat subuh, kami juga mendapat informasi apabila sampai di Rote harus kemana biar mempermudah kami saat tiba di Rote. Informasi itu kami dapatkan dari Mas Rajab yang tadi malam bersama Pak Ibrahim. Kami disarankan untuk ke Ba’a, dan ke masjid al-ikhwan, nanti disana bisa untuk tempat istirahat dan menginap. Alhamdulillah.

Lama kami menanti kapal berlayar. Banyak hal yang kami lihat di dalam kapal. Misalnya saja kami membeli sosis sabu atau lepa. Makanan yang terbuat dari gula sabu dan tepung beras. Bentuknya panjang, silinder dan dubungkus dengan daun lontar. Enak. Lalu ada juga yang kami lihat cara menyapa khas orang sabu yakni dengan menempelkan hidung masing-masing.

Tiba-tiba aku ngantuk dan mulai membaringkan diri di kursi panjang karena memang masih sepi. Aku terbangun setelah mendengar kegaduhan karena sudah mulai ramai dan kapal akan segera berlayar. Dan akhirnya kapal ini berangkat juga. Terlihat pohon-pohon lontar yang berdiri di geris pantai laut seba semakin mengecil dan mengecil hingga menghilang.

Perjalanan panjang menuju Kupang. Menerjang gelombang menaiki kapal yang gamang. Selama 18 jam kami ditantang. Malam menjelang. Orang-orang sudah seperti batu karang. Tetapi, beberapa juga ada yang berbincang. Dan banyak juga yang terlentang. Semakin malam, kapal semakin bergoyang. Tapi, harapan sampai tak kunjung datang. Cukup lama aku dan teman-temanku harus tidur di atas kasur bergoyang. Sesekali terbangun dari mimpi panjang tentang bagaimana kupang. Dan akhirnya gemerlap pelabuhan terlihat.

Ya, memang, bagaimana tidak hampir 18 jam kami berada di atas kapal. Itu kapal berjalan seperti mbah buyutnya siput. Pelan, pelan sekali. Semakin pelan itu kapal, semakin terasa goncangan dari hantaman gelombang. Kondisi kapal juga menyedihkan. Itu kapal mungkin habis perang, kalah pula. Ibarat tentara nazi kalah perang lalu jalan pelan sambil kepala tertunduk dan dapat pukulan dari tentara sekutu.

Sepertinya memang itu cara yang tepat untuk melatih kesabaran. Bila anda ingin melatih kesabaran cukup naik Fery dari sabu ke Kupang seharga 80.000. Lengkap dengan segala fasilitas yang mendukung pelatihan kesabaran itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 02:45 pagi, tanda-tanda Ibu Kota Propinsi NTT itu belum juga terlihat. Aku tidur cukup pulas dengan menggunakan kantung tidurku. Aku terbangun dan melihat keluar, ternyata ada juga kapal lain dari kejauhan, kupandang kelangit yang terlihat hanya bulan sabit merah, dan kudengar juga lagu Dewa 19, kangen, versi once, ya cukup untuk menenangkan pikiran.

Setelah beberapa lama akhirnya sampai juga di Kupang, Ibu Kota Propinsi NTT. Hari masih gelap, penumpang sudah berhamburan turun, termasuk kami. Tujuan kami adalah Rote-Ndao, karena masih belum buka untuk pemesanan tiket, kami beristirahat di Pelabuhan Ferry (Pelabuhan Bolok), sambil menunggu untuk sarapan pagi juga sekaligus bersih-bersih badan dan perut juga.

Ternyata ada informasi kalau tujuan ke Rote dibatalkan karena gelombang mencapai tiga hingga empat meter. Kami terkejut seketika. Tersentak dan bingung menjadi sakit yang kami derita seketika. Ya, bingung harus mau bagaimana. Kami diam sejenak, berfikir dan mencoba mencari jalan keluar. Dan akhirnya kami menemukan satu jawaban bahwa kami memang harus makan dulu.

Setelah itu barulah otak kami dapat bekerja kembali setelah jet leg. Tertera dipapan informasi jadwal kapal. Ada ke Larantuka, ya, kami tidak ingin berlama-lama di Kupang karena memang bukan target tujuan perjalanan. Sementara menunggu keberangkatan kapal jam 3 sore kami memutuskan untuk pergi ke Kota, pertama semangat backpacker mengawali langkah, tidak lama kemudian mental menurun dan semangat api pudar. Kami akhirnya naik bemo, hehe.

Sampai di Kota ternyata lumayan sepi, karena hari minggu. Lalu kami naik bemo lagi untuk pergi ke kantor orang nomor satu di NTT, setelah berbicara dengan tukang sol sepatu dari Jawa yang sudah berada di Kupang puluhan tahun, ya ..ya..sungguh istikomah.

Bemo No. 02 kami tumpangi. Dan hal gila lagi kami lakukan. Jimmy tiba-tiba bilang berhenti, dan bemo pun berhenti, tapi dia hanya bercanda. Kami sontak kaget dan malu pastinya. Karena kami muka tembok kami tetap menahan malu untuk melanjutkan perjalanan. Dan kali ini aku sendiri yang bikin kebodohan.

Diawali dengan kesalahpahaman antara aku dan angga, aku salah terkait kator wali kota dan kantor gubernur harus naik bemo nomor berapa. Entah apa yang ada dipikiranku aku berfikir bemo yang dinaiki salah. Dan aku bilang untuk berhenti. Kali ini benar-benar berhenti dan kami turun.yang lain pada bingung. Aku hanya tertawa.

Ternyata bemo yang dinaiki benar. Dan karena ulahku kami harus cari lagi bemo yang sama. Haha. Setelah ketemu, dan naik, akhirnya sampai juga di kantor gubernur yang tua dan tidak terurus kelihatannya berbanding terbalik dengan rumah dinas gubernur yang melebihi istana raja.

Kami tidak berlama-lama karena harus mengejar kapal ke larantuka. Sesampinya di pelabuhan, kami dipalak oleh supir bemo sialan gendut. Dipelabuhan orang sudah tumpah ruah, kendaraan juga demikian ditambah panas. Setelah tiket ditangan, kami ikut mengantri didepan pintu masuk, dan mata-mata jahil mulai beraksi, ibarat sensor infrared mata kamera mulai mencari mangsa, hehe, dapat juga ternyata.

Lalu ada pengumuman, bahwa besok akan ada kapal menuju Rote. Kami kaget dan berusaha untuk mencari kebenaran info itu. Angga bergegas menuju ke dalam. Dan ternyata memang ada. Untunya lagi tiket dapat dikembalikan, dan whhuuuoooo. Besok menuju Rote-Ndao. Kami bisa istirahat dengan sunset di pelabuhan bolok Kupang yang indah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s