Ketika fajar

 

Bono, seorang pria yang malang. Nasibnya terkatung-terkatung. Hidup menyendiri karena merasa di sendirikan dari hidup. Perantau yang tak kuasa menahan tangis saat melihat langit yang luas. Seorang yang masih dalam pencarian jati diri. Seorang pria malam, ya, Bono seorang pria malam. Seorang musafir yang hilang arah karena ingin dengan tidak sadar ia lakukan. Itu salahnya, fikirnya, batinnya menyeruak, kalau semua ini karena ia sendiri.

Suatu ketika, pada hari dan malam yang tak biasa. Malam tanpa bulan, yang ada hanya wajah seorang perempuan. Itu yang dilihat Bono. Ya, itu hanya Bono. Perempuan yang ia cintai. Malam itu, malam yang tak biasa bagi Bono. Bono, seorang penari jalanan.

Bono, melangkahkan kaki menuju tempat biasa ia mencari nafkah. Perempatan Sekar Mawar namanya. Karena itu daerah Sekar Mawar. Bono, yang telah dikenal sebagai penari jalanan, merubah rupa. wajahnya berbedak tebal dan bergincu, rambut di sanggul, sudah seperti perempuan tulen. Tak lupa jarik, dan kemban ungu, serta slempang ungu, benar-benar marubah rupa Bono.

Kini Bono, sudah siap untuk menjadi dirinya yang lain. Cantik seperti perempuan bangsawan Jawa, tapi menari ditengah temaram lampu perepatan Sekar Mawar. Dikala lampu Hijau, ia menari di pinggir, di kala lampu merah, ia menari di jalan. Menahan dirinya yang pria, ia menahan diri untuk menangis. Hanya senyum palsu yang tersirat, dari raut wajah.

Bono tidak perduli. Yang ia tahu hanya menari dan menyanyi. Demi sesuap nasi. Ia hanya berdoa dalam batin. Setiap langkah, suara, tarian cukup mengisi perut hingga esok. Tapi malam itu malam yang tak biasa. Bono tidak bersemangat seperti biasa. Bahkan melamun saat menari, hampir saja hilang nyawa karena tidak sadar lampu hijau. Suara klakson terdengar saling menyahutan bak seorang yang ditembak oleh puluhan orang dengan banyka jenis senjata.

Klakson berdentuman, keras sekali terutama dari arah mobil mewah orang berdasi yang menekan klakson berkali-kali dengan keras, dengan amarah. Mobil paling depan, berplat merah tidak ingin kalah dengan mobil yang tadi. Ibarat adu klakson dan ditambah dengan sinar lampu mobil. Bono kini, ibarat pelarian yang tertangkap oleh puluhan polisis, dan ditodong dengan senjata api dan ditembaki tanpa diadili. Bono hanya termangu melihat dan mendengar, bingung.

“Woy, bancil gila, mau mati kau ya?” teriak seorang pengendara motor. Disambut oleh seorang dari mobil mewah “woy bajingan, gila, setan, najis, mingiiiir”, di sahut lagi oleh dari dalam mobil plat merah “anjing, minggirr, kutabrak baru tahu kau”. Sementara hujatan dan teriakan semakin membabi buta seraya itu pula klason semakin mengeras. Akan tetapi ada yang nekat juga sebelumnya, terutama mereka yang cuek, menggunakan motor, karena berada pada posisi yang aman.

Suasana di lampu merah Sekar Mawar menjadi kacau. Disana tidak ada pos polantas. Bono tetap diam, temangu di depan sebuah beberapa motor di depannya dan juga mobil mewah dan plat merah berada di belakang motor yang dari tadi meghujat dengan klakson dan mulut mereka. Ia sekali lagi menatap ke langit, langit tanpa bulan, langit dengan seorang perempuan yang tak lain adalah dirinya.

Langit menjadi cermin betapa malunya dirinya, betapa hinanya dirinya, betapa lemahnya dirinya. Jauh-jauh merantau hanya menjadi perempuan palsu dan penari jalanan. Ia terduduk dan menangis, tidak perduli apa yang akan terjadi. “banci bego, gila” seorang pengendara motor nekat melewati disampingnya sambil mengarahkan kaki kepala. Motor yang lain juga menghujat, tapi tidak menendang.

Giliran mobil mewah dan plat merah yang lewat. Setelah melihat ruang kosong di samping kiri dan kanan, mereka seakan kompak membuka jendela sambil meludah. Hingga akhirnya ia duduk di zebra kros, sambil mehghirup asap kendaraan, dan juga marahan dari pengendara, serta tangisan.

Ia mencoba berdiri, lampu masih hijau, berjalan kepinggir tanpa perduli apa yang terjadi, hanya melihat kebawah saja. Sampai dipinggir, bedaknya telah bercampur asap kendaraan, ia batuk-batuk. Bono pulang, melangkah pelan, kepala tertunduk, tape recorder di cantengnya. Terus berjalan, malam sudah larut, bahkan sudah sepertiga malam. Ia masih berjalan.

Langkahnya terhenti. Tiba-tiba ia mendengar suara dari sebuah rumah tua hampir rapuh. Suara seorang pria yang sedang melantunkan ayat suci al-qura’an. Ia mendekat ke rumah itu dan berdiri di luar jendela. Suara yang menyejukkan hati. Lantunan ayat suci al-qur’an yang benar-benar mengiris hati.

Ia menangis kuat tapi tetap ditahan, dan memukul-mukul dada dan kepala. Terduduk lagi. Bangkit lalu, menghapus bedak. Berlari menuju rumah rongsok, berganti pakaian. Menjadi pria lagi. Ketika itu masih fajar. Ia bergegas ke musholla, berwudhu, lalu sholat. Dan setelah itu adzan. Waktu telah tiba. Warga menuju musholla dengan penuh heran, siapa yang adzan, indah sekali. Saat tiba, mereka kaget, meliat tubuh Bono terbaring dan tak bernyawa dengan tersenyum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s